Asa Tak Berujung Siswa SDN 71 Keranggan Menunggu Pasokan Listrik

KILAS JAMBI РSudah 76 Tahun Indonesia Merdeka,  namun PR petinggi negeri ini masih menggunung terutama persoalan hak-hak dasar yang harus diperoleh warga negara. Sebagian warga terlebih yang hidup di pelosok nusantara belum sepenuhnya menghirup kemerdekaan, fasilitas seperti pasokan listrik dan air bersih belum mereka nikmati. Apalagi bila yang merasakannya sebuah lembaga pendidikan milik pemerintah.

Inilah yang dialami SD Negeri 71 Keranggan, Kabupaten Muarojambi, berdiri sejak tahun 1977. Artinya 44 tahun sudah, sekolah dasar plat merah ini belum sama sekali mendapatkan aliran listrik dan air bersih, ketiadaan dua komponen ini akan mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar.

Selayaknya sebuah sekolah, terutama sekolah negeri milik pemerintah, listrik dan air mestinya tersedia dengan baik. Sebab tanpa adanya listrik dan air bersih tentu banyak hal yang mestinya bisa kita lakukan menjadi terhambat.

“Sekolah sangat membutuhkan listrik, apalagi di saat pembelajaran yang serba online di masa pandemi seperti sekarang dan air bersih untuk mencuci tangan,” kata Kepala SDN 71 Keranggan, Hasan Basri.

Baginya, pasokan listrik sangat dibutuhkan segera, sebab berkemungkinan ujian anak kelas VI bulan Oktober nanti harus berbasis MBK (Manajemen Berbasis Komputer).

Sebenarnya 21 tahun lalu, tepatnya pada tahun 2000, pihak sekolah telah mengusulkan sarana dan prasarana, termasuk listrik ke Dinas Pendidikan Muarojambi. Namun, hasilnya nihil.

“Dana untuk pendidikan juga tidak ada, sempat juga kita ajukan ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi tapi tidak bisa juga,” kata Hasan, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Di tahun ini, pihaknya kembali mengajukan fasilitas air bersih dan aliran listrik ke Pemkab Muarojambi, “Bagaimanapun Sekolah Dasar Negeri 71 ini harus dapat,” katanya.

“Sarana dan prasarana selama 14 tahun saya mejadi kepala sekolah itu tidak ada pernah turun,” tambahnya.

Padahal, kata Hasan, jarak sekolah ini dari desa terdekat yang telah teraliri listrik hanya berjarak sekitar 2 Km.

Air bersih juga sangat diperlukan, karena di masa pandemi Covid-19 pihak sekolah harus memperhatikan kesehatan anak didik, untuk keperluan mencuci tangan.

“Sebab kita pembelajaran dengan tatap muka,” kata Hasan.

“Untuk belajar daring banyak faktor yang harus dipertimbangkan, masalah jaringan dan tidak semua anak didik kita punya untuk bisa belajar daring,” katanya menjelaskan.

Perjuangan SDN 71 Keranggan untuk memperoleh aliran listrik dan air bersih juga mendapat dukungan dari pihak desa. Bahkan, pemerintahan desa Keranggan telah menyiapkan lahan jika sekolah harus dipindahkan ke tempat yang lebih terjangkau instalasi listrik.

“Memang dari awal dibangun sampai sekarang sekolah tersebut belum pernah ada listrik, kami dari pihak desa bahkan sudah menyiapkan tanah di dekat pemukiman warga untuk memindahkan sekolah itu, kalau memang listrik tidak bisa juga terjangkau di tempat yang sekarang,” kata Tarmizi, Kades Keranggan.

Untuk mencapai SDN 71 Keranggan, dari pusat Kecamatan Sekernan hanya diperlukan waktu perjalanan sekitar 30 menit, melalui jalur air dengan menyeberangi sungai.

Sedangkan melalui jalur darat, waktu yang ditempuh akan lebih lama sekitar 2 jam perjalanan, karena akan banyak melintasi beberapa desa, yang jalan masuknya melalui Desa Berembang. (yat)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts