Mengapa Potensi Energi Bersih di Jambi Belum Dimanfaatkan Maksimal

Sungai di Desa Raden Anom, Sarolangun, Jambi, yang berpotensi menjadi sumber energi berkapasitas 18 kilo watt (kW). (Kilasjambi.com/Sobar Alfahri)

Jambi, Kilasjambi.com– Potensi pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di Jambi mencapai 447 Mega Watt. Berdasarkan pendataan Dinas ESDM Provinsi Jambi pada tahun 2020, di bagian barat wilayah provinsi ini terdapat 18 titik aliran sungai dan 23 air terjun yang diidentifikasi mampu menerangi desa-desa di sekitarnya.

Belasan sungai yang dimaksud, yakni berada di Desa Dusun Tuo Kabupaten Merangin (berkapasitas 60 kilo watt/kW), Desa Renah Sungai Besar Kabupaten Sarolangun (50 kW), Desa Talang Tembago Kabupaten Merangin (50 kW), Desa Rantau Suli Kabupaten Merangin (50 kW), Desa Baru Kabupaten Merangin (20 kW), Desa Gedang Kabupaten Merangin (50 kW), Desa Renah Sungai Ipuh Kabupaten Bungo (50 kW).

Lalu, Desa Koto Rami Kabupaten Merangin (60 kW), Desa Batu Kerbau Kabupaten Bungo (43 kW), Desa Raden Anom Kabupaten Sarolangun (18 kW), Desa Senamat Ulu Kabupaten Bungo (27 kW), Desa Tangkul Kabupaten Sarolangun (24 kW), Desa Lubuk Lawas Tanjung Jabung Barat (24 kW), Desa Simpang Narso (18 kW), Desa Berkun Kabupaten Sarolangun, Desa Ma. Pemuat Kabupaten Sarolangun, Desa Masgo Kabupaten Kerinci, dan Desa Bathin Pengambang Kabupaten Sarolangun.

Sedangkan air terjun yang berpotensi menyuplai listrik berkapasitas tinggi, sebanyak 12 titik di antaranya berada di Kabupaten Merangin, yakni air terjun Sungai Sigerincing Desa Muara Siau, Air Terjun Tuah Rajo Desa Ranatau Suli, Air Terjun Telun Tujuh Desa Rantau Suli (3,8 mega watt), Air Terjun Langkup Danau Pauh, air terjun di Desa Ranah Pelaan (200 kilo watt), air terjun di Desa Tiaro (50 kilo Watt), air terjun di Desa Sepantai Renah, Desa Terapung Air Liki, Desa Terapung Air Liki Baru, Desa Terapung Nagol Ilir, dan Desa Tanjung Beringin.

Selanjutnya, tiga air terjun yang berada di Kabupaten Kerinci, yakni di Desa Air Bahan I, Desa Air Bahan II, dan Desa Kuning. Sedangkan air terjun yang berpotensi dibangun PLTMH di Kabupaten Sarolangun, yaitu air terjun di Desa Simpang Narso, Desa Simpang Narso Kecil, Desa Padang Jering, dan Desa Pulau Langsat.

Lalu, empat air terjun berada di Bungo, yakni berada di Dusun Tanjung Bungo, Dusun Laman Panjang, Desa Sungai Talang, dan Air Terjun Telun. Terakhir, air terjun yang berada di Desa Semambu, Tebo.

Kendala Memanfaatkan Potensi Energi Air

Kabid Energi Dinas ESDM Provinsi Jambi Pandu Hartadinata mengatakan potensi PLTMH di Jambi cukup besar karena kondisi geografis wilayah ini. Namun, diakuinya potensi tenaga listrik itu kurang dimanfaatkan dengan baik.

Berbagai kendala muncul dalam pemanfaatan energi ramah lingkungan tersebut. Misalnya, sulit ditemukan suku cadang PLTMH, serta kekurangan sumber daya manusia yang secara profesional bisa mengelola dan merawat pembangkit listrik ini.

“Kalau Jambi ini potensi PLTMH besar. Kontur wilayahnya mendukung. Cuma kalau untuk sekala kecil, persoalannya banyak. Ketika tersambar petir, susah mencari onderdil di Jambi. Sumber daya manusia, berdasarkan pelatihan, tenaga lokal itulah yang dilatih tanpa sertifikasi. Kalau arah ke sana, banyak aspek yang harus dibenahi,” katanya, Senin (28/8).

Tidak hanya itu, jarak yang cukup jauh membuat Dinas ESDM Jambi kesulitan memantau PLTMH yang sudah dibangun. “Objek percontohan belum ada karena lokasinya jauh. Sulit termonitor. Jarak berkomunikasi menjadi kendala. Tetapi, kami sudah ada PLTS ( yang menjadi ojek percontohan),” ujarnya.

Target Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang mengaliri listrik konvensional (tidak terbarukan) dengan mendirikan tiang listrik di desa pedalaman, pun membuat Dinas ESDM Provinsi Jambi tidak bisa sembarangan membangun PLTMH. Padahal, dalam perencanaan PLN di RUPTL 2021-2030 terdapat rencana pembangunan 40 mega watt (MW) untuk PLTM di Provinsi Jambi.

Rizqi Prasetyo, Staf Program Akses Energi Berkelanjutan IESR, mengatakan perencanaan PLN tersebut dapat terus dipantau dan didorong untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan.

“Selain itu, pemerintah, PLN, dan lembaga-lembaga lain bisa bekerja sama mengembangkan PLTM/MH off grid sehingga dapat dimanfaatkan untuk penyediaan energi terutama di kawasan yang belum mendapatkan akses energi,” ujarnya, Selasa (5/9).

Menurut kajian IESR pada tahun 2021, potensi sumber daya air untuk energi dalam bentuk PLTMH di Indonesia cukup besar, yakni mencapai 28,1 giga watt (GW). Sedangkan potensi PLTMH di Jambi sendiri mencapai 185 MW.

“Berdasarkan analisis IESR di tahun 2022, secara nasional panas bumi dan hidro/air masih akan mendominasi suplai listrik dari energi terbarukan hingga tahun 2021-2025. Namun pada praktiknya, target kedua jenis energi tersebut banyak yang tertunda akibat beberapa faktor, misalnya perizinan dan waktu pembangunan. Khusus untuk PLTMH, sulit di-track perkembangannya karena terkadang tidak tersambung dengan jaringan PLN. Namun, maka potensi pengembangannya masih besar, terutama di kawasan yang belum mendapat akses energi,” ujar Rizqi.

Pemanfaatan PLMTH dapat dilihat di Dusun Senamat Ulu, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, Jambi. Terdapat 345 rumah warga yang tersebar di empat kampung di Senamat Ulu yang selalu terang karena pembangkit listrik ramah lingkungan itu.

PLTMH juga masih beroperasi di Desa Rantau Kermas, Kabupaten Merangin, Jambi. Berkat menjaga hutan adat, mereka dapat memanfaatkan pembangkit listrik ini untuk menerangi 115 rumah dan sejumlah fasilitas umum. (M Sobar Alfahri)

 

*Liputan ini didukung Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam program liputan mendorong transisi energi.

 

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts