Connect with us

Budaya

Pandemi Global dan Home Schooling Society

Published

on

Suasana di salah satu Kelas Jauh di Kabupaten Tebo. Negara harus terlibat di dalam pendidikan, dimanapun sekolah berada, meskipun di sekitar areal hutan sekalipun. Ini agar sedari dini pendidikan "cinta tanah air" bisa didapatkan sisa. (credit tittle : Jon Afrizal)

Jon Afrizal*

Sejak pandemi global Covid-19 terjadi, beberapa bulan lalu, hampir seluruh kegiatan pertemuan dilakukan secara maya melalui internet. Begitu juga sekolah.

Anak-anak lebih banyak berada di rumah. Mereka belajar dengan petunjuk pesan Whatsapp dari para guru di sekolahnya. Untuk kemudian mengunjungi situs tertentu di internet, dan selanjutnya menjawab berbagai pertanyaan sesuai dengan materi pelajaran hari itu.

Jika, anak sudah berada di SMP atau SMA, mungkin mereka bisa mandiri dalam belajar. Tetapi, bagi anak yang berada di SD, tentu saja butuh bantuan.

Kendala yang dihadapi, yakni, tidak bertemu langsung dengan para guru dengan siswa telah mengurangi kedekatan secara psikologis.

Anak tidak merasa sedang belajar, dengan guru yang biasa ia temui di sekolah. Tetapi, mendapat teman baru yang bernama smartphone, dan seorang asisten guru yakni orangtua yang sedang berada di rumah.

Tentu saja ada jurang pengertian, dari orangtua yang mengawasi mereka untuk belajar di rumah. Seiring kurikulum pengajaran yang selalu berubah-ubah dari generasi ke generasi.

Maka, yang sebenarnya sedang belajar di rumah adalah orangtua, dan bukan anak.

Beberapa orangtua sedari dini telah mengkontrol secara ketat penggunaan smartphone bagi anak mereka. Ini untuk mencegah efek buruk yang bakal ditimbulkan.

Tetapi kini, selama pandemi, anak jadi terbiasa menggenggam smartphone kemanapun dan dimanapun. Lagi-lagi, orangtua yang sedang berada di rumah yang harus mengawasinya secara ketat.

Adalah benar, jika waktu belajar di rumah lebih banyak dibandingkan di rumah. Tetapi, apa yang terjadi saat ini, adalah biaya yang harus dikeluarkan pun lebih banyak.

Bagi anak yang bersekolah di sekolah swasta, mereka tetap harus membayar biaya sekolah, meskipun tidak pergi ke sekolah.

Orangtua kini harus menyediakan kuota internet bagi anak mereka. Agar pengajaran virtual terlaksana.

Di belahan dunia barat, ada istilah home schooling. Yakni seorang guru yang datang ke rumah untuk mengajar anak. Di kota-kota besar di Indonesia pola ini telah digunakan.

Pada satu sisi, home schooling membuat anak fokus hanya untuk belajar. Di sisi lain, anak tidak bersosialisasi dengan orang, terutama yang sebaya dengannya, kecuali guru yang datang ke rumah.

Setelah kita memasuki masa beradaptasi dengan pandemi, kini, anak telah boleh bersekolah. Meskipun hanya beberapa jam saja, dan tetap berlanjut kembali dengan pola virtual.

Biaya yang dikeluarkan oleh orangtua kembali membengkak. Pertama, mereka harus memberikan uang saku buat anak ketika berada di sekolah. Kedua, menyediakan kuota internet untuk smartphone yang selalu berada di genggaman anak mereka.

Dan, bertanyalah kepada diri anda sendiri, jika anda memiliki seorang anak yang sedang bersekolah di SD, tentang betapa rumitnya kondisi saat ini.

Pada beberapa percakapan, para guru juga mengeluh karena tidak mendapat subsidi kuota internet dari sekolah, tetapi harus tetap mengajar ala virtual, karena para muridnya telah menunggu di kelas home virtual schooling.

Sedangkan, seperti yang kita ketahui, pola “nuclear family” telah lama kita gunakan. “Nuclear Family” adalah rumah yang hanya diisi oleh orangtua dan anaknya saja, tanpa keluarga lainnya, dari pihak orangtua.

Kembali benturan budaya terjadi di sini. Bagi keluarga yang kedua orangtuanya berkerja, harus menitipkan anaknya ke rumah neneknya atau kakeknya. Dan, kendala yang sama juga dihadapi. Nenek atau kakek yang tidak “satu kurikulum” kebingungan dalam membantu cucunya.

Kondisi ini telah membuat tahap pemahaman pendidikan bagi anak menjadi kacau. Mungkin benar kata Neil Postman, kita tengah dan seharusnya berada pada masa Deschooling Society. Dimana, pendidikan tidak perlu lagi untuk didapat di sekolah. Melainkan, dimana saja, selayak membeli obat untuk sakit kepala yang tersedia di apotek.

Tetapi, pranata masyarakat kita yang umumnya lebih membutuhkan gelar akademis ketimbang keahlian belumlah menuju ke sana. Selayak kacaunya lalu lintas di jalanan Kota Jambi, ada benarnya kata seorang teman, “Dusun lah lewat, tapi kota belum sampe.” ***

* Jurnalis TheJakartaPost

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *