Connect with us

Wisata

Pojok Kopi Dusun, Tempat Ngobrol Seru ala Kampung

Published

on

Pojok Kopi Dusun di Desa Muara Jambi

Lelah usai berkeliling menyusuri jejak peradaban kuno kompleks percandian Muarajambi, ada tempat yang perlu kalian kunjungi jika datang ke Jambi. Pojok Kopi Dusun namanya. Di tempat ini kalian bisa menikmati sajian kopi dusun atau kopi kampung sembari bercengkarama seru di bawah pondok.

Asri dan sejuk. Itu lah yang kalian rasakan ketika bertandang ke tempat ini. Angin sepoi akan mengembuskan lelah kalian. Pojok Kopi Dusun yang berada tepat di sekitaran kompleks percandian Muarajambi, atau tepatnya di Desa Muara Jambi, menjadi alternatif yang bisa dikunjungi.

Kalau pandemi Covid-19 benar-benar pulih, Pojok Kopi Dusun ini kudu masuk dalam list agenda kunjungan wisata kalian. Berikut ulasannya:

1. Konsep Pondok Ladang

Suasana di Pojok Kopi Dusun Desa Muara Jambi

Meski tak ada kesan mewah, Pojok Kopi Dusun ini sangat menarik dan memanjakan pengunjung. Pondok tersebut arsitektur bertingkat, semua bahan bakunya semua dari kayu. Di bawah pondok inilah menjadi tempat untuk bercengkrama dan menyeduh kopi.

Sesuai dengan namanya “pojok”, tempat ini memang berada di pojok dusun dan di pojok kompleks percandian Muarajambi. Menurut pemilik tempat ini, Subrata, konsep ini berawal dari ide pondok masyarakat di ladang.

Semua pondok ladang milik masyaraka di Desa Muara Jambi umumnya bertingkat. Jadi jika kalian tertarik dengan konsep pedesaan ala pondok ladang, tempat ini memang direkomendasikan untuk kalian kunnjungi.

2. Perabot Lawas ala Nyai Dusun

Nyai Fatimah, Sang Percakik Kopi

Radio tahun 80-an terpampang di sana. Selain itu ada pula teko blirik, gelas seng lawas terpampang di etalase dapur pondok. Semua perabot di pondok ini adalah perabot lawas yang digunakan masyarakat kampung dari dulu sampai sekarang.

Kopi yang diseduh di pondok tersebut juga menggunakan perabot lawas itu. Tak hanya itu, tungku angklo kayu bakar pun menjadi tempat untuk merebus air sebelum diseduh ke dalam gelas lawas. Aroma kopi langsung meruap sampai ke lubang hidung. Sajian kopi dusun siap disajikan dan diseruput.

3. Kopi Gula Aren

Adalah Nyai Fatimah, 65 tahun, yang menyeduh kopi di pondok itu. Bubuk kopi yang digunakan adalah kopi robusta. Kawan Traveler bebas memilih, bisa pakai gula atau tidak. Namun, direkomendasikan kalian untuk menggunakan gula aren sehingga rasa kopi akan terasa lebih manis alami.

Kopi yang disajikan Nyai Fatimah akan terasa lebih nikmat ngobrol  di bawah pondok dusun itu dengan tamabahan pisang goreng. Tenang, harganya sangat ramah di kantong. Satu cangkir kopi dijual Rp10.000 dan seporsi pisang goreng serta bakwan jagung juga dijual dengan harga yang sama.

4. Penduduk yang Ramah

Penduduk Usai Pulang dari Umo

Ngobrol santai di pondok dusun sembari menikmati sajian kopi terasa nikmat. Di tempat itu setiap pagi dan sore hari akan selalu dilintasi petani yang pergi dan pulang dari ladang. Petani perempuan yang lewat biasanya memanggul ambung (tempat terbuat dari rotan) dan mengenakan tengkuluk.

Penduduk di sana pun akan ramah menyapa Teman Traveler. Kalian bisa juga bercengkrama dengan masyarakat melayu di tempat itu. Sungguh sajian alami yang mungkin tak pernah didapatkan di wilayah perkotaan.

5. Peradaban Kuno

Tidak jauh dari Pojok Kopi Dusun, berdisi beberapa bangunan candi kuno. Namanya kompleks percandian Muarajambi yang peninggalan abad 7-12 Masehi. Jejak perdaban itu selalu ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai latar belakang.

Sejarawan abad modern menyimpulkan percandian Muarajambi adalah sebuah komplek percandian Hindu-Buddha yang terluas di Asia Tenggara yang luasnya mencapai delapan kali luas candi Borobudur. Komplek candi Muarajambi total memiliki luas 3.981 hektare

Sekarang sudah ada sebelas bangunan candi yang telah dilakukan ekskavasi dan pemugaran. Bangunan candi yang telah dipugar itu di antaranya adalah, Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Astana, Candi Kembar Batu, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Tinggi I, Candi Kedaton, Candi Teluk dan Candi Koto Mahligai.

 

credit foto: Gresi Plasmanto

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *