Suara Penyintas HIV, Orang Malang yang Beruntung

Foto: ilustrasi

“Sehari sebelum menikah. Saya bicara empat mata dengan calon suami. Berat sekali. Sampai menangis. Tapi saya harus jujur dan tidak boleh bohong,” kata perempuan yang telah bergabung di Yayasan Kanti Sehati sejak 2015 lalu.

Setelah ia membuka statusnya, suaminya sempat gamang. Lantaran, suaminya telah mengetahui pekerjaan Murni di Yayasan Kanti Sehati, akhirnya dia pun yakin. Dengan percaya diri, lelaki itu mempersunting Murni.

Kala Murni diberikan kesempatan, maka tekadnya bulat. Dia hendak meruntuhkan stigma. Orang dengan HIV yang berumah tangga; akan membuat masa depan anaknya gelap dan memperpanjang mata rantai penularan. Ibu dengan HIV otomatis menularkan ke anaknya, itu kata orang.

Realitanya, kata Murni, sejak menikah pada 2018 lalu, dia membuat program anak secara terencana dan terukur. Sehingga melahirkan anak yang sehat, negatif HIV. Suaminya selama 4 tahun menikah tetap aman, tidak tertular.

“Kini usia anakku 4 tahun. Dia sehat dan lucu. Insya Allah, dia memiliki masa depan yang bagus. Dan punya peluang yang sama dengan anak lain,” kata Murni dengan suara bergetar.

Mengalami Masa-masa Kritis

Murni sempat mengalami masa-masa kritis pada 2013 lalu, usai divonis positif HIV. Bobot tubuhnya sampai turun 30 kilogram. Mulutnya sudah dipenuhi jamur. Namun perempuan paruh baya ini mampu melawan dengan mendapatkan keajaiban untuk sembuh.

Untuk menghindari stigma dan diskriminasi di lingkungan kerja, Murni memilih mundur dari pekerjaan. Selama setahun dia memulihkan kesehatan. Dukungan datang dari pendamping Yayasan Kanti Sehati.

Dengan dukungan itu, sambung Murni, dia akhirnya menyadari untuk menerapkan pola hidup sehat, kemudian terapi minum obat dengan disiplin dan terus berpikir positif. Kegigihan Murni membuat dirinya melewati masa-masa sulit.

Sebagai ibu rumah tangga dengan HIV, Murni akhirnya terjun di dunia pendamping untuk membantu penyintas yang lain. Pada 2015 dia menjadi relawan di Yayasan Kanti Sehati. Kala itu secara ekonomi dia cukup berat, karena sudah tidak bekerja.

Setelah melewati masa sulit, setahun berselang Murni diangkat menjadi pekerja di Yayasan Kanti Sehati. Pekerjaan baru ini membuatnya senang karena dapat membantu orang-orang dengan HIV.

Mengalami Penolakan

Tujuh tahun bekerja sudah banyak dia menemukan orang-orang dengan HIV, lalu mendorong mereka untuk menerima keadaan dan rutin terapi minum obat. Sempat banyak mengalami penolakan saat di lapangan, karena citra orang dengan HIV dipandang sebagian besar masyarakat sebagai sesuatu yang buruk.

Murni tetap mengajak ibu-ibu rumah tangga untuk memeriksa dirinya, terutama bagi mereka yang memiliki suami bekerja di kapal dan sopir. Target berikutnya adalah pekerja seks dan orang-orang yang melakukan seks berisiko seperti lelaki seks.

Selama mendampingi penyintas, Murni menemui ada banyak perempuan-perempuan yang putus asa, setelah mengetahui statusnya positif HIV. Rata-rata perempuan ini ketakutan persoalan jodoh. Sebagian anak-anak yang tertular dari ibu yang telah beranjak dewasa.

“Kita bimbing mereka. Dan kita pastikan HIV tidak akan menular kepada pasangan. Asal memiliki perencanaan yang matang. Saya ini contoh hidup. Memiliki suami negatif dan punya anak. Suami tidak tertular dan anak pun dua-duanya negatif,” kata Murni.

Banyak Pasangan HIV Hidup Bahagia

Dengan meneladani Murni, banyak perempuan-perempuan dengan HIV menemukan pasangan dan hidup bahagia. Punya anak dan tidak menularkan kepada suami dan anak. Hal ini disebabkan mulai dari mau menikah, perempuan-perempuan dengan HIV kita bimbing untuk minum obat.

“Kalau CD4 di atas 500 kemudian vira load atau virusnya tidak lagi terdeteksi, maka saat itulah waktu yang tepat untuk melaksanakan program membuat anak. Memang harus ada effort lebih untuk tes laboratorium kondisi tubuh,” kata Murni.

Meskipun sudah menikah dan tubuh dalam keadaan sehat, kata Murni, selain masa subur harus menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan intim. Kendati demikian, Murni pun mengandung dari hasil pernikahannya.

Selama hamil dia rutin memeriksakan dirinnya ke puskesmas untuk tes laboratorium vira load dalam darah, anestesi dan berusaha mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi dan vitamin.

“Memang berat tantangan saat hamil, karena harus minum obat. Sementara hormon tubuh kadang berubah-ubah dan memicu muntah. Tapi itu (minum obat) harus dilakukan untuk menjaga anak dalam kandungan tetap sehat,” kata Murni.

Selama 9 bulan dia mengandung, tibalah masa persalinan. Maka dia harus tetap menjaga kondisi tetap sehat dengan rutin minum obat. Murni melahirkan anak di rumah sakit secara caesar. Dia terus mendorong kepada perempuan dengan HIV, agar melahirkan dengan caesar agar lebih aman.

Setelah anaknya lahir, langsung dikasih makan obat ARV khusus untuk anak selama enam minggu setiap 12 jam. Untuk upaya pencegahan pertama ini, obatnya dalam bentuk bubuk. Usai usia enam minggu, anak diberikan antibiotik kotrimoxazol berbentuk sirup selama enam bulan.

Setelah diberikan obat, kesehatan anak terus dijaga. Jangan sampai memberikan air susu ibu (ASI) secara langsung, karena sangat berisiko terjadi penularan. Ketika memasuki usia 18 bulan, antibodi anak tidak lagi mengikuti sang ibu, menjadi waktu yang cocok untuk melakukan tes HIV.

“Saya waktu tes VCT anak itu sempat tegang. Khawatir hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Alhamdulillah. Anak saya saat dites hasilnya negatif,” kata Murni bahagia.

Kendati dirinya melahirkan anak negatif HIV dari rahimnya, Murni tetap bersedih. Sebab masih banyak perempuan-perempuan yang berada di daerah, terutama di tempat yang terisolir dan jauh dari akses pendampingan, masih ada yang melahirkan dengan kondisi anak yang positif HIV. (wendi)

Total
12
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts