Petualangan yang Memukau di Rimba Mentawai

Oleh Herma Yulis*

ANTROPOLOG kelahiran Swiss, Reimar Schefold, menghabiskan waktu selama dua tahun (1967-1969) bersama orang Sakuddei, sebuah kelompok masyarakat suku (tribal society) di rimba Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Demi kelancaran penelitiannya, Reimar tak hanya memperhatikan kehidupan komunitas marjinal ini, namun dia pun melakoninya sendiri dengan memilih hidup bersama untuk menggali lebih banyak hal tentang budaya dan kehidupan suku Sakuddei.

Kisah hidup dan petualangannya yang memukau di rimba Mentawai itu kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku menarik berjudul “Aku dan Orang Sakuddei, Menjaga Jiwa di Rimba Mentawai.” Pertama kali terbit dalam bahasa Belanda dengan judul “Wees goed voor je ziel. Mijn jaren bij de Sakuddei,” kemudian diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas bekerjasama dengan KITLV Jakarta. Kehidupannya di belantara Mentawai bersama orang Sakuddei diramu menjadi tulisan yang menarik dan inspiratif. Buku ini memberikan gambaran jelas tentang kehidupan dan budaya suku Sakuddei yang masih sangat kental dengan tradisi dan belum terpengaruh oleh teknologi modern.

Masa-masa ketika dia tinggal pada periode pertama bersama suku Sakuddei adalah bagian utama yang menjadi bahan dalam penulisan buku ini. Dari sini kita menjadi tahu bahwa orang Sakuddei sangat bangga dengan warisan budaya yang mereka miliki dan tanpa pamrih membaginya dengan Reimar, seorang peneliti asing yang tak tahu apa-apa tentang kehidupan mereka, dan selalu menanyakan banyak hal tentang budaya dan kehidupan mereka.

Meskipun kisah ini telah berlalu puluhan tahun silam, namun bagi generasi Mentawai masa kini ini berarti sebuah tantangan. Mereka sudah sejak lama tidak lagi terisolasi dari dunia luar. Mereka bersekolah, sebagian bahkan duduk di bangku universitas dan beberapa di antara mereka berhasil memangku jabatan penting di pemerintahan, seperti Yudas Sabaggalet yang terpilih sebagai Bupati Mentawai pada tahun 2011. “Meskipun demikian, tetap ada di dalam diri mereka kesadaran bahwa merekalah para pewaris dari sebuah tradisi budaya yang kaya. Kepada generasi baru tersebut ingin kupersembahkan terjemahan ini.” (halamaan xv)

Kesan pada Pertemuan Pertama

Tidak mudah untuk mencapai wilayah yang didiami oramg Sakuddei. Reimar harus menempuh medan yang sangat sulit dan berbahaya. Dia menceritakan bahwa dalam jarak sepanjang 100 kilometer di pesisir barat Siberut pemandangannya jauh berbeda dengan pemandangan yang ditawarkan di pesisir timurnya. Batu-batu terjal mencuat tegak lurus dari dalam laut, sebagian tersembunyi di belakang selimut kabut. “Di sinilah bagian paling berbahaya dari perjalanan ini dimulai, sebab tak ada satu pun daratan yang akan dijumpai hingga tiba di Sagalubbe.” (halaman 11)

Pengalaman pertama kalinya mencari orang Sakuddei tak mungkin terlupakan. Dia berlayar di saat cuaca buruk dan hujan deras. Dalam perjalanan itu mereka tak membawa kompas, dan mengenali arah dengan membedakan gelombang-gelombang besar dari empasan gelombang-gelombang kecil, yang mencuat dimana-mana; dan itu membuat dia agak bisa menentukan arah. “Satu kilatan halilintar menerangi wilayah itu dan sekitarnya untuk sesaat lamanya dalaam cahaya menyilaukan. Tak sampai dua detik kemudian, cambuk petir datang kembali dan serta merta kami pun membungkuk bersama. Posisi kami jelas berbahaya, sebab di laut ini kami tentu mengundang halilintar.” (halaman 12)

Sebelum bertemu dengan Orang Sakuddei, Reimar tak dapat membayangkan apa yang harus dia lakukan. Suku itu benar-benar asing baginya. Apalagi mengingat cerita-cerita yang dia dapat saat berinteraksi dengan orang-orang sebelum bertemu langsung dengan mereka. Orang luar cenderung menganggap orang Sakudei primitif dan dikelilingi dunias mistik.

Sebagaimana diceritakan oleh Amir, seorang pedagang kopra dari Muara Siberut saat mengetahui Reimar akan menuju permukiman orang Sakuddei. “Orang itu adalah satu-satunya yang belum mendatangkan pemerintah ke daerah mereka. Mereka bilang: siapa yang mau memaksa mereka agar menyerah dengan cara hidup kuno mereka, maka mereka akan mati. Tetapi barangkali saja itu akan berjalan dengan baik. Kalian datang sebagai kawan,” (halaman 16)

Namun, kekhawatirannya sirna begitu mendapatkan sambutan hangat saat pertama kali bertemu orang Sakuddei. Reimar datang ketika sedang ada upacara adat untuk menyembuhkan warga yang sedang sakit. Kesan pertama yang dia lihat bahwa mereka semua berambut panjang berwarna hitam, yang diikat di belakang kepala menjadi sebuah gelung. Di seluruh tubuh mereka juga dihiasai tato. Para laki-laki hanya mengenakan cawat dan kaum perempuan mengenakan rok yang dililit. Selain itu, kelompok orang Sakuddei itu juga mengenakan beragam perhiasan. Mereka mengenakan gelang anyaman pada lengan bagian atas dan gelang kuning menghias di pergelangan tangan. Kemudian dilengkapi pula dengan kalung di leher dihiasi mutiara dan bulu. Hidung, pipi, dan dagu dilukis dengan titik-titik hitam, dan di rambut, di telinga, di antara perhiasan-perhiasan dan di cawat-cawat kulit kayu warna merah dan kuning, tersemat daun-daun dan bunga-bunga.

“Kali ini kami seperti dilontarkan ke dalam dunia lain, hal yang tentu saja dengan sendirinya secara utuh mengundang kerinduan untuk lebih baik lagi mengenal dunia itu.” (halaman 27)

 Keseimbangan Jiwa, Tubuh dan Alam

Dalam buku setebal 372 halaman ini, Reimer Schefold berhasil menggambarkan kehidupan suku Sakuddei secara detail, mulai dari sistem kepercayaan, upacara adat, cara berburu, hingga hubungan sosial dalam masyarakat suku Sakuddei. Ia juga memaparkan pengalamannya selama hidup bersama suku tersebut, termasuk bagaimana ia belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan yang sangat berbeda dan bagaimana ia menjadi bagian dari masyarakat suku Sakuddei. Buku ini memberikan pemahaman yang lebih luas tentang budaya dan kehidupan suku yang masih terisolasi di tengah hutan dan belum terkena dampak modernisasi.

Bagi orang Sakuddei keseimbangan jiwa, tubuh dan alam tak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Ketiganya harus selaras dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sehingga ketika pemerintah dan misionaris pada masa itu mendesak orang Mentawai, termasuk orang Sakuddei di dalamnya, melalui berbagai cara, untuk meninggalkan benda-benda budaya peninggalan leluhur, dan meninggalkan praktik ritual, membuat sendi kehidupan mereka menjadi terguncang.

Sebab, jika mengikuti anjuran pemerintah dan misionaris, maka kepercayaan Mentawai seperti budaya tato, menajamkan gigi depan, rambut panjang serta hiasan-hiasan  pada laki-laki dilarang, termasuk juga tinggal di dalam rumah-rumah komunal berukuran besar, serta hal-hal lainnya yang mengandung budaya tradisional. Itu semua dianggap primitif dan terbelakang serta tak patut bagi sebuah bangsa modern. (halaman4)

Ketika terjadi permasalahan hidup akibat jiwa, tubuh, dan alam tidak berjalan sebagaiama mestinya, maka menurut tradisi orang Sakuddei itu harus dipulihkkan kembali melalui ritual puliaijat, agar hidup dapat berjalan normal kembali. Seperti dipaparkan oleh Jogjokerei saat ditanya oleh Reimar tentang bagaimana sesungguhnya jiwa menurut mereka.

“Jiwa dan manusia bagaikan saudara. Mereka saling memiliki, akan tetapi jiwa juga bisa pergi meninggalkan manusia. (halaman 114)

Begitulah kehidupan orang Sakuddei. Mereka dapat hidup dengan cara yang sangat harmonis dengan alam. Mereka memperlakukan alam dengan penuh rasa hormat dan menjaganya dengan baik.

Buku ini juga memberikan inspirasi dan nilai-nilai positif bagi pembaca. Salah satu nilai positif yang dapat dipetik dari buku ini adalah kesederhanaan. Reimer menunjukkan betapa kebahagiaan bisa didapatkan meskipun hidup dalam kesederhanaan. Ia belajar untuk hidup dengan segala keterbatasan yang ada, seperti makanan yang terbatas dan hidup terisolir dari dunia luar. Namun, ia merasa bahagia selama menjalani hidup bersama suku Sakkudei dan belajar banyak hal baru dari kehidupan mereka.

Reimer Schefold berhasil membangun cerita yang sangat menarik dengan diksi yang mudah dipahami. Dengan kecakapannya menuliskan pengalamannya, ia berhasil membangun sebuah cerita yang sangat menarik dan autentik. Buku ini sangat layak dibaca bagi siapa saja yang tertarik pada kehidupan dan budaya suku Sakuddei di tengah hutan Mentawai. Selamat membaca.

 

Judul buku      : Aku dan Orang Sakuddei, Menjaga Jiwa di Rimba Mentawai

Judul Asli        : Wees goed voor je ziel. Mijn jaren bij de Sakuddei

Penulis             : Reimar Schefold

Penerbit           : Penerbit Buku Kompas dan KITLV, Jakarta

Tahun terbit   : 2014

Tebal buku      : xx+372 halaman

ISBN                : 978-979-709-850-6

 

*Herma Yulis, (pencinta buku, tinggal di Batanghari)

Tulisannya berupa cerpen, artikel, opini, esei, dan resensi buku pernah dimuat di koran Kompas, Koran Tempo, Nova, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia (SINDO), Jurnal Nasional (Jurnas), Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Majalah Mata Baca, Majalah Medium, Jambi Independent, Minggu Pagi, Jurnal Seloko, Kilasjambi.com, dan Scientific Journal. Tahun 2016, bersama Puteri Soraya Mansur menerbitkan buku kumpulan cerpen Among-Among

Total
0
Shares
1 comment
  1. Saya salah satu orang yang beruntung dapat bertemu langsung dengan Reimar Schefold saat dia berkunjung bersama keluarganya ke kerinci, kami sempat jalan-jalan serta mengikuti ritual adat memandikan alat pusaka berupa Rantai di desa Muak kecamatan keliling danau. sekitar tahun 1994. ulasannya menarik, terima kasih Herma Yulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts