Connect with us

Jejak

Kemunduran Islam di Zaman Kontemporer: Sebuah Refleksi Kebangkitan Islam

Published

on

Dandi, Mahasiswa Prodi AFI UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Angkatan 2020

Oleh: Dandi*

KILAS JAMBI – Melihat dari sejarah Islam beberapa abad yang lalu, banyak para filsuf muslim yang menjadi acuan seluruh dunia. Kemajuan yang telah dicapai oleh para filsuf muslim tersebut terjadi dalam berbagai aspek seperti: di bidang pendidikan, kesehatan, dan filsafat tentunya. Beberapa nama filsuf muslim yang populer seperti: Al-Ghazali, Ibnu Sina, Al-Farabi dan lainnya.

Pencapaian yang telah terjadi pada beberapa abad silam tentunya menjadi suatu romantisme sejarah dan sekaligus refleksi bagi ummat Islam kontemporer, khususnya kaula muda untuk berpikir mengapa Islam hari ini tidak mencapai masa keemasannya seperti era sebelumnya.

Kemunduran Islam di zaman kontemporer ini tentu menjadi tantangan bagi kita bersama saat ini. Bagaimana tidak, Islam yang dahulunya mengalami kemajuan, sekarang kondisinya berbanding terbalik; Islam semakin terbelakang. Bahkan remaja saat ini tidak memikirkan hal yang demikian, bagaimana agar Islam kembali seperti fase dahulu dengan segala macam kemajuan peradabannya? Tentunya pertanyaan ini sangat membingungkan untuk dijawab. Jalan satu-satunya adalah generasi muda harus membuat terobosan baru, agar Islam lebih dipandang di kancah nasional maupun internasional.

Refleksifitas kemunduran ini disebabkan oleh keegoisan diri masing-masing. Hari ini, kita tidak lagi melihat bagaimana sejarah perkembangan Islam yang sangat gemilang pada waktu dulu, bagaimana orang-orang hebat dahulu memperjuangkan agar Islam tidak dilihat sebelah mata. Sebenarnya kita sekarang hanya mempertahankan kemajuan Islam, karena para terdahulu telah menemukan teori-teori sehingga Islam mengalami kemajuan.

Kenyataan yang pahit harus kita rasakan bersama pula, bagaimana tidak, Islam yang dahulu mengalami kemajuan di segala bidang, sekarang hanya tinggal sejarah. Jika menilik lebih dalam lagi maka kita semua akan terkejut dengan penemuan-penemuan para filsuf dahulu.

Sayangnya sifat “bodoh amat” telah menjadi sifat permanen dalam diri kita, sehingga kita tidak lagi mementingkan hal tersebut. Padahal Bung Karno telah memberikan semangat untuk selalu mengenang sejarah dengan adegiumya yang terkenal Jas Merah (Jangan sekali-kali sampai melupakan sejarah).

Jika kau belajar hanya untuk diri sendiri maka ingatlah “ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah”, suatu ungkapan bahwa kita harus mengamalkan ilmu yang ada sehingga Islam di zaman kontemporer ini kembali bersinar dan mengalami kemajuan seperti dahulu.

*Mahasiswa Prodi AFI UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Angkatan 2020

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *