Connect with us

Budaya

Kliping Makna; Memahami Berita di Media

Published

on

Kliping berita adalah satu cara untuk memahami proses sebab-akibat. Sebuah berita di beberapa waktu lalu, kemudian digabungkan secara berurut hingga berita terkini, dengan satu tema, akan membuat kita melihat berita sebagai kesatuan utuh, dan tidak berdiri sendiri. (credit tittle : sharekliping.blogspot.com)

Jon Afrizal*

Jika bicara sebab-akibat, maka itulah cara kita menghubungkan satu berita ke berita lainya. Agar, kita semua memahami esensi dari berita.

Kita kemudian akan bicara soal 5w plus 1h, sebagai rumusan populer dalam membuat sebuah berita di negeri ini. Tetapi, ada kekosongan diantaranya. Kosong, karena kita tidak berusaha menghubungkan antar berita terdahulu dengan berita terkini.

Terlebih, banyak dari kita hanya membaca berita sebagai tulisan yang tertulis, bukan memaknainya. Proses pemaknaan, hanya terjadi jika kita melihat berita sebagai kesatuan antar masing-masing berita, dan tidak melihat sebuah berita hanya sebagai sesuatu yang tunggal saja.

Cukup rumit, memang. Begitu caranya jika kita ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Ini sebenarnya adalah ilmu yang telah diterapkan sewaktu sekolah atau kuliah dulu. Ilmu itu disebut “kliping”.

Kliping adalah kumpulan potongan dari beberapa berita di koran, yang satu tema pemberitaan. Semisal, tentang seorang tokoh.

Tentunya, tidak hanya terdapat di halaman “politik” saja. Bisa saja di halaman “hiburan”, atau pun halaman “hukum”.

Selanjutnya, potongan-potongan berita itu disatukan menjadi satu buku, dan di sampul depannya diberi judul “Tokoh A”, misalnya.

Implementasi dari kliping koran, kini, tentu tidak sama. Sebab jaman telah beranjak digital.

Bisa saja, satu berita seorang tokoh disalin ke file word document dengan menyertakan link asal berita, tanpa mengubah sedikitpun isi dari berita.

Selanjutnya, setelah terkumpul cukup banyak berita tentang tokoh itu, dapat diubah ke file pdf. Ini agar ukuran file tidak terlalu besar, dan ringkas untuk “digenggam” di smartphone anda.

Dengan demikian, kita dapat memahami berita secara utuh. Seperti, misalnya, seorang tokoh yang didakwa korupsi.

Tetap dengan pola yang sama, pertama adalah meng-kliping berita saat ia melakukan kampanye politik. Selanjutnya, ketika mengulik internet, ketemu berita atau poto tentang si tokoh yang sedang makan malam dengan seorang pengusaha.

Lalu, mungkin berita soal ia dilantik, dan siapa saja yang hadir. Kebetulan, ada poto si pengusaha itu di sana.

Lalu, mungkin berita soal isterinya, yang kebetulan diwawancarai tentang anak mereka yang bersekolah di luar negeri.

Selanjutnya, bisa saja berita petugas berwenang yang menangkapnya karena dugaan korupsi. Kemudian berlanjut ke berita tentang persidangan si tokoh, yang kebetulan si pengusaha juga didakwa karena ikut andil atau berkerjasama.

Terakhir, bisa saja tentang vonis hukuman bagi si tokoh dan si pengusaha itu.

Akhirnya, jadilah sebuah rangkuman berita tentang, misalnya, keterlibatan seorang pengusaha dalam korupsi, karena ia mengenal tokoh itu yang kemudian menjabat satu jabatan penting.

Pola ini juga dapat kita gunakan untuk melihat tingkat kerusakan lingkungan di Provinsi Jambi, misalnya. Ini pun berlaku sama untuk “good news”, dan bukan melulu “bad news” saja. Seperti tentang tema peningkatan ekonomi kerakyatan, misalnya.
Cukup mudah, mungkin juga tidak. Yang jelas, butuh waktu yang tidak singkat, memang.

Sayangnya, era digitalisasi media, di sini, belum lama terjadi. Sehingga, kita tetap membutuhkan guntingan koran yang “kertas reces” itu, untuk beberapa kasus.

Akhir dari proses itu, adalah sebuah kesimpulan. Dimana kita akan melihat berita sebagai sebuah keutuhan, dengan menyambungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, yang berada dalam satu kesatuan tema yang utuh. Sila dicoba. ***

*Jurnalis TheJakartaPost

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *