Saat Jambi Menghadapi Kemarau Panjang, Kita Perlu Belajar Menyimpan Air

Muhammad Hakiem Sedo Putra.

Oleh: Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.*

 

MUSIM kemarau sering kali baru menjadi perhatian ketika sumur mulai mengering, debit sungai menurun, lahan pertanian membutuhkan air tambahan, atau kebakaran hutan dan lahan mulai muncul.

Padahal, kemarau seharusnya dipersiapkan jauh sebelum kondisi tersebut terjadi.

Bagi Provinsi Jambi, persoalan ini semakin penting karena air memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat. Pertanian, perkebunan, permukiman, industri, ekosistem gambut, hingga berbagai aktivitas ekonomi membutuhkan ketersediaan air.

Di sisi lain, kondisi iklim global dan regional dapat membuat musim kering menjadi lebih menantang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia pada 2026 mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal. BMKG juga memprakirakan sebagian besar wilayah mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

Informasi tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa persiapan menghadapi kekeringan tidak boleh dilakukan secara mendadak.

El Niño dan IOD Perlu Dipahami

Salah satu fenomena iklim yang sering dikaitkan dengan kondisi kering di Indonesia adalah El Niño.

El Niño terjadi ketika suhu muka laut di wilayah tengah dan timur Pasifik ekuatorial mengalami pemanasan di atas kondisi normal. Perubahan tersebut dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer dan mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.

Fenomena lainnya adalah Indian Ocean Dipole atau IOD.

IOD berkaitan dengan perbedaan anomali suhu muka laut antara wilayah barat dan timur Samudra Hindia. Ketika IOD berada pada fase positif, suplai uap air menuju wilayah Indonesia dapat berkurang sehingga kondisi kering berpotensi menjadi lebih kuat.

Yang perlu dipahami masyarakat adalah bahwa El Niño dan IOD bukan satu-satunya faktor yang menentukan hujan di Jambi.

Kondisi atmosfer regional, pola angin, suhu permukaan laut, topografi, dan faktor lokal juga berpengaruh.

Karena itu, informasi prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG tetap diperlukan untuk memahami kondisi aktual di masing-masing wilayah.

Kemarau Bukan Hanya Masalah Cuaca

Ada hal penting yang sering dilupakan.

Kondisi kekeringan tidak hanya ditentukan oleh sedikit atau banyaknya hujan.

Kekeringan juga berkaitan dengan kebutuhan air dan kemampuan suatu wilayah menyediakan air.

Daerah yang memperoleh hujan relatif cukup dapat tetap mengalami persoalan ketersediaan air apabila sebagian besar air hujan tidak tersimpan dan kebutuhan air terus meningkat.

Sebaliknya, daerah dengan kemampuan menyimpan air yang baik memiliki cadangan yang lebih besar ketika hujan berhenti.

Di sinilah pentingnya tata kelola air.

Air hujan harus dipandang sebagai sumber daya yang perlu dikelola, bukan sekadar limpasan yang harus segera dibuang.

Jambi Memiliki Sungai Batanghari

Jambi memiliki Sungai Batanghari yang menjadi salah satu sistem sungai penting di Sumatera.

Keberadaan sungai besar tersebut merupakan aset bagi masyarakat.

Namun keberadaan sungai tidak berarti seluruh wilayah otomatis aman dari kekeringan.

Sungai merupakan bagian dari sistem daerah aliran sungai yang jauh lebih luas.

Air yang mengalir di sungai berkaitan dengan curah hujan, tutupan lahan, kondisi tanah, daerah tangkapan, rawa, air tanah, dan aktivitas manusia.

Jika kawasan yang berfungsi sebagai daerah resapan semakin berkurang, air hujan dapat lebih cepat menjadi limpasan.

Air kemudian mengalir menuju sungai dalam waktu relatif singkat.

Ketika musim hujan, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap sistem sungai dan drainase.

Ketika musim kering datang, cadangan air yang tersimpan di dalam tanah belum tentu cukup.

Karena itu, menjaga Batanghari harus dimulai dari menjaga wilayah yang menjadi sumber dan penyimpan airnya.

Pertanian Merasakan Dampaknya Lebih Cepat

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang paling sensitif terhadap perubahan ketersediaan air.

Pengalaman di Kabupaten Batang Hari pada 2025 memberikan gambaran nyata.

Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Batang Hari mencatat sekitar 258,27 hektare lahan padi mengalami kekeringan. Dari luasan tersebut terdapat lahan yang masuk kategori ringan, sedang, dan berat, bahkan sebagian dilaporkan mengalami puso.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa kekeringan dapat berubah menjadi persoalan produksi pangan.

Karena itu, informasi iklim perlu digunakan untuk menentukan strategi pertanian.

Petani membutuhkan informasi mengenai prakiraan musim, potensi kekeringan, kebutuhan air tanaman, dan ketersediaan sumber air.

Pengaturan waktu tanam, pemilihan varietas, efisiensi irigasi, pembangunan embung, serta pemanfaatan air hujan dapat menjadi bagian dari strategi adaptasi.

Pendekatannya harus berubah.

Jangan menunggu sawah mengering untuk mulai memikirkan air.

Gambut Harus Tetap Basah

Jambi juga memiliki kawasan gambut yang memiliki nilai ekologis penting.

Dalam kondisi alami, gambut memiliki kandungan air yang tinggi.

Ketika muka air tanah turun terlalu rendah, lapisan gambut dapat menjadi kering dan risiko kebakaran meningkat.

Karena itu, pengendalian karhutla memiliki hubungan yang sangat erat dengan tata air.

Patroli dan pemadaman memang penting.

Namun pencegahan harus dimulai dari pengelolaan kondisi hidrologis gambut.

Pemantauan muka air, pengelolaan kanal, perlindungan kawasan gambut, dan pencegahan pengeringan berlebihan merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko kebakaran.

Dengan demikian, menjaga air di kawasan gambut bukan hanya persoalan konservasi.

Menjaga air juga berarti menjaga masyarakat dari risiko karhutla.

Pembangunan Mengubah Perjalanan Air

Jambi terus berkembang.

Permukiman baru tumbuh, jalan dan infrastruktur bertambah, serta berbagai kegiatan ekonomi membutuhkan ruang.

Perkembangan tersebut merupakan bagian dari proses pembangunan.

Namun pembangunan juga mengubah cara air bergerak.

Ketika lahan terbuka berubah menjadi bangunan dan permukaan kedap, kemampuan air untuk meresap ke tanah dapat berkurang.

Air hujan lebih cepat menjadi limpasan.

Jika berlangsung secara luas, perubahan tersebut dapat memengaruhi keseimbangan hidrologis suatu kawasan.

Karena itu, pembangunan perlu mempertimbangkan fungsi hidrologis lahan.

Sebelum sebuah kawasan dikembangkan, kita perlu mengetahui kemampuan tanah menyerap air, pola aliran permukaan, kondisi sumber air, serta kebutuhan air pada masa mendatang.

Pembangunan tidak boleh hanya memikirkan bagaimana menyediakan ruang untuk manusia.

Pembangunan juga harus menyediakan ruang untuk air.

Menyimpan Air Ketika Hujan

Salah satu solusi yang sebenarnya sederhana adalah meningkatkan kemampuan menyimpan air.

Air hujan dapat ditampung melalui embung, kolam retensi, dan berbagai bentuk tampungan lainnya.

Di kawasan permukiman, pemanenan air hujan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan standar keamanan.

Kawasan resapan juga perlu dipertahankan.

Ruang terbuka hijau dan infrastruktur biru hijau dapat membantu mempertahankan fungsi hidrologis kawasan perkotaan.

Pada daerah pertanian, tampungan air dapat menjadi cadangan ketika hujan berhenti.

Prinsipnya sederhana.

Air yang berlebih ketika musim hujan harus dapat menjadi cadangan ketika musim kemarau.

Ketahanan Air Harus Dibangun Bersama

Pemerintah memiliki peran penting dalam membangun ketahanan air Jambi.

Pemetaan wilayah rawan kekeringan, pemantauan sumber air, perlindungan daerah tangkapan, pengelolaan gambut, pembangunan infrastruktur penyimpanan air, dan pemanfaatan informasi iklim perlu dilakukan secara terpadu.

Perencanaan tata ruang juga perlu memasukkan aspek hidrologis.

Sementara itu, masyarakat dapat berkontribusi dengan menggunakan air secara efisien, menjaga lingkungan, dan memanfaatkan air hujan apabila memungkinkan.

Kita tidak dapat mengendalikan El Niño.

Kita juga tidak dapat mengendalikan IOD.

Tetapi kita dapat mengurangi kerentanan Jambi terhadap dampaknya.

Caranya adalah dengan memastikan air yang turun ketika musim hujan tidak seluruhnya hilang menjadi limpasan.

Sebagian harus disimpan.

Sebagian harus meresap.

Sebagian harus dipertahankan dalam ekosistem.

Karena pada akhirnya, ketahanan terhadap kemarau bukan hanya tentang mencari sumber air baru, tetapi juga tentang menjaga air yang sudah kita miliki.

Musim kering akan berlalu.

Hujan akan kembali.

Namun jika setiap musim hujan kita kembali membiarkan air mengalir tanpa cukup disimpan, persoalan yang sama akan berulang ketika kemarau datang.

Jambi perlu mulai memandang air sebagai bagian dari infrastruktur pembangunan.

Bukan hanya sungai yang perlu dibangun.

Bukan hanya drainase yang perlu diperbesar.

Tetapi juga kemampuan tanah, ekosistem, dan infrastruktur untuk menyimpan air.

Karena masa depan Jambi bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat daerah ini membangun.

Masa depan Jambi juga ditentukan oleh seberapa baik kita menjaga air untuk kehidupan yang akan datang.

 

Tentang Penulis

Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T. adalah dosen pada Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera. Bidang keahliannya meliputi hidrologi, sumber daya air, pengelolaan air, risiko banjir dan kekeringan, serta ketahanan hidrologis wilayah.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts