Connect with us

Business

Startup “Bakar” Uang?

Published

on

Ilustrasi startup(freepik.com/rawpixel.com)

Kita tahu saat ini istilah bakar uang mulai marak sejak munculnya startup di Indonesia yang mana mereka gencar melakukan promo gila-gilaan.  Istilah kerennya “bakar” uang.

Terus mereka untung gak sih?

Sebelum bahas lebih jauh mari kita buka data kunjungan web perbulan yang diambil dari instagram: goodstats.id yang bersumber dari Databoks:

  1. Tokopedia data kunjungan 158,1 Juta
  2. Shopee data kunjungan 134,4 Juta
  3. Bukalapak data kunjungan 30,1 Juta
  4. Lazada data kunjungan 28 Juta
  5. Blibli data kunjungan 16,3 Juta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari laporan salah satu startup seperti Bukalapak semester  I tahun 2021 mengalami kerugian Rp 763 Milyar. Kerugian ini jauh lebih baik di banding paruh pertama 2020 dengan total kerugian bersih Rp 1,03 T.

Dari data kunjungan menunjukan jumlah pengunjung di beberapa e-commecse jumlahnya sangatlah besar.  Ini modal bagi investor untuk menanamkan modal yang sangat besar. Tentu investor sudah menghitung kapan balik modal dan kapan untung.

Mari kita bayangkan startup seperti pedagang kopi (sebut aja PT.IBU ) yang baru buka dan ingin promosi alias bakar uang.

PT.IBU membuka usaha kopi dengan target penjualan 100 cup/ hari,  dengan harga jual 10 rb/ cup

Keuntungan bersih 20% dari harga jual.  Diawal buka PT. IBU promosi (bakar uang) dengan memberi diskon 50% selama 1bulan, tentu dengan harapan pelanggan dateng dan membeli kopi.

Mari kita hitung kerugian dan kapan PT. IBU mulai bisa meraih untung.

1. 100 cup/hari x Rp 10.000   =Rp 1.000.000,-

Untung 20% x Rp 1.000.000 = Rp 200.000 (2rb/cup)

Berarti setiap 1 cup kopi modal 8 rb

2. Promosi  50 % :

1 Juta x 50% = Rp 500.000 ( 1cup 5rb)

Kerugian per cup 3 rb x 100 =Rp 300.000

Kerugian sebulan 300 rb x 30 = Rp 9.000.000,-

Tabel target PT IBU

Cust dari 100 org 50 cust setia 30 cust mingguan 20 cust bulanan
50x 10 rb = 500rb

 

Untung : 2rb x 50 = Rp 100.000/hari

30 x 10 rb = 300rb

 

Untung : 2rb x30= Rp60.000/minggu

20 x 10 rb =200 rb

 

Untung :2rb x 20 = Rp40.000/bulan

Laba per bulan 100rbx30 = 3 juta 60 rb x 4 = 120 rb 40 rb
Total Laba  3jt + 120rb + 40rb Rp3.160.000,-

Dari data di atas kita bisa simpulkan bahwa biaya promosi sebesar 9 juta rupiah akan balik dalam waktu 3 bulan dan setelah itu pedagang kopi akan mulai meraih keuntungan. Dengan adanya data tersebut si pedagang memiliki keuntungan dari promosi yaitu pelanggan setia.

Jadi startup yang bakar uang milyaran rupiah tujuanya adalah mendapat pelanggan setia.  Tentu itu merupakan data bagi startup untuk menganalisa kapan dia akan mulai mengambil untung.

Januari 2020 Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro mengatakan rata-rata perusahaan rintisan berfokus pada masa depan dan di balik startup yang sukses yang utamanya digital berbasis platform ada tambang emas. Menurutnya tambang emas ini dieksplor di masa depan dan sering kali tidak terlalu kelihatan.

Jadi strategi bakar uang untuk menghasilkan uang sudah diperhitungkan sama investor dan startup itu sendiri.

Apakah ada yang buntung ? Tentu banyak.

Karena pesaing dari e-commerce sendiri saat ini mulai banyak. Jadi  pelayanan terbaik serta kemudahan yang diberikan menjadi modal utama pengguna startup untuk tetap setiap menggunakan layanan startup tersebut.

Terus sampai kapan mereka bakar uang?

Tentu strategi bakar uang diperkecil dan akan bergeser ke pelayanan dan kemudahan pengguna startup. Startup tidak akan terus terusan mengalami kerugian karena investor akan menanyakan uang yang di investasikan ke startup tersebut.

Jadi gimana? Tertarikah untuk bakar uang saat mau mendirikan startup?

 

Penulis: Lina Marliana, Staff BPS Kab. Tebo

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *