Komoditi Kopi Jambi Mendunia, UMKM Bergeliat Hingga Serap Tenaga Kerja Difabel

Sofyan merupakan penyandang disabilitas tuna rungu. Namun ia memiliki kemampuan untuk menjadi seorang barista dan roaster. Sofyan merupakan salah satu tenaga kerja difabel yang bisa diberdayakan dari sektor hilir kopi, foto: Riky/kilasjambi.com

KILAS JAMBI – “Jangan kasihani kami,” ucapan dan penegasan yang terlontar dari lisan Sofyan dengan menggunakan bahasa isyarat, saat mengikuti kelas barista angkatan #21 di Etalase Foundation, Telanaipura, Kota Jambi, pada Oktober 2022 silam.

Andi Sofyan Hadi, 33 tahun, merupakan difabel tuna rungu. Meski begitu, ia tak meminta perlakuan khusus dibanding peserta normal lainnya, hanya dari sisi komunikasi yang membedakan. Ia meyakinkan trainer bisa untuk mengikuti semua materi kelas.

Kini setelah tiga tahun berlalu, pemuda asal Makassar ini sudah mahir dalam menyeduh kopi. Bahkan, Sofyan juga memiliki kemampuan sebagai roaster. Dan untuk melakukannya, dua kemampuan ini seharusnya mengandalkan indera pendengaran. Tapi Sofyan tak menyerah, ia beradaptasi dengan memanfaatkan getaran pada mesin espresso dan roasting yang dijadikan semacam sensor untuk mendukung kemampuannya.

Sofyan unjuk kebolehan saat ditemui di galeri Etalase Foundation, Kamis siang (18/9). Kami memintanya untuk meracik kopi latte. Dirinya terlihat cekatan mengoperasikan mesin grinder untuk menghaluskan kopi.

Selanjutnya ia beralih ke mesin espresso, tak terlihat canggung. Mulai dari menyiapkan double shot espresso, lalu men-steam susu untuk menghasilkan tekstur microfoam (buih susu yang halus dan lembut) hingga sampai proses flushing. Ekeskusi terakhir, ia berkreasi membuat latte art. Soal rasa, boleh diadu dengan racikan barista profesional lainnya.

Begitu pula saat meroasting. Lagi-lagi ia mengandalkan getaran mesin penyangrai kopi sebagai sensor untuk mendeteksi first crack—suara retakan pertama yang dikeluarkan oleh biji kopi, yang merupakan tahap penting dalam proses pemanggangan green bean.

“Untuk hasil sangrai yang konsisten, saya akan menggigit biji kopi setelah selesai diroasting,” kata Sofyan yang berkomunikasi melalui aplikasi bantu di gawainya.

Selain memiliki kemampuan sebagai barista, Sofyan juga bisa meroasting kopi. Ia memanfaatkan getaran pada mesin roasting yang dijadikannya semacam sensor untuk proses pemanggangan green bean yang sesuai standar, foto: Riky/kilasjambi.com

Selain Sofyan, difabel alumni kelas Etalase Foundation adalah Ahmad Nabil, 28 tahun, keterbatasan fisik justru menjadi pelecut semangatnya untuk berwirausaha dengan menjajakan kopi keliling menggunakan motor roda tiga. Ia merintis usahanya sejak tahun 2020.

Ia memilih kopi sebagai usaha karena minuman ini digemari beragam kalangan, dalam menjalankan usahanya, Nabil tak sendirian, ia ikut melibatkan dua teman difabel lainnya.

Selain varian kopi, Nabil juga menyediakan menu sederhana serta aneka jajanan, “Kalau menu, kopi gula aren yang paling banyak diminati,” kata Nabil.

Ahmad Nabil (tengah) membuka usaha sendiri yang menu utamanya kopi, ia turut memberdayakan teman-teman difabel lainnya dalam berwirausaha, foto: IG ahmadnabil887

Owner Etalase Foundation, Edi Apriyanto mengatakan, pekerja difabel seperti Sofyan dan Nabil justru punya keinginan yang kuat untuk lebih mandiri.

Ia pun menceritakan bagaimana cara unik Sofyan bisa meroasting. Sebab menurutnya, pekerjaan sebagai roaster memiliki sensitivitas yang tinggi terutama melalui indera pendengaran.

“Dengan kapasitas mesin roasting 1,2 gram, saat meroasting satu kilogram biji kopi, Sofyan setidaknya membutuhkan delapan kali pemanggangan dan itu hasilnya konsisten. Meski tak bisa mendengar, ia hanya mengandalkan getaran mesin,” kata Edi.

Edi meyakini Jambi sebagai lumbung kopi dan ditambah dengan melonjaknya permintaan ekspor menjadikan sektor hilir kopi akan menyerap tenaga kerja yang signifikan. Mulai dari barista, waiters, roaster, cupper, dan kasir.

“Dan tentu saja akan bisa mengakomodir tenaga kerja dari kelompok difabel, seperti yang sudah kita lakukan,” katanya.

Edi yang juga menahkodai Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) Provinsi Jambi mengatakan, menjamurnya coffe shop di Jambi sangat mendukung ekosistem perkopian dari hulu hingga hilir.

Dari catatan Dekopi, ada sekitar 200 gerai kopi untuk di Kota Jambi dan ada 60 lainnya tersebar di 10 kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Baik kategori waralaba, komersil, specialty hingga kekinian. Dengan kebutuhan tenaga kerja setidaknya tiga orang di tiap gerai kopi.

“Contohnya gerai kopi kekinian menggunakan boks kontainer itu kan paling sedikit 2-3 orang pekerja. Bila waralaba bisa mencapai belasan orang,” katanya.

Untuk mempersiapkan tenaga kerja yang layak pakai untuk sektor hulu-hilir kopi, Etalase Foundation sejak tahun 2019 telah membuka kelas, sudah sekitar 40 angkatan yang berjalan.

“Sekitar 60 persennya yang kita latih untuk barista, serta ada dua angkatan khusus untuk difabel jumlahnya sekitar 27 orang, bagi difabel kelasnya gratis,” kata Edi.

Selain barista, Etalase juga membuka kelas roastery. Sementara untuk sektor hulu pelatihan diberikan bagi petani dengan materi budidaya kopi dan kelas prosesor. Etalase juga bekerja sama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk bekal peserta masuk ke dunia kerja.

“Jadi mereka bukan hanya kita latih skill saja, tapi knowledge, attitude, sampai service,” kata Edi.

Sistem Resi Gudang

Dekopi saat ini gencar mendorong pemerintah untuk membuat sistem resi gudang layaknya Bulog, supaya petani memperoleh kepastian tempat suplainya dan di hilir ada jaminan kepastian bahan baku.

Edi mengatakan, dengan adanya resi gudang juga bisa mempertemukan antara buyer dengan petani sesuai dengan grade kopi yang dicari. “Jadi mudahnya ada terminalnya lah,” kata Edi.

Bila ini diakomodir pemerintah, menurutnya, Jambi akan menjadi provinsi pertama yang menerapkan sistem resi gudang dan tentu akan menyerap tenaga kerja di pergudangan. Mulai dari buruh angkut hingga sopir.

Perkuat Literasi Hulu Kopi

Selain Etalase Foundation, Satuan Pelaksana Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Satpel PVP) Jambi Kementerian Ketenagakerjaan RI dalam dua tahun terakhir juga gencar memberikan pelatihan untuk barista.

“Kita buka pelatihan barista sejak tahun 2023, sudah ada 8 angkatan, termasuk untuk teman-teman difabel,” kata Abdallah, Penyelenggara Pelatihan Satpel PVP Jambi.

Ia mengatakan, pihaknya melihat saat kopi mulai booming dan coffe shop menjamur di Jambi, barista yang tersedia belum terlatih dan tersertifikasi.

“Sehingga kita penyelenggara pelatihan mengganggap ini sesuatu yang penting, harus segera memenuhi kebutuhan pasar yang membutuhkan barista profesional,” katanya.

Secara rinci materi yang diberikan Satpel PVP Jambi dalam pelatihan barista mayoritas masih soal meracik atau menyeduh kopi sampai bagaimana menyajikan kopi ke konsumen.

“Namun literasi tentang hulunya tetap kita perkuat,” kata Abdal.

Menurutnya, Provinsi Jambi boleh dibilang salah satu daerah lumbung kopi di Indonesia yang sangat berpotensi menjadi sumber penghidupan baik buat barista maupun petaninya, dan pemerintah daerah harus punya andil untuk mengintervensi dan merumuskan kebijakan terkait standar minimal upah bagi barista.

Tingginya kebutuhan akan tenaga kerja di sektor hilir kopi juga dirasakan betul oleh Arga Hatama, Pengelola Cafe Noka, di Kota Sungaipenuh. Saat ini ia mengkomandoi 15 orang karyawan untuk operasional. Mulai dari barista, kasir, waiters hingga kitchen.

Sudah 5 tahun beroperasi, Noka rata-rata bisa menghabiskan 9-10 kilogram kopi per hari baik jenis arabika maupun robusta, “Untuk sekelas coffeshop seperti kami itu sudah sangat tinggi.” kata Arga.

Kota Sungaipenuh sebagai daerah pariwisata di Jambi, memang menjadi penopang hidupnya bisnis gerai kopi di kota pecahan dari Kabupaten Kerinci tersebut. Sungaipenuh dan Kerinci merupakan dua daerah penghasil utama jenis kopi arabika sebagai komoditi ekspor andalan Jambi.

“Kami gunakan original produk kopi Kerinci, diambil langsung dari petani,” kata Arga.

Meski usahanya terus berkembang, Arga berharap pemerintah daerah kian aktif memberikan stimulus supaya sektor UMKM seperti coffeshop makin banyak menyerap tenaga kerja. Di hulu berupa pelatihan untuk petani dan prosesor, di hilir pelatihan untuk barista baik secara teknis maupun secara profesi, termasuk branding dan pemasaran.

Lalu bagaimana dengan sektor hulu kopi? Tri Yono, petani kopi dan Ketua Koperasi Koerintji Barokah Bersama mengatakan kelompok tani kopi khususnya di Kerinci semakin banyak. Menurutnya ini tentu akan membutuhkan tenaga-tenaga bantu.

Tercatat, petani yang bernaung di bawah Koperasi Koerintji Barokah Bersama saja sekitar 380 orang, dengan jumlah produksi kopi arabika 60-80 ton per tahun.

Produksi Kopi Provinsi Jambi

No

Jenis Kopi Jumlah Produksi (Ton)

Luas Kebun

1

Robusta

19.401

 

21 ribu hektare

2

Arabika

1.441

3

Liberika

2.365

                                                 Total:              23.207

Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Tahun 2024

Untuk sektor hulu, tenaga kerja yang bisa diserap selain petani adalah bagian penjemuran dan sortasi. dia setidaknya memberdayakan sekitar 20 orang untuk penjemuran dan sortasi hingga 60 orang yang pekerjanya mayoritas merupakan ibu-ibu muda dengan sistem upah borongan.

“Khusus untuk sortasi kita berikan upah Rp2 ribu per kilogram, kita sebenarnya bisa saja menggunakan mekanikal sortir tapi itu tidak kita lakukan,” kata Tri Yono, saat ditemui akhir Agustus lalu.

Bagian sortasi biji kopi salah tenaga kerja yang dibutuhkan di sektor hulu kopi, foto: Riky/kilasjambi.com

Meski dari sisi bisnis akan lebih efisien menggunakan mesin dari pada tenaga sortir, Namun ia lebih mengutamakan memberdayakan ibu-ibu yang membutuhkan tambahan pendapatan untuk keluarga.

Ada upaya lain yang dilakukan Tri Yono untuk lebih meningkatkan kesejahteraan petani kopi, pihaknya bekerja sama dengan Sucafina dan buyer membangun program PES (Payment for Ecosystem Services), untuk pembayaran jasa lingkungan.

“Mulai dari tahun 2022, setiap karung berisi kopi dengan berat 60 kilogram yang dijual, kita dapat imbalan satu bibit alpukat,” katanya.

Setiap tahun, mereka bisa memperoleh sekitar 1.200 bibit alpukat, lalu dibagikan kepada petani-petani yang menjadi mitra, ditanam tumpeng sari dengan kopi. Program ini menjawab soal kesejahteraan petani kopi yang mendapat nilai tambah ekonomis dengan budidaya alpukat.

“Kita berpikir apa yang bisa menambah pendapatan petani kopi dari sisi kebun yang sama, tidak mungkin ditumpang sari dengan tanaman holtikultura. Jadi, naungannya kita ganti dengan alpukat jenis hass,” kata Tri Yono.

Namun ada satu tantangan yang dihadapi Tri Yono, yakni pengetahuan petani tentang budidaya kopi yang masih rendah. Akibatnya tanaman kopi yang baru berusia lima tahun karena tidak dilakukan perawatan intensif, produksinya terus berkurang.

“Bagi petani yang pengetahuannya minim menganggap kopi tak berpotensi lagi, sehingga mereka mencabut batang kopi dan ditanam dengan bibit kopi yang baru,” katanya.

“Saat ini kita sedang melakukan rejuvinasi, kopi dipangkas dan dipelihara tunasnya, jadi kopi tidak harus dicabut dan ditanam ulang, pengetahuan ini yang sedang gencar kita berikan ke petani,” katanya menambahkan.

Ia pun berharap pemerintah memberikan tambahan stimulus dengan membuat kebun-kebun demplot dan sekolah-sekolah lapangan untuk petani, sehingga petani betul-betul memahami bagaimana merawat tanaman kopi.

Kopi arabika Kerinci yang sudah mendunia, berdampak kepada meningkatnya permintaan dari pasar Eropa, terutama Belgia, Belanda dan Jerman. Sedangkan pasar Asia tujuannya adalah Hongkong dan Dubai, sehingga kebutuhan tenaga kerja di tingkat lokal juga bertambah.

Belum lagi kopi jenis robusta Kerinci juga sudah mulai menyasar pasar perkopian di Indonesia, terutama ke wilayah Jakarta, Yogyakarta, serta Riau. Sehingga sangat diperlukan peningkatan kapasitas petani kopi.

Tri Yono, Ketua Koperasi Koerintji Barokah Bersama sejak tahun 2018 mendapat dukungan dari Bank Indonesia, kerja sama tersebut mampu meningkatkan produksi kopi arabika dari 40 ton per tahun menjadi 80 ton per tahun, foto: Riky/kilasjambi.com

“Jika kita sendiri tentu memiliki keterbatasan sumber daya dan biaya. Sementara pemerintah punya banyak perangkat mulai dari penyuluh lapangan hingga ketersediaan anggaran,” katanya. Namun ia mengatakan beruntung mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia berupa bantuan teknis dan peralatan pengolahan kopi.

Dirikan Sekolah Kopi

Sementara untuk memperkuat sektor hilir, Tri Yono sudah mendirikan sekolah kopi, pesertanya adalah anak-anak petani yang menjadi mitra Koperasi Koerintji Barokah Bersama, mereka diajarkan menjadi barista.

“Minimal mereka bisa nyeduh kopi yang benar, saya sendiri yang menjadi mentornya,” kata Tri Yono.

Tri Yono membuka kelas dengan sistem lima kali pertemuan di tiap akhir pekan (full day), tiap angkatan akan ada sekitar 20 orang peserta.

Sekolah kopi yang didirikan Koperasi Koerintji Barokah Bersama, foto: Riky/kilasjambi.com

Beberapa pengetahuan yang diajarkan adalah tentang roasting, brewing, kebaristaan, prosesing, baru budidaya. Terapan ilmu yang diutamakan adalah produk hilirnya.

Tri Yono yang sudah mengantongi sertifikat BNSP berharap dengan didirikannya sekolah kopi ini, peserta memaksimalkan potensi agrowisata di Kerinci sebagai daerah penghasil kopi. Targetnya bisa membuka usaha gerai kopi sekaligus menyajikannya. Padu padan antara sektor pertanian, UMKM dan wisatanya.

Dukungan Bank Indonesia Melalui PSBI dan WUBI

Bank Indonesia Perwakilan Jambi, sejak tahun 2018 sudah melihat potensi komoditi kopi Jambi sebagai penggerak ekonomi dan pendulang pembukaan lapangan kerja baru. Melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) dan Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI), BI Jambi gencar meningkatkan kapasitas petani dan pelaku UMKM.

Eva Ariesty, Plt Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi mengatakan, ada dua bentuk dukungan yang diberikan BI, pertama sifatnya berkelanjutan (cluster) dan kedua adalah isidental.

Ia menjelaskan, program cluster tidak boleh diberikan kepada individu dan harus lebih ke satu orang, misalnya kelompok tani.

“Untuk pengembangan cluster kita posisinya 3-5 tahun, setelah mereka mandiri baru kita facing out. Salah satunya kenapa kita memilih kopi, karena kopi ini komoditi unggulan Jambi yang berpotensi eskpor,” kata Eva, 16 September 2025.

“Kalau kita ekspor kan akan berefek pada pembukaan lapangan kerja baru serta peningkatan kesejahteraan petani,” kata Eva menambahkan.

Bantuan yang diberikan BI ke Koperasi Koerintji Barokah Bersama utamanya adalah bantuan teknis yang sifatnya seperti capacity building, peningkatan kompetensi berupa sertifikasi Q-Grader. Bantuan lainnya sarana berupa rumah jemur dan mesin pengolah kopi.

“Kalau satu kelompok tani sudah ada Q-Grader. Buyer akan lebih percaya dan bisa menaikkan harga kopi karena dianggap sudah dikurasi,” kata Eva.

Petani juga kompetensinya ditingkatkan dengan diajak studi banding ke petani kopi yang sudah sukses. Tak hanya sampai di situ, BI juga melatih pembukuan usaha, serta akses pembiayaan dengan bunga rendah melalui program yang ada di kementerian terkait.

“Kita juga fasilitasi bertemu dengan buyer dalam negeri maupun luar negeri,” katanya.

Terbukti stimulus yang diberikan BI bisa meningkatkan produksi kelompok tani di Koperasi Koerintji Barokah Bersama yang awalnya hanya 40 ton setahun menjadi 80 ton setahun.

Sementara untuk program isidental, BI bekerja sama dengan dinas terkait untuk memberikan pelatihan-pelatihan kepada calon tenaga kerja, agar mereka memiliki kompetensi yang memadai ketika masuk ke dunia kerja dan menaikkan nilai tawarnya.

Untuk UMKM seperi coffe shop, BI biasanya mendatangkan coach untuk membentuk dan membina pelaku UMKM secara intensif selama enam bulan, kemudian dimonitoring setelah pelatihan untuk melihat perkembangan usahanya, program ini juga membantu membangun jejaring UMKM.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts