Connect with us

Jejak

Museum PRJ Pamerkan Koleksi Uang Kuno

Published

on

Uang kuno yang dipamerkan di Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Foto : Hidayat

Kota Jambi, kilasjambi.com- Museum Perjuangan Rakyat Jambi menggelar pameran uang kuno dari koin dan kertas, 8-14 September 2021. Koleksi uang yang dipamerkan dari tahun 850 hingga 1999. Selain itu, juga dipamerkan uang kuno zaman kerajaan, zaman kolonial, kesultanan Jambi, Uang Republik Indonesia Daerah (Urida), coupon penukaran, dan mata uang Republik Indonesia Serikat.

“Selain dari zaman kolonial Belanda, mata uang Jepang dan Cina, ada juga Urida, uang Republik Indonesia pulau Sumatera. Ada uang yang beredar di tahun 1957 sampai 1959, tahun 1966 sampai 1997,” jelas Yulhandri, Kepala Satuan Kerja Museum Perjuangan Rakyat Jambi (PRJ, di museum PRJ, Selasa (14/09).

Yulhandri mengatakan Indonesia sudah melewati zaman primitif ke zaman kerajaan yang merupakan babak baru peradaban masyarakat. Dari sektor ekonomi, kerajaan sudah mengeluarkan mata uang, dengan keunikan tersendiri. “Seperti kerajaan Mataram kuno, mata uangnya terbuat dari emas dan perak. Sedangkan kerjaan Buton dari kain tenun,” katanya.

Pameran mata uang kuno ini juga menampilkan uang dari Kerajaan Samudra Pasai dan uang logam tanah melayu. Selain itu, uang Kerajaan Mataram Kuno tahun 850, Kerajaan Jenggala tahun 1042, Kerajaan Majapahit 1293, Kerajaan Samudra Pasai 1297, dan kerajaan Buton 1332, dan masa Kesultanan Banten tahun 1550, Kerajaan Goa Abad 16, dan Kesultanan Sumenep tahun 1781.

“Ada berapa foto yang ditampilkan di pameran uang logam Cina dan juga uang kerajaan Buton,” ujar Yulhandri.

Uang masa kolonial yaitu uang kertas Naderlandsch Indie koin satu golden dan uang logam VOC. Sedangkan mata uang Nipon masuk dalam kategori langka. “Sulit didapat saat ini. Banyak disimpan koletor,” katanya.

Sedangkan untuk Jambi, Urida kertas yang digunakan Sumatera. Banyak digunakan di Sumatera Utara, Sumatera Selatan. “Dengan gambar di uang kertas sisi depan orang memegang senapang, dan di sisi belakang ada sawah, batang padi,” ujarnya.

Uang coupon penukaran dari 1/2 rupiah, 5 rupiah, 1 rupiah 10 rupiah dan 2 rupiah. Uang coupon alat penukaran sebelum digunakan di luar Pulau Sumatra. Bahan uang coupun menggunakan kertas kopi.
“Urida sebelum digunakan ditukarkan terlebih dahulu dengan uang coupon. Karena tidak laku kalau untuk di luar Jambi,” kata Yulhandri.

Yulhandri menjelaskan untuk alat mencetak uang ada dokumentasinya. Pertama kali digunakan Kabupaten Muaro Bungo untuk peredarannya. “Mesin pencetak uang itu di kabupaten Muaro Bungo itu ada rumah pencetak uang. Sementara itu mesin cetak uang kita simpan di Museum Siginjai,” ujarnya.

Pada tahun 1953 sampai 1959 juga dicetak uang dalam bentuk nominal yang bervariasi. Ada 500, ada 100, ada 50, dan ada 5 rupiah, ada juga 50 ribu. Tahun 1959 sampai 1966 keluar uang model baru lagi yaitu gambar Soekarno 10, 5, dan 1 rupiah. “Dicari kolektor uang 1 rupiah tahun 1964,” ungkap Yulhandri.

Yulhandri menjelaskan, uang kuno banyak didapatkan di hilir sungai Batanghari sampai Nipah Panjang. Ada yang dapat di kebun, sungai dan tanah. Museum mendapatkan uang kuno dengan sistem koleksi titipan, koleksi hibah, dan koleksi ganti rugi atau beli. “Jika ada koletor atau pendukung mau menjual dan ada unsur sejarah kita beli dan kita simpan di museum,” jelasnya.

Ia mengatakan, uang yang didapat masyarakat kalau di masyarakat tidak berguna, bagi pihak museum sangat berguna. “Untuk pembelajaran dan pendidikan,” tutup Yulhandri. (*)

Reporter : Hidayat

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *