Rimbo, Bungo, dan Dewo

Kondisi penyangga hutan Taman Nasional Bukit Duabelas di Sarolangun, Jambi. (kilasjambi.com/gresi plasmanto)

Piado rimbo, piado bungo. Piado bungo, piado dewo,” bait seloka ini diucapkan dari mulut Tungganai Basemen, tetua adat Orang Rimba di wilayah Air Hitam, Sarolangun, Jambi.

Seloka ini telah mereka kenal sedari nenek moyang dulu.

Kepada Fasilitator KKI Warsi Rusli, Basemen–Orang Rimba paruh baya itu mengartikan maksud dari seloko yang dia ucapkan. “Tidak ada hutan, tidak ada bunga-bunga,” kata Rusli yang mengartikan maksud dari seloko yang diucapkan Basemen tadi.

“Tidak ada bunga, maka tak ada dewa yang memberikan berkah bagi kehidupan.”

Tungganai Basemen saat ditemui di pondoknya. (kilasjambi.com/gresi plasmanto)

Begitulah petuah moyang Orang Rimba yang menggambarkan bahwa mereka sangat dekat dengan hutan. Bagi Orang Rimba kata Basemen, bait seloka ini memiliki makna amat dalam.

Dalam kosmologi Orang Rimba, hutan memiliki multifungsi dalam menunjang kehidupan mereka. Selain sebagai ruang hidup, hutan menyediakan sumber makanan. Bahkan keberadaan hutan juga menjadi medium untuk menghubungkan dewa-dewa.

Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) sangat bergantung pada hutan. Hutan bagi mereka seperti supermarket. Di dalam hutan banyak menyediakan sumber makanan dan ramuan obat.

Kelompok Orang Rimba saat berkumpul di bawah kebun sawit. Masifnya alih fungsi hutan membuat mereka tinggal di kebun sawit. (kilasjambi.com/gresi plasmanto)

Tapi kini hutan dan bunga yang menjadi tempat penghidupan musnah karena berganti komoditas monokultur. Pun demikian hutan di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) sudah sedikit menyediakan sumber pangan bagi komunitas mereka.

Orang Rimba sudah lama menjadi saksi eksploitasi hutan. Wajah mereka murung tatkala melihat rimba-rimba hilang ditebang. Alat-alat berat meraung dan keluar-masuk hutan.

Orang Rimba sejatinya adalah orang-orang yang bergantung pada hutan dan menggantungkan mata pencaharian dengan berburu dan mengumpulkan sumber daya hutan.

Kini di tengah ketiadaan rimba, mereka bertahan hidup di tengah ketidakpastian. Aktivitas sehari-hari mereka untuk mencari makanan dan penghidupan semakin susah. Hilangnya hutan semakin memperuncing persoalan kesehatan mereka.

Anak-anak Orang Rimba sedang bermain. (kilasjambi.com/gresi plasmanto)

Dalam beberapa tahun terakhir, Orang Rimba lebih rentan terhadap penyakit karena kehidupan yang terkontaminasi limbah industri perkebunan.

“Hutan habis, hutan tidak bisa memberikan perlindungan. Jadi penyakit mudah menyerang,” kata Basemen.

Luasan hutan sebagai sumber penghidupan dan tradisi Orang Rimba terus menyusut. Selain berdampak pada kesehatan, kondisi turut melemahkan kearifan lokal dalam memanfaatkan tanaman obat dari hutan.

Misalnya kata Basemen, dulu saat Orang Rimba sakit terkena malaria atau yang kerap disebut domom kuro, mereka tak perlu risau. Biasanya mereka selalu diobati dengan ramuan dedaunan yang berasal dari dalam hutan. Orang Rimba akan masuk ke hutan untuk mencari daun jerampang, berumbung, dan daun sungke.

Dalam sistem tradisional mereka, dedaunan tersebut bisa mengobati demam panas. Namun kondisi sekarang tanaman obat tersebut sudah sulit didapat.

“Dulu yang namonyo di rimbo segalo ado, kalau anak sakit diobati pakai tumbuhan obat, sekarang iko lah dak ado lagi,” ujar Basemen.

Selambai, warga Orang Rimba saat mencari singkong sebagai makanan karbohidrat mereka. (kilasjambi.com/gresi plasmanto)

Antropolog dari KKI Warsi Robert Aritonang menjelaskan, dalam kehidupan Orang Rimba banyak ditemukan tradisi yang kaitannya dengan ritual dan ramuan obat.

Hasil ekspedisi Biota Media pada tahun 1998 oleh IPB, LIPI, Universitas Indonesia, KKI Warsi, dan Departemen Kesehatan, menemukan ada 101 jenis tumbuhan dan 27 jenis cendawan berkhasiat obat.

Tak hanya ramuan obat tradisional. Orang Rimba dalam menangkal penyakit juga beragam ritual, salah satunya besale. “Mereka (Orang Rimba) kaya akan pengetahuan mereka sendiri dalam pengobatan, termasuk cara menghindar dari wabah penyakit mereka sudah ada caranya,” kata Robert dalam kesempatan sebelumnya.

Sudung, rumah tradisional Orang Rimba. (kilasjambi.com/gresi plasmanto)

Orang Rimba percaya memiliki keahlian dewa obat. Orang Rimba masih memiliki budaya meramu obat tradisional dedaunan dan akar obat-obat yang berasal dari hutan. Selain itu, dalam kosmologi Orang Rimba, mereka memiliki ritual pengobatan untuk menyembuhkan penyakit berat.

Namun hilangnya hutan semakin mengikis kebudayaan Orang Rimba, baik itu meramu obat dan menjalankan ritual.

“Sumber obat di hutan semakin berkurang, kalaupun ada mereka harus jalan jauh ke lokasi pedalaman,” demikian Robert.

(Gresi Plasmanto)

Total
11
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts