Connect with us

Jejak

5 Pelajaran Hidup dari Hutan ala Val dan Vero

Published

on

Masyarakat urban dapat berkontribusi terhadap pelestarian hutan dengan mengadopsi pohon di Hutan Nagari Sungai Buluh, Jambi. (Foto: Hutan Itu Indonesia)

 

Christian Natalie, yang akrab disapa Tian, Manajer Program Hutan Itu Indonesia, bercerita, setiap wisata alam memiliki pesona tersendiri, termasuk hutan, sehingga menarik masyarakat urban untuk datang.

“Ditambah lagi, anak muda urban sangat akrab dengan media sosial. Dengan membuat konten kreatif, seperti mengunggah cerita atau foto traveling, kita juga membantu mempromosikan tempat wisata alam dan produk lokalnya, sekaligus melestarikan alam,” kata Tian.

Setiap perjalanan punya cerita dan pelajaran tersendiri. Berbagai pelajaran dari alam bisa kita petik. Seperti semboyan “Alam Tekambang Menjadi Guru”, bahwa alam bisa menjadi guru.

Dan untuk menyambut Hari Hutan Internasional yang diperingati setiap 21 Maret, Val, Vero, dan Tian berbagi pelajaran hidup dari alam:

1. Hutan adalah sumber oksigen

Ketika jalan-jalan ke hutan, satu hal yang paling disenangi Val dan Vero adalah bisa menghirup udara segar yang sulit sekali didapat di perkotaan.

“Karena terlalu banyak urusan atau deadline, orang yang tinggal di kawasan urban mungkin lupa, ketika mereka sedang bekerja, pada saat yang sama mereka juga sedang menghirup oksigen. Mereka pun lupa bahwa oksigen itu bersumber dari hutan. Kalau hutan mulai berkurang, percuma, kan, kita cari uang banyak, tapi nantinya tak bisa dinikmati karena ke mana-mana harus pakai tabung oksigen?” kata Val and Vero.

Tian menambahkan, “Sebagai sumber oksigen, maka kita merasakan udara di hutan lebih segar dan paru-paru jadi lebih ringan, ketika jalan-jalan ke hutan. Kita harus bangga, karena setengah dari daratan Indonesia merupakan hutan. Karena itu, hutan perlu dijaga agar semua makhluk hidup, termasuk manusia, dapat tetap bertahan hidup.”

2. Manusia perlu turun tangan membantu alam

Saat ini Val dan Vero sedang berkampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa masalah banjir harus diselesaikan sampai ke akarnya. Bukan sekadar naturalisasi sungai atau membuang sampah pada tempatnya, karena solusi tersebut tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh.

Menurut keduanya, yang merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (Val dari jurusan Bioengineering dan Vero dari jurusan Mikrobiologi), yang paling bisa menangkal banjir adalah akar pohon. Karena itu, mereka mengajak masyarakat untuk mengadopsi bibit pohon melalui https://lindungihutan.com/valerieveronikatwns.

“Kami ingin sekali mengajak teman-teman untuk bantu menjaga hutan bertepatan dengan Hari Hutan Internasional ini. Bukan hanya menikmatinya, tetapi juga berkontribusi untuk pelestarian hutan yang sangat penting untuk kita dan semua makhluk hidup di hutan. Jangan take it for granted. Kita harus berkontribusi. Semua orang bisa, kok, berkontribusi, sekecil apa pun,” kata Vero.

Tian menanggapi, di masa mendatang apa yang dilakukan Val dan Vero sangat berarti bagi hutan. “Ketika nantinya bibit-bibit itu tumbuh menjadi pohon-pohon besar, dan kemudian hutan menjadi lebat, hutan itu akan menampakkan pesonanya. Saat sesuatu memiliki pesona, pasti, kan, akan kita jaga agar pesona itu tidak hilang,” kata Tian.

3. Traveling ke hutan berarti membantu komunitas sekitar

Val dan Vero (Foto: Hutan Itu Indonesia)

Masyarakat urban bisa membantu pelestarian hutan dengan aksi nyata yang menyenangkan, yaitu traveling. Pilihan traveling cukup beragam, salah satunya ekowisata. Selain melihat langsung kehidupan satwa, misalnya orang utan, kita juga bisa meninggalkan jejak yang baik.

“Jejak itu berupa kesejahteraan masyarakat setempat. Kita bisa tinggal di rumah masyarakat setempat dalam program homestay, membeli makanan dan minuman di sana, menggunakan jasa porter dari warga desa, atau membeli suvenir buatan mereka,” kata Tian, menguraikan.

Val dan Vero bercerita, “Selain bisa mengenal alam lebih jauh lagi, kita juga bisa membantu masyarakat sekitar. Kami lebih suka mengunjungi taman nasional atau pusat konservasi daripada kebun binatang. Karena, wildlife kebun binatang tidak seperti di habitat aslinya.”

4. Hutan kita penuh pesona

Beberapa kali naik gunung bareng, Val dan Vero sangat terkesan akan keindahan lereng Gunung Semeru, tepatnya area Ranu Kumbolo. “Bagus sekali! Kami dan banyak pendaki lain berfoto di sana. Mau banget rasanya kembali ke sana. Belakangan ini kami juga senang foto-foto di air terjun,” kata mereka.

“Air terjun pulalah yang kerap dicari anak muda ketika ke hutan. Dan di hutan-hutan Indonesia memang banyak sekali terdapat air terjun atau curug yang cantik, yang airnya berlimpah. Ini pertanda bagus. Jika hutan telah berubah fungsi, limpahan air bukan menjadi air terjun, melainkan menjadi banjir. Air terjun ada karena hutannya terjaga dan terlindungi. Artinya, hutan itu juga sedang menjalankan perannya dalam mencegah peningkatan emisi karbon, yang dapat menyebabkan perubahan iklim,” kata Tian.

Di samping itu, pesona hutan Indonesia tak hanya terletak pada keindahannya. Hutan juga menyimpan ratusan rempah dan bahan pangan, seperti madu, pala, kacang-kacangan, dan berbagai tepung, juga berbagai bahan alami yang bisa digunakan untuk membuat produk keseharian, seperti pakaian dan tas. Kalau ingin tahu lebih banyak tentang hasil hutan bukan kayu, bisa cek di hutanitu.id/pesonahutan. Mulai 21 Maret 2021, Hutan itu Indonesia melalui media sosialnya mengajak siapa pun untuk memakai tagar #pesonahutan supaya semakin banyak orang cinta dan jaga hutan Indonesia.

5. Ketika berada di alam, orang harus bertanggung jawab

Melihat begitu banyaknya sampah bertebaran di hutan dan gunung, Val dan Vero mesti berpikir ulang, jika mengajak orang ke sana. Mereka khawatir, orang yang diajak termasuk orang tak bertanggung jawab yang akan makin mengotori alam. “Sedih banget lihat sampah di mana-mana. Harusnya mereka didenda, ya. Perokok pun sembarangan membuang abu dan puntungnya,” kata pecinta pantai yang tak ragu menegur baik-baik para pembuang sampah ini.

“Meminimalkan sampah merupakan hal paling mendasar yang perlu menjadi perhatian agar tidak mencemari lingkungan, termasuk air terjun yang airnya banyak digunakan oleh warga desa di sekitar hutan. Misalnya, air terjun di Hutan Simancuang, Sumatra Barat, yang digunakan sebagai air bersih. Air itu ditampung lalu disalurkan ke rumah-rumah tanpa filtrasi. Karena itu, kita jangan membuang sampah dalam bentuk apa pun,” kata Tian.

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *