Kisah Kehidupan Perempuan Tahanan Perang di Jambi pada Masa Kolonial Jepang

Buku Disguised (Sang Penyamar) adalah sebuah memoar perang yang ditulis oleh Rita la Fontaine de Clercq Zubli.

Oleh Herma Yulis*

PERANG Asia Pasifik (7 Desember 1941 – 2 September 1945) menjadi masa kelam bagi para perempuan di negara-negara yang dikuasai tentara Jepang. Tak sedikit jumlahnya perempuan muda dipaksa menjadi jugun ianfu atau pemuas nafsu tentara penjajah.

Mereka tak hanya dipaksa melayani nafsu seksual militer saja, namun juga kebutuhan seksual para pekerja asal Jepang. Paling sedikit sebanyak 200.000 perempuan dari Korea Selatan, Cina, Belanda, dan Indonesia mengalami masa kelam yang menyedihkan itu.

Mereka diambil paksa dari keluarga tanpa bisa melakukan perlawanan. Ini adalah kisah pilu yang tersisa selama kecamuk perang sekitar tiga setengah tahun lamanya.

Buku Disguised (Sang Penyamar) adalah sebuah memoar perang yang ditulis oleh Rita la Fontaine de Clercq Zubli, salah seorang perempuan berusia remaja yang menjadi korban perang. Dalam memoar ini Rita menceritakan kisah hidupnya selama masa pendudukan Jepang. Buku ini pertama kali terbit di London pada tahun 2007, kemudian dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, pada tahun 2009.

Rita tinggal bersama keluarganya, terdiri atas ayahnya yang keturunan Belanda-Indonesia, Victor; ibunya, Paula; kakak perempuan ibunya, Suus; dan dua adik laki-lakinya, Ronald dan Rene. Sebelum perang terjadi mereka tinggal di Pulau Jawa. Namun, pada bulan April 1941 Victor dipromosikan menjadi Kepala Bagian Post Telegraaf en Telefoondienst di Kota Jambi. Tugasnya adalah memberikan jasa pelayanan pos, termasuk juga layanan telegraf dan telepon.

Sekitar delapan bulan setelah mereka bermukim di Jambi, Jepang melakukan ekspansi ke Hindia Belanda. Tentara Jepang tiba di Jambi pada 17 Februari 1942 dan menjadikan orang Eropa dan keturunan Belanda – Indonesia sebagai tawanan perang.

Dalam rangka menyelamatkan diri di masa sulit itu, Rita terpaksa melakukan penyamaran menjadi seorang anak laki-laki. Penyamaran yang nyaris sempurna dan mampu mengelabui Jepang dan tahanan perang lainnya di beberapa kamp tahanan yang pernah ia tempati.

Untuk mengenang dan mendokumentasikan kisah hidupnya yang penuh warna selama masa perang, Rita menuangkannya dalam sebuah buku memoar perang yang sangat memikat. Kisah kehidupannya sebagai perempuan tahanan perang sengaja ditulis sebagai ungkapan rasa syukur bisa melewati masa sulit itu, serta sebagai wujud kasih sayang pada suami dan keempat anaknya. Rita ingin menceritakan kisah-kisah tentang kedua orangtuanya dan bibinya Tante Suus yang sangat banyak berjasa dalam hidupnya.

“Karena tak seorang pun dari anak-anak dan suamiku memiliki kesempatan bertemu mereka. Aku ingin anak-anakku tahu tentang apa yang disebut pengorbanan diri, terutama bagaimana bibiku, Tante Suus, mengorbankan masa depannya untuk merawat keluarga adik perempuannya. Dan berkat pengorbanannya itu, ia menjadi pahlawan bagiku. (halaman 10)

Rita memulai kisahnya sejak beredar kabar melalui radio dan surat kabar bahwa Jepang akan segera sampai di Jambi. Itu ibarat sebuah mimpi buruk yang kemudian menjadi nyata. Menjelang Jepang datang, para keluarga Belanda di Jambi sudah diperintahkan untuk segera mengungsi. Namun, orang tuanya menyembunyikan kabar itu dan tidak menceritakan kepada Rita dan adik-adiknya.

Kabar itu baru terungkap ketika suatu hari melintas iring-iringan mobil, truk, dan pick up di jalan depan rumah Rita. Ini adalah konvoi evakuasi warga Belanda menuju Kota Padang, kemudian dilanjutkan ke pulau-pulau terpencil di Samudra Hindia, dan bila perlu pergi sampai ke Australia.

Stien, salah seorang anggota rombongan itu memaksa mereka agar segera naik ke dalam mobil. Namun, tak mudah memenuhi ajakan itu. Orang tua Rita dilanda dilema, dikarenakan kondisi Paula yang menderita sakit jantung dan ginjal, sehingga sangat tidak memungkinkan bagi mereka untuk melakukan perjalanan jauh.

Dalam kondisi genting itu, akhirnya orangtuanya menitipkan Rita dan kedua adiknya kepada Tante Suus untuk ikut bersama rombongan evakuasi. Sementara ayah dan ibunya akan tetap tinggal di Jambi. Tentu saja Rita langsung menolak. Dia memutuskan akan tetap bersama orangtuanya, apa pun yang kelak akan terjadi.

“Aku tidak akan pergi ke mana pun, Mom,” kataku sambil menangis. “Aku akan tetap tinggal di sini bersamamu dan Poppie!” (halaman 28-29)

Rita tak menyesali keputusan yang dia buat kala itu. Apalagi beberapa hari berikutnya tersiar kabar bahwa sejumlah kapal yang membawa penumpang evakuasi terkena bom dan tenggelam. Jika kelompok dari Jambi yang terkena serangan tersebut – dan mereka ikut bersama rombongan – itu berarti dia beserta Tante Suus, dan dua adiknya tak akan pernah dapat bertemu dengan kedua orang tuanya lagi.

Menjadi Tawanan Perang

Pada 17 Februari 1942, rombongan tentara Jepang tiba Kota Jambi. Dua hari setelah konvoi militer mamasuki kota, dari radio mengudara siaran publik dalam bahasa Jepang yang diikuti dengan terjemahan dalam bahasa Melayu.

“Tentara Jepang tiba dan menduduki Jambi. Warga Belanda berada dalam tahanan rumah. Kini kami menjadi tawanan perang.” (halaman 47)

Dari sinilah kehidupan baru Rita dimulai. Demi keselamatan, dia kemudian menyamar menjadi seorang anak laki-laki. Rambut dipotong gaya laki-laki, dan selalu mengenakan pakaian laki-laki. Bahkan namanya pun diganti menjadi Richard dengan panggilan Rick.

Mereka ditempatkan dalam kamp tahanan perang di gedung sekolah tempat dia belajar sebelum Jambi dicaplok tentara Jepang. Di kamp tahanan itu, pria dan wanita dipisahkan meskipun mereka masih satu keluarga. Namun, dia beruntung karena masih berusia anak-anak sehingga bisa ditempatkan bersama ibu, bibi, dan kedua adiknya.

Meski kehidupan di kamp tahanan sangat tidak layak dan jauh dari kenyamanan dibandingkan kehidupan mereka sebelumnya, namun beberapa keberuntungan masih berpihak kepada dirinya. Kepiawaiannya memainkan alat musik akorden ternyata membuat kepala kamp Kapten Matoba memberikan perhatian kepada Rita alias Rick. Bahkan, kemudian Matoba memberikan tugas khusus sebagai penerjemah bahasa di kamp tersebut.

Setelah sembilan bulan Rick dan keluarganya menempati kamp itu, kemudian mereka diizinkan tinggal di luar kamp dan mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Walaupun dalam kondisi mengenaskan dan serba kekurangan, Rick dan keluarga merasa lebih baik karena mereka bisa berkumpul lagi dan tinggal bersama dalam satu rumah.

Victor kemudian diterima bekerja sebagai karyawan administrasi di perusahaan ekspor karet. Sementara Rick mendapat surat dari komandan kamp agar melapor ke Departemen Keuangan di gedung pemerintahan untuk bekerja di sana. Dari dua pekerjaan itu asap dapur mereka akhirnya bisa terus mengepul.

Namun, kebebasan itu ternyata hanya sebentar. Tepat di hari ketujuh setelah ibunya meninggal dunia, Jepang kembali membawa mereka ke dalam kamp tahanan perang. Kali ini mereka tidak ditempatkan di kamp tahanan sebelumnya, tapi dipindahkan menempati kamp yang lebih besar di Palembang.

Di kamp Palembang Rick kembali mendapat pekerjaan sebagai penerjemah bahasa. Selain dikarenakan ia menguasai bahasa Belanda, Jepang, Inggris, dan Indonesia, sebelumnya kepala kamp tahanan di Jambi juga membekalinya dengan surat rekomendasi agar mendapatkan pekerjaan itu.

Akan tetapi, petualangannya selama masa perang belum berakhir di kamp Palembang. Rick dan keluarga juga sempat menempati kamp Muntok, dan kemudian dipindahkan ke wilayah pantai barat Bengkulu. Status mereka sebagai tahanan perang berakhir di sini karena Jepang menyerah kalah kepada Sekutu setelah bom atom meledak di Hirosima dan Nagasaki.

Membaca buku ini membawa kita seperti ikut serta berpetualang di masa perang. Karena ini sebuah memoar alias kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulisnya, sehingga kisahnya pun dapat mengaduk emosi pembaca dengan segala peristiwa yang terjadi di masa itu. Memoar ini tak ubahnya seperti sebuah novel petualangan yang sangat enak dibaca dengan beragam konflik yang dialami para tokoh-tokoh yang dimunculkan.

Buku ini sangat layak dibaca bagi siapa saja yang mau mengulik lebih jauh bagaimana kondisi yang sebenarnya terjadi di masa kolonial Jepang. Terutama dari sudut pandang mereka yang kala itu menjadi tawanan perang dan menempati kamp tahanan.

Selain menarik bagi penggemar sastra, buku Sang Penyamar ini juga bisa menjadi bahan bacaan bagus bagi penggemar sejarah. Kita tak hanya dapat menikmati ceritanya saja, membaca buku ini juga akan memberikan gambaran bagaimana kondisi wilayah Jambi tempo dulu ketika masa kolonial Jepang. Demikian, dan mari membaca.

Judul Asli                    : Disguised
Judul Terjemahan    : Sang Penyamar
Penulis                         : Rita la Fontaine de Clercq Zubli
Penerjemah                : Vina Damayanti
Penerbit                      : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tebal buku                 : 384 Halaman
ISBN                           : 10: 979-22-4583-9
ISBN                           :13: 978-979-22-4583-7

 

*(Pencinta buku, tinggal di Batanghari)

Tulisannya berupa cerpen, artikel, opini, esei, dan resensi buku pernah dimuat di koran Kompas, Koran Tempo, Nova, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia (SINDO), Jurnal Nasional (Jurnas), Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Majalah Mata Baca, Majalah Medium, Jambi Independent, Minggu Pagi, Jurnal Seloko, dan Scientific Journal. Tahun 2016, bersama Puteri Soraya Mansur menerbitkan buku kumpulan cerpen Among-Amon

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts
Read More

Legenda Datuk Sipin

Jon Afrizal* “Dulu, dulu sekali. Sewaktu itu orang belum menamai suku dan bangsa. Sewaktu itu, matahari belum pernah…