Connect with us

Jejak

Merawat Kanal Kuno dan Sungai Batanghari dari Sampah, Pemuda Ini Dirikan Sekolah Sungai

Published

on

Aktivitas Pemuda Peduli Lingkungan bersama Kanti Sungai saat membersihkan sampah di pinggiran Sungai Batanghari, foto: IG Pemuda Peduli Lingkungan

KILAS JAMBI – Sungai Batanghari yang merupakan ikon Provinsi Jambi, kondisinya kini kian tercemar, air yang semakin keruh diperparah dengan banyaknya sampah yang bertebaran di bibir sungai terpanjang di Pulau Sumatera ini.

Aktivitas tambang emas ilegal di hulu Sungai Batanghari, juga membuat kondisi air Sungai Batanghari makin memprihatinkan.

Prihatin dengan kondisi Sungai Batangharu yang dijadikan tempat pembuangan sampah, sekelompok pemuda di Desa Muara Jambi, Kabupaten Muaro Jambi berinisiatif mendirikan Sekolah Sungai pada 2019 lalu.

“Sungai-sungai itu tempat mahluk hidup. Jangan sampai karena ulah manusia, membuat sungai berubah menjadi bencana,” kata Ketua Pemuda Peduli Lingkungan, Ridho Saputra.

Sasaran Sekolah Sungai adalah anak-anak usia sekolah, mulai dari SD sampai SMA bahkan pesantren.

“Mereka akan digembleng untuk peduli dengan sungai,” kata Ridho, yang juga Ketua Karang Taruna Desa Muara Jambi.

Untuk meningkatkan kepedulian siswa Sekolah Sungai, Ridho dan rekan-rekannya memberikan sejumlah materi diantaranya dengan menonton film berisi tokoh-tokoh menginspirasi dalam merawat sungai. Kemudian anak-anak diajari mendaur ulang sampah agar bernilai guna dan tidak membuangnya ke sungai.

Lalu, belajar tentang jenis-jenis tanah yang berada di sekitar sungai. Kemudian pembibitan tanaman yang dapat melestarikan sungai.

Kegiatan menanam bibit pohon yang dilakukan Relawan Pemuda Peduli Lingkungan di pinggir Sungai Batanghari, foto: IG Pemuda Peduli Lingkungan

Setelah anak-anak dibekali ilmu tentang sungai, mereka akan diajak melakukan aksi penyelamatan sungai. Diantaranya melakukan aksi bersih sungai dengan menyusuri sungai dan kanal-kanal kuno yang ada di seputar Candi Muaro Jambi.

Menariknya, anak-anak diajari untuk menasehati orang-orang tua yang membuang sampah ke sungai. Kemudian menanam pohon di tepi sungai maupun kanal.

Tahun lalu, kata Ridho, Pemuda Peduli Lingkungan telah merekrut siswa di sekolah-sekolah dari delapan desa di sekitar Candi Muaro Jambi, yaitu Desa Muaro Jambi, Danau Lamo, Desa Baru, Kemingking Luar, Kemingkin Dalam, Tebat Patah, Teluk Jambu dan Dusun Mudo.

Sekolah sungai itu menjelaskan tentang candi 3.891 hektar. Dimana di dalamnya ada ratusan kanal kuno, sungai buatan yang dahulu kala, waktu zaman kerajaan Hindu-Budha dijadikan sarana transportasi.

Sistem kanalisasi yang rumit, perlahan kita jelaskan dengan anak-anak. Air dalam kanal itu mengalir berlawan dengan Sungai Batangari. Jika air Sungai Batanghari mengalir ke hilir, maka air dalam kanal kuno mengalir ke hulu. Kemudian searah dengan putaran jarum jam.

Dahulu kala, fungsi kanal tidak hanya sarana transportasi dari satu candi ke candi lain, tetapi sebagai benteng pertahanan dan sumber air bersih.

Sekolah Sungai juga mengajarkan siswa untuk merawat kanal kuno di sekitar Candi Muaro Jambi, foto: IG Pemuda Peduli Lingkungan

“Kita sudah didik 500 siswa untuk lebih menghargai sungai sebagai tempat mahluk hidup dan sumber kehidupan. Kita memiliki hubungan yang baik dengan sungai sejak dahulu kala,” kata Ridho.

Ada beberapa titik fokus kita, yang menjadi perhatian saat aksi Sekolah Sungai, diantaranya itu Sungai Batanghari, Berembang, Amburan Jalo, Kemingking, Sungai Jambi, Sungai Melayu dan Bekako.

Untuk kanal kuno itu sepanjang Danau Lamo. Sebagian besar memang menghubungkan beberapa candi yang telah dipugar yakni Astano, Tinggi, Kembar Batu dan Gumpung.

Sembari menyusuri sungai, anak-anak yang berada di Desa Baru, Kemingking, dan Danau Lamo juga diperkenalkan dengan dampak buruk pencemaran sungai, yang berasal dari limbah perusahaan sawit.

Kemudian anak-anak yang dekat dengan kanal, kita ajari sejarah dan dampak baik jika suatu saat kanal dinormalisasi. Air bisa mengalir lancar dan tidak menyebabkan banjir.

Aksi untuk mengunjungi Sungai Amburan Jalo, misalnya anak dibawa langsung untuk melihat kanal. Dimana sekarang juga berfungsi untuk mengaliri sawah dan kebun pertanian dan tempat mahluk hidup seperti ikan.

Agar Sekolah Sungai dapat menjangkau anak lebih banyak, karena selama ini sebulan hanya empat pertemuan, kata Edo pihaknya merekrut relawan untuk mengajar pada 2020 ini.

Relawan ini namanya Kanti Sungai. Mereka juga dibekali pengetahuan sejarah, pelestarian dan mahluk hidup sungai serta kanal. Mereka yang mengajari anak dengan riang gembira.

Kebanyakan relawan dari mahasiswa. Berasal dari disiplin ilmu berbeda. Ini akan memperkaya pengetahuan anak tentang sungai dan kanal kuno.

“Anak-anak tidak dipungut biaya. Bahkan mereka dapat hadiah-hadiah menarik dari kakak-kakak relawan yang baik hati,” kata Ridho lagi.

Kehadiran relawan membuat proses belajar di Sekolah Sungai menjadi lebih sering dan melibatkan banyak siswa. Tetapi hanya berjalan dua bulan, karena distop karena pandemi Covid 19, sampai waktu yang tak ditentukan.

Selain Sekolah Sungai, Pemuda Peduli Lingkungan juga telah mendorong terbitnya Perdes di Desa Muaro Jambi tentang Pelarangan Galian C.

Selanjutnya kami sedang menggodok regulasi Buang Sampah ke Sungai dan Lubuk Larangan, dengan sejumlah aparat desa.

“Kita berharap bisa diberlakukan tahun ini,” tutup Ridho. (*)

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *