Pesawat Catalina RI 005, Bukti Sejarah Perjuangan Rakyat Jambi

KILAS JAMBI – Banyak bukti sejarah perjuangan rakyat Jambi dalam membela kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satu yang masih bisa dilihat adalah pesawat Catalina RI 005.

Dengan melihat pesawat ini, kita bisa mengetahui bagaimana kerasnya para pejuang melawan penjajah. Berdiri tegak di halaman Museum Perjuangan Rakyat Jambi, Catelina RI 005 mudah ditemui. Lokasinya tepat di sebelah selatan Masjid Agung Jambi atau Masjid Seribu Tiang.

“Catalina RI 005 merupakan salah satu tonggak sejarah perjuangan rakyat Jambi dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada 1948, saat Indonesia kembali dijajah oleh tentara Belanda yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda II,” urai Helmiyeti, Kasi Pengelolaan Data Koleksi Museum Perjuangan Rakyat Jambi, Sabtu 17 Agustus 2013.

Ia menceritakan kedatangan Belanda ke Jambi telah diketahui Kepala TNI Sub Territorium Djambi (STD) Kolonel Abundjani. Lalu, Abundjani memiliki gagasan untuk menyerang pangkalan udara Belanda di Talang Sumut, Palembang. “Dengan adanya rencana ini maka timbul gagasan Kolonel Abunjani untuk memiliki pesawat. Kemudian hadirlah pesawat Catalina 005,” kata Helmiyeti.

Catalina RI 005 semula merupakan pesawat milik RR Cobley, seorang mantan penerbang RAAF (Royal Australia Air Force) dalam Perang Dunia II. Para pejuang menyewa pesawat ini dari Cobley setelah mereka bertemu di Bangkok. “Pada kesempatan inilah Cobley menawarkan untuk menyewakan pesawat pribadinya kepada pemerintah RI guna membantu perjuangan kemerdekaan,” dia menjelaskan.

Oleh pemerintah RI, nomor register pesawat itu langsung diganti menjadi RI 005. Untuk pertama kalinya Cobley mendaratkan pesawat amfibi ini di Danau Tulung Agung, Jawa Timur, pada tahun 1947. Pada 1948, Catalina 005 diterbangkan ke Sumatera dan mendarat menggunakan berbagai pangkalan air seperti di Sungai Batanghari.

Tugas yang diemban Catalina RI 005 antara lain adalah untuk menghubungkan komando militer dengan Komandemen Sumatera di Bukit Tinggi serta pemindahan perwira-perwira tinggi dan menengah dari Yogyakarta, termasuk pengiriman barang-barang untuk kebutuhan militer di Yogyakarta.

“Pesawat ini membawa makanan, pakaian, dan perlengkapan militer dan sipil. Selain itu juga sebagai penghubung antara Kota Jambi dan kota lainnya seperti Bukit Tinggi, Prapat, Banda Aceh, Tanjung Karang, Yogyakarta, serta Singapura,” ujar Helmi.

Namun, rencana awal pesawat ini digunakan untuk menyerang pangkalan udara Belanda di Talang Sumut, Palembang, tidak terlaksana karena kerusakan mesin. Saat Belanda berhasil menduduki Jambi pada 29 Desember 1948, para pejuang berusaha memindahkan pesawat ini dari Sungai Batanghari menuju Singapura untuk mencegahnya jatuh ke tangan Belanda.

Dengan hanya mengandalkan satu mesin, Cobley beserta mekanik Jon Londa dan seorang penumpang, Prangko, menuju Singapura untuk menyelamatkan diri sekaligus melengkapi suku cadang mesin yang rusak.

“Pada saat itu, sekitar pukul 18.30 WIB, karena salah satu mesinnya rusak, pesawat jadi tidak seimbang dan menabrak kapal tongkang yang sengaja ditenggelamkan melintangi sungai sebagai upaya mencegah masuknya Belanda ke pedalaman Jambi. Akibatnya, sayap pesawat patah dan tenggelam ke sungai,” dia mengisahkan.

Dalam kecalakaan ini pilot RR Cobley dan mekanik Jon Londa meinggal. Sedangkan Prangko yang juga Kepala Tata Usaha Markas Pertahanan Surabaya, selamat.

Walaupun hanya bertugas dua tahun, kehadiran Catalina RI 005 dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di Jambi dipandang penting.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1991 muncul gagasan untuk mencari reruntuhan pesawat Catalina RI 005 dari dasar Sungai Batanghari. Ide itu didukung Gubernur Jambi saat itu, Abdurrahman Sayuti.

Patahan badan pesawat, seperti sayap, mesin, dan lainnya ditemukan dari dasar sungai, dari kedalaman lumpur delapan meter. (Ramond EPU)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts