Connect with us

Jejak

Persaingan Ladang Minyak, Semua Bertumpu pada Ruas Jalan Jambi-Muaratembesi

Published

on

Jalan Tempino ke Plaju tahun 1936, sumber: Leiden

KILAS JAMBI – Jalan lintas Sumatera yang menghubungkan seluruh kota adalah warisan Belanda, semua bertumpu pada ruas jalan Jambi-Muaratembesi.

Tujuan utama membuat jalan, Belanda ingin memenangkan persaingan ladang minyak Jambi dengan Amerika setelah Perang Dunia I.

Lalu Belanda hendak menciptakan kebiasaan baru, transportasi darat yang ‘mematikan’ aktivitas sungai dan laut kita.

Setelah semua jalan rampung, Jambi terhubung dengan kota-kota besar di Sumatera. Jalanan pada 1920-an penuh sesak mobil. Terbilang 1.500 mobil kala itu.

“Belanda membangun 16 ruas jalan di Jambi. Yang pertama itu Jambi-Muaratembesi,” kata Peneliti Sejarah Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri, Dedi Arman, Sabtu (18/7/2020).

Jalan ini menghubungkan pelabuhan boom batu dan kantor Keresidenan Jambi dengan distrik Muaratembesi; daerah berkumpulnya rempah, emas dan karet.

“Mengapa jalan ini pertama dibangun? Sebagai tanda pergeseran dari transportasi sungai menuju darat. Kemudian untuk menghubungkan jalan lintas timur dan barat Sumatera,” kata Arman.

Peningkatan ruas jalan berarti peningkatan jumlah mobil. Pada tahun 1920-an semakin banyak mobil di Sumatra termasuk Jambi.

“Ada 1.500 buah mobil di Sumatra. Transportasi darat semakin diminati. Tahun 1930-an semakin banyak daerah yang bisa dilewati mobil,” kata Arman menjelaskan.

Apalagi dengan boom karet atau puncak keemasan harga karet sambung Arman banyak orang Jambi hidup mewah dan mampu membeli mobil.

Tahun 1937 saat harga karet booming. Pemilik kebun karet Jambi hidup mewah. Ada kisah orang Jambi yang dengan enteng membeli mobil seharga 600 gulden tunai.

Padahal saat itu kapal KPM dari Tanjungperiok mau berangkat ke Jambi, harganya 600 gulden dan itu dianggap sangat murah dan dibeli tanpa ditawar.

“Ini dimuat di koran Nieuwsblad voor 13 april 1937,” kata Penulis buku Biografi Sultan Abdulrahman Syah, Sultan Riau Lingga I itu dengan semangat.

Kala jalanan terhubung dan ramai, ada tiga jenis mobil di jalanan, yakni mobil penumpang, mobil pribadi dan barang.

Mobil penumpang dan truk ada yang dikelola dinas angkutan darat pemerintah kolonial. Ada juga pihak swasta. Pusat layanan bus Jambi di bawah jaringan autodienst Palembang.

Pembangunan jalan raya membuka akses bepergian orang Jambi ke Padang, Medan dan Palembang dengan waktu tempuh cepat ke kota dagang.

Jalan untuk Merebut Minyak Jambi

Persaingan untuk mendapatkan hak pengelolaan minyak di Jambi, antara Belanda dan Amerika kian sengit usai Perang Dunia I.

Sengketa Belanda dan Amerika Serikat terekam dalam berita koran The New York Times terbitan 10 Juli 1920. Beritanya berjudul: Djambi’s oil that has troubled international waters’.

Proses administrasi panjang terjadi sebelum pengeboran minyak pertama tahun 1922. Permohonan izin eksplorasi pertama kali diajukan tahun 1891.

Tarik ulur proses administrasi perizinan penambangan minyak di Jambi baru bisa dirampungkan tahun 1920-an, hingga ditunjuknya NV NIAM sebagai pengelola minyak di Jambi.

NIAM sahamnya 50 persen dimiliki oleh pemerintah Belanda, dan 50 persen lagi saham milik Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM).

Modal awal NIAM dalam mengelola minyak di Jambi sebesar 10 juta gulden, sebut Arman, penulis buku, Adat Perkawinan Bintan Buyu itu.

Keberadaan minyak pada periode tahun 1922-1948 tidak memberikan dampak sosial ekonomi yang besar bagi Jambi. Sumbangannya hanya jalan sepanjang 92 kilometer dari Jambi ke Muaratembesi.

Itupun NIAM hanya menanggung tiga perempat biaya pembangunan, sisanya menggunakan uang hasil karet. Selain itu, NIAM juga membangun landasan bandara di Paal Merah, Jambi tahun 1937.

Kondisi ini juga dikeluhkan Residen Jambi, V. E Korn. Dari dua juta gulden keuntungan minyak Jambi tahun 1935 yang dikeruk NIAM, tidak ada satu sen pun masuk ke Jambi.

Kondisi Jambi, pada masa itu selain minim kontribusi dalam pembangunan infrastruktur, pekerja di sektor perminyakan ini juga orang dari luar Jambi.

Tahun 1929, pengeboran minyak di Jambi menyerap 2.400 pekerja. Umumnya mereka dari Jawa, dan ada juga dari Palembang dan Minangkabau.

Orang Jambi lebih suka menjadi majikan di kebun karet ketimbang bekerja jadi pekerja perusahaan minyak Belanda. Kondisi ini terjadi hingga tahun 1940-an, jumlah penduduk pendatang dari Minangkabau, Palembang, dan Jawa makin ramai datang ke Jambi untuk bekerja di perusahaan perminyakan.

Memasuki paruh kedua abad XX, Pemerintah Kolonial Belanda mulai meluaskan pengaruhnya ke luar Jawa. Salah satu wilayah di Sumatra yang mulai mendapat perhatian serius adalah Jambi.

Sebagian upaya dari menguasai, Belanda tahun 1877-1879 mengirimkan ekspedisi ke Jambi.

“Ekspedisi yang terkenal dengan sebutan Midden Sumatra Expeditie (Ekspedisi Sumatra Tengah) tujuannya adalah untuk mengumpulkan pengetahuan tentang kondisi geografis dan masyarakat Jambi,” kata Arman menjelaskan.

Jalan Mengakhiri Kejayaan Sungai dan Laut

Ekspedisi Sumatera Tengah berpengaruh kuat dengan keputusan membangun jalan dan ‘mendaratkan’ orang Jambi dari sungai. Dengan alasan banyak sungai yang tak bisa dilalui sampai waktu tempuh lama dan menyelamatkan orang-orang pinggir sungai agar tidak ‘terkunci’ saat banjir.

Penulis Buku Sejarah Sungai Sumatera, Gusti Asnan menyebutkan sejarah jalan di Jambi dimulai sejak tahun pertama abad ke-20.

Pembangunan ruas jalan pertama dalam kurun waktu 1901-1907 oleh pemerintah Hindia-Belanda, dengan alasan membantu masyarakat yang ‘terkunci’ saat banjir menghantam aliran sungai Batanghari.

“Alasan lain, dari tahun 1913 sampai 1920-an kolonial mengalihkan status jalur Batang Tembesi dari Pauh sampai Sarolangun sebagai ‘niet immer bevaarbar’ (tidak selalu dapat dilayari). Jadi perlu jalan darat,” kata Asnan.

Fase kedua dimulai lagi tahun 1913. Pada saat inilah, berkaitan dengan rencana penyatuan kota se-Sumatera melalui jalan raya.

Pembangunan ruas jalan di Jambi dijadikan sebagai bagian dari ruas Jalan kawasan selatan Sumatera. Pada fase kedua ini lebih 100 km jalan yang dibangun, ditingkatkan mutunya.

Sesungguhnya orang Jambi ahli transportasi sungai dengan perahu dan kapal, tetapi Belanda membuka jalan darat.

Dari segi perspektif lain, sambung Asnan, kita tafsirkan, tujuan kolonial ingin ‘mendaratkan’ orang Jambi khususnya dan orang Indonesia pada umumnya.

“Ingin ‘mematikan’ aktivitas sungai dan laut orang kita,” kata penulis buku Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera itu.

“Pola-pola mengatakan jalur sungai ndak bisa dilayari, itulah gaya pejabat kolonial tempo dulu,” tutup Guru Besar Sejarah di Universitas Andalas ini. (swd)

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *