Karet Kurang Menguntungkan, Samsudin “Banting Setir” Jualan Kerupuk Jengkol

KILAS JAMBI – Pandemi Covid-19 menghantam hampir semua sendi kehidupan masyarakat, tak terkecuali petani karet. Harga yang murah ditambah musim penghujan kian menyulitkan keuangan petani karet untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kondisi ini yang turut dirasakan Samsudin, salah satu petani karet yang tinggal di Lorong Kayo Hitam RT/RW 005/002, Kelurahan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari. Ia saat ini tak bisa lagi mengandalkan hasil dari panen getah karet.

“Cuaca penghujan saat ini tidak mendukung untuk memupul (memanen) karet, ditambah lagi dengan harga karet saat ini murah hanya Rp6.500 per kilogram,” kata Samsudin, Rabu (23/09/20) lalu.

Harga karet yang merosot, memang menjadi keluhan utama petani karet seperti Samsudin. Padahal sebelum wabah Covid-19, Samsudin menyebutkan jika harga karet masih di kisaran Rp11 ribu per kilogram dan masih bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun sejak pandemi, stok karet di gudang atau pabrik tempat petani menjual hasil panen mereka menumpuk karena terhambat saat proses eskpor.

“Isu tersebut saya dengar katanya pabrik tersebut akan ditutup untuk sementara waktu, karena karet tersebut menumpuk masih banyak belum dikelola,” kata Samsudin.

Situasi pelik ini tak membuat pria berusia 44 tahun ini patah arang, sadar hasil panen karet tak bisa lagi diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Demi ekonomi keluarga, Samsudin terpaksa ‘banting setir’ dengan membuka usaha rumahan berjualan kerupuk jengkol.

“Saat ini lagi musim-musimnya jengkol, saya manfaatkan sebagai usaha bisnis rumahan saya dan istri saya,” kata Samsudin menjelaskan alasannya alih profesi.

Samsudin dan keluarga patut bersyukur, jengkol ia panen dari hasil kebun sendiri, dalam sekali panen ia bisa mengumpulkan hingga 45 kg buah jengkol. Jika dijual, Samsudin mematok harga Rp10 ribu untuk setiap satu kilogram buah jengkol.

“Tapi istri saya juga menjadikan buah jengkol tersebut untuk dikelola menjadi kerupuk jengkol,” katanya.

Dalam sehari, istri Samsudin bisa membuat memproduksi 4 kg kerupuk jengkol, setelah digoreng dan dikemas, kerupuk jengkol tersebut dititipkannya di warung-warung dengan harga Rp5 ribu perbungkus.

“Alhamdulilah, kalau dititipkan ke warung biasanya satu warung itu dititipkan sedikitnya 25 bungkus, ada juga yang sampai 50 bungkus,” katanya.

“Dalam waktu 5 hari biasanya kerupuk jengkol tersebut sudah banyak habis,” kata Samsudin menutup pembicaraan. (*)

Penulis: Chyntia Permatasari

Editor: Riki Ahmad

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts