Connect with us

Budaya

Bubur Asyura, Tradisi Menolak Datangnya Bala

Published

on

Keterangan photo : Warga yang bergotong-royong memasak bubur Asyura, Sabtu (29/8). (credit tittle : warga Desa Merbau)

Jon Afrizal*

Tanggal 10 Muharram, bagi warga Suku Bugis yang berada di pesisir pantai Timur Sumatera, adalah melanjutkan tradisi menolak bala. Tradisi yang turun temurun telah dilakukan di Pulau Sulawesi, dan berlanjut hingga ke keturunan para perantau di sini.

Tradisi yang unik, dan penuh pesan ini di-ejawantahkan melalui sepiring bubur, yakni Bubur Asyura. Bubur yang berbahan dasar nasi putih, dengan berbagai bebumbuan dengan baunya yang menggoda lidah untuk mencicipinya.

Bubur nasi itu, ditambahkan dengan suwiran ayam goreng, dan kerupuk berwarna merah ketika dimakan. Bertekstur kental, dan sedikit air.

Pagi itu, Sabtu (29/8), tepat di tanggal 10 Muharram penanggalan Arab, para warga Desa Merbau Kecamatan Mendahara Kabupaten Tanjungjabung Timur, disibukkan dengan prosesi ini.

Setiap keluarga membawa bahan baku untuk membuat bubur. Seperti beras berukuran 1 gelas, misalnya, serta bahan kainnya.

Terdapat tiga tempat untuk memasaknya di Dusun Ria 1 dan Dusun Ria 2, yang menjadi bagian dari Desa Merbau, pada hari ini.

Kaum wanita dan pria saling bergotong-royong memasak nasi putih hingga menjadi bubur itu. Sekitar satu jam diaduk di dalam kuali besar.

Beberapa yang lain telah menyiapkan tempat untuk makan bersama. Tepat setelah bubur masak, lalu dihidangkan kepada banyak orang.

Sebelum menyantap bubur Asyura, dibacakan doa tolak bala secara bersama, menurut ajaran Islam. Lalu, dengan mengucap “Bismillah”, bubur Asyura pun disantap bersama.

Tetapi, telah disisihkan beberapa piring bubur untuk mereka yang sedang berpuasa. Sesuai ajaran Islam, disunatkan untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Di sini, bubur Asyura, bukanlah tradisi Suku Bugis saja. Suku Banjar pun menjalankan tradisi ini.

Warga terutama ibu-ibu bersama-sama menghindangkan bubur asyura untuk disantap bersama di hari 10 muharram

Hanya saja, sebagai sebuah tradisi tolak bala, maka bagi warga Bugis, diterjemahkan untuk membeli barang baru untuk setiap keluarga. Tidak banyak, tergantung kemampuan keuangan masing-masingnya.

Barang yang dibeli umumnya perkakas rumah tangga, tetapi yang berawalan huruf -p- di dalam Bahasa Bugis. Mereka pun membeli “pejje” (garam), “passerok” (centong) atau “passering” (sapu) di toko-toko terdekat. Toko-toko kecil yang biasa disebut “toko manisan”.

Selain itu, bagi mereka yang mampu secara ekonomi, akan memberikan santunan kepada anak yatim-piatu dan anak kurang mampu.

Begitulah para leluhur mereka berpesan untuk generasi selanjutnya, meskipun mereka tidak lagi berada di Pulau Sulawesi. Pesan yang jelas, yakni bergotong-royong dan saling membantu sesama.

Bergotong-royong memasak bubur, dan bersedekah kepada mereka yang tidak mampu. Selain juga mengakrabkan antar sesama penduduk.

Harapan dari para leluhur mereka, tentu saja adalah terciptanya keharmonisan kehidupan antar masyarakat. Dan terjauhi dari silang sengketa.

Masyarakat Suku Bugis yang berdiam di sini umumnya berasal dari wilayah Wajo, Pindrang dan Bone di Pulau Sulawesi. Mereka mendatangi pesisir ini sejak akhir tahun ’60-an lalu, dan terus berketurunan hingga kini. *

*Jurnalis TheJakartaPost

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *