Bisnis Hijau Eksplorasi Lumbung Energi Jambi

KILAS JAMBI – Menara Rig pengeboran menjulang di sudut Desa Kasang Lopak Alai, Kumpeh Ulu. Duplikat bendera merah putih terlihat berkibar di bagian ujung menara. Selaras dengan tekad kuat “Pejuang Energi” saat memancang pipa-pipa tubular pada sumur pengeboran.

PT Pertamina (Persero) melalui anak perusahaannya Pertamina Drilling Service Indonesia (PDSI), sudah dalam 2 bulan terakhir melakukan aktivitas eksplorasi di struktur Puspa Asri 07, Kabupaten Muaro Jambi tersebut.

Kerja-kerja eksplorasi ini mengusung semangat Pertamina Go Green. Pertamina EP Asset-1 Field Jambi berkomitmen menerapkan aspek-aspek Health, Safety, Security and Environment (HSSE) dalam menjalankan seluruh operasional.

Salah satu poin yaitu “lingkungan atau environment” merupakan aspek yang menjadi perhatian khusus Pertamina EP Asset-1 Field Jambi dalam menjalankan kegiatan operasi di lapangan.

Berbagai upaya konkrit telah dilakukan Pertamina EP Jambi (PEP Jambi) sehingga eksplorasi minyak dan gas (Migas) bumi yang dijalankan berbasis ramah lingkungan. Di antaranya kegiatan pengeboran menggunakan bahan bakar biosolar jenis B30. Biosolar jenis ini mengandung minyak nabati sebesar 30 persen, di mana minyak nabati merupakan salah satu dari renewable energy—energi terbarukan.

“Di kegiatan pengeboran kami juga berupaya melakukan pengurangan sampah plastik, pemilahan sampah, serta penghematan listrik dan air,” kata Eko Yugi Priyanto, Asisten Manajer Produksi dan Operasi Pertamina EP Asset-1 Field Jambi, ditemui pertengahan Oktober 2022.

Lindungi Keanekaragaman Hayati

Wilayah eksplorasi minyak bumi Pertamina EP Jambi, semuanya beroperasi di darat (Land Rig) dan sebagian berada di sekitar kawasan hutan. Sadar kegiatan eksplorasi rawan mencemari kelestarian lingkungan, PEP Jambi berupaya menjaga konservasi sumber daya alam dengan program peningkatan indeks keberagaman hayati.

“Di program ini kami menanam beberapa jenis pohon produktif dan juga pohon endemik Jambi, seperti pohon bulian dan pinang merah,” kata Eko.

Ia menyebut, salah satu areal penambangan minyak bumi yang gencar dilakukan penghijauan dan penanaman pohon adalah kawasan Bajubang, Kabupaten Batanghari.

Selain penanaman pohon, penanganan limbah dan polusi dalam penggunaan energi di wilayah eksplorasi tak luput dari perhatian PEP Jambi. Dalam kegiatan pengeboran PEP Jambi menggunakan bahan kimia dan jenis lumpur bor yang ramah lingkungan. Limbah pengeboran berupa air pengeboran diolah di lokasi dengan menggunakan sistem pengendapan dan filtrasi, kemudian hasil olahan airnya digunakan kembali (sirkulasi) untuk kegiatan pengeboran.

“Sehingga airnya dapat digunakan berulang kali selama kegiatan pengeboran berlangsung,” kata Eko.

“Dan untuk penanganan limbah dan pengelolaan lingkungan mengikuti peraturan yang berlaku, serta mengacu pada dokumen lingkungan perusahaan,” tambahnya.

Jurus Pertamina Tekan Emisi Karbon

Mengurangi pelepasan emisi karbon ke udara di setiap aktivitas pengeboran juga dilakukan perusahaan energi pelat merah yang berpusat di kawasan Kenali Asam Atas, Kota Jambi itu. Meski pada dasarnya pelepasan emisi ke udara saat kegiatan pengeboran adalah salah satu prosedur untuk keselamatan operasional Rig, pelepasan emisi tersebut dalam bentuk pembakaran gas yang berlangsung intermitten selama kegiatan pengeboran.

Eko mengatakan, salah satu langkah yang dilakukan Pertamina EP Jambi untuk menekan emisi dengan cara melakukan pengaturan besaran aliran gas melalui scrubber sehingga terjadi pemisahan fase gas, minyak dan air untuk mengurangi black smoke saat melakukan pembakaran gas sebagai bagian dari prosedur keselamatan tes reservoir sumur eskplorasi.

Para “Pejuang Energi” sedang memancang pipa-pipa tubular di rig pengeboran struktur Puspa Asri 07, Kumpeh Ulu, Muaro Jambi. Kegiatan pengeboran dilakukan Pertamina Drilling Service Indonesia, foto: riki/kilasjambi.com

Jurus menekan emisi karbon seperti yang dilakukan PEP Jambi, merupakan salah satu bahasan utama dalam State Owned Enterprise (SOE) International Conference yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua-Bali.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan, pihaknya siap mendukung langkah transisi energi serta pencapaian Net-Zero Emission (NZE) di Indonesia. Pertamina berkomitmen untuk menerapkan kerangka Environment, Sustainability & Governance (ESG) di semua lini bisnis perusahaan.

“Penerapan kerangka ESG untuk mendorong keberlanjutan bisnis di masa depan,” kata Nicke dalam keterangan tertulisnya, Senin, 17 Oktober 2022.

Untuk mencapai target tersebut, ia mengungkapkan Pertamina telah menyiapkan strategi holistik yang didukung melalui 2 pilar. Pertama upaya dekarbonisasi dalam aktivitas bisnis, dan kedua pengembangan bisnis hijau yang baru.

Bisnis hijau atau bisnis Go Green adalah usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan. Bisnis ini juga berfokus pada pengurangan dampak lingkungan perusahaan. Hal ini bisa dilakukan dengan penekanan penggunaan bahan bakar, pengolahan limbah, dan lain-lain.

Sedangkan 3 enabler yang akan mendukung rencana Pertamina dalam mendorong Net-Zero, kata Nicke, pertama mengembangkan standar penghitungan karbon yang telah disetujui oleh regulasi nasional dan internasional, serta penerapan Carbon Pricing, dimulai dari internal Pertamina.

Selanjutnya, faktor kedua yaitu dengan membangun organisasi keberlanjutan yang akan mengawasi bisnis Pertamina di jalur yang benar untuk menuju Net-Zero Roadmap. Serta ketiga, keterlibatan pemangku kepentingan untuk mendukung target dan komitmen NZE Nasional.

“Melalui strategi holistik ini, pada 2021 Pertamina berhasil mencapai pengurangan emisi karbon sebesar 29% yang sedianya menjadi target di tahun 2030,” kata Nicke.

Komitmen Penghijauan

Seiring dengan kesepakatan internasional terkait pengurangan emisi. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi – Kontraktor Kontrak Kerja Sama (SKK Migas – KKKS) dengan prinsip masif, agresif dan efisien juga turut memastikan energi yang ramah, aman dan berkelanjutan, SKK Migas saat ini juga sudah mulai menerapkan teknologi CCUS (Carbon Capture Utilization and Storage) di beberapa lapangan baru. Selain itu, pada lapangan-lapangan yang sudah ada, SKK Migas dan KKKS juga berkomitmen untuk terus menerus melakukan penghijauan, khususnya di wilayah kerja Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).

“Sebagaimana kita ketahui bahwa penghijauan juga membantu pengurangan emisi,” kata Kepala Departemen Humas SKK Migas Perwakilan Sumbagsel, Andi Arie Pangeran. 04 November 2022.

Program penghijauan yang dilakukan Pertamina EP Jambi, foto: riki/kilasjambi.com

Selain penanaman yang sifatnya mandatori, SKK Migas – KKKS juga secara voluntary memiliki program penghijauan di seluruh wilayah kerjanya. Hal ini pun dilakukan dengan berkolaborasi dengan pemerintah daerah setempat bersama kementerian teknis, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Migas masih memegang pernanan penting untuk turut berkontribusi di dalam pemenuhan bauran energi,” kata Andi Arie.

Andi mengatakan, kegiatan eksplorasi Migas tentunya menjadi jantung yang harus terus berdetak untuk kesinambungan pemenuhan energi fosil, sebagaimana Migas merupakan SDA yang tidak dapat diperbaharui. Dan lama-kelamaan akan membutuhkan penemuan cadangan-cadangan Migas baru untuk menambah dan menggantikan cadangan yang sudah ada sebelumnya.

Harus Seimbang Nilai Ekonomi-Ekologi

NGO Warsi (Wahana Konservasi) sangat mendorong perusahaan energi bertaraf global seperti Pertamina menerapkan prinsip ESG dalam memulai dan menjalankan bisnisnya. Prinsip ini penting untuk memastikan kelompok usaha menjalankan usahanya dengan kaidah-kaidah yang mendorong konservasi sumber daya alam secara berkelanjutan, melalui tata kelola usaha yang baik dan benar, serta secara sosial diterima masyarakat sekitar kawasan operasional dan eksplorasi.

“Sebelumnya kita bisa melihat kekacauan pengelolaan sumber daya alam yang berujung pada kerusakan ekosistem yang memicu perubahan iklim, karena adanya ketidakseimbangan pengelolaan. Terlalu fokus pada nilai ekonomi dan tidak menghitung nilai ekologi,” kata Manajer Komunikasi Warsi, Rudi Syaf.

Menurutnya, dalam menjalankan operasional, perusahaan-perusahaan energi harus benar-benar berjalan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Apalagi untuk menurunkan emisi karbon, pemerintah sudah menerapkan sejumlah kebijakan. Selain menetapkan Net-Zero Emission tahun 2060, pemerintah juga sudah menetapkan Indonesia’s FOLU—Forest and Other Land Use Net Sink 2030–(pemanfaatan hutan dan penggunaan lahan). Di mana kemampuan hutan harus seimbang antara serapan dengan emisi yang dikeluarkan.

Dalam rancangan yang dibuat, dan kini tengah disosialisasikan ke pemangku kebijakan di daerah, Indonesia berencana untuk tercapainya tingkat emisi gas rumah kaca sebesar -140 juta ton CO2e pada tahun 2030. Untuk mencapai ini, kata Rudi, harus dilakukan dengan manajemen pengelolaan hutan berkelanjutan, tata kelola lingkungan dan tata kelola karbon.

“Tahun 2030 itu hanya 8 tahun dari sekarang, jadi pemerintah harus segera meninjau tata kelola kehutanan yang sudah berjalan. Jika kita memang berkomitmen untuk mencapai FOLU Net Sink ini, tentunya semua kegiatan operasional perusahaan yang belum ramah lingkungan harus segera ditinjau ulang,” tegasnya.

Untuk itu, pentingnya perusahaan-perusahaan energi mematuhi regulasi guna penurunan emisi dan berkontribusi dalam menjalankan kebijakan ramah lingkungan, termasuk program untuk memulihkan hutan. Khusus di Jambi, bila melihat tutupan hutan hanya tinggal 820 ribu hektare, dan hanya 18% dari kawasan hutan untuk keseimbangan ekosistem dan menurunkan risiko bencana ekologi.

“Maka hutan ini harus dipulihkan dengan melakukan penanaman kembali, penghijauan dan menjaga serta mempertahankan hutan tersisa,” kata Rudi.

Ditegaskannya, bila regulasi penurunan emisi ini tidak dipenuhi oleh pemegang izin konsesi maka pemerintah harus memberikan punishment, hingga pencabutan izin. Sebaliknya, perusahaan yang menjalankan regulasi mendukung penurunan emisi harus diberi reward. Ini akan menjadi solusi yang adil untuk semua.

Dalam kampanyenya, selain terus mendorong perusahaan-perusahaan energi menerapkan konsep ESG untuk menjamin kelancaran usaha sektor energi. Warsi juga mendorong perusahaan energi tidak bermasalah secara sosial dengan masyarakat sekitar kawasan eksplorasi. Terutama di wilayah-wilayah adat.

Eskplorasi energi juga harus dilakukan dengan pendekatan sosial yang melihat utuh kondisi masyarakat. Menurutnya, jangan tinggalkan masyarakat adat ketika wilayah itu dikelola dengan sistem adat oleh masyarakat.

“Berjalanlah dengan adat dan norma yang mengaturnya, sehingga pembangunan dan penggalian sumber energi yang dilakukan berjalan dengan baik dan mendapat dukungan dari masyarakat,” kata Rudi.

Warsi menghimbau kepada perusahaan-perusahaan energi, ketika ingin melakukan kegiatan apapun di wilayah masyarakat, maka pastikan hak masyarakat terpenuhi dan kehadiran perusahaan harus diakui terlebih dahulu.

“Jangan sampai aktivitas yang dilakukan menimbulkan luka sosial dan konflik di masyarakat, karena pasti ini akan menghambat kegiatan investasi yang berjalan dan memakan energi yang sangat banyak,” kata Rudi menegaskan.

Target Produksi 5.000 BOPD

Kawasan eksplorasi primadona di wilayah Pertamina EP Field Jambi, saat ini yang sedang masif dilakukan kegiatan pengeboran untuk peningkatan produksi berada di struktur Tempino, struktur Puspa Asri Kumpe Ulu, kemudian struktur Sungai Gelam. Semuanya masuk dalam wilayah Kabupaten Muaro Jambi.

“Tiga tempat ini aktivitas pengeboran sangat aktif,” kata Eko Yugi Priyanto, Asisten Manajer Produksi dan Operasi Pertamina EP Asset-1 Field Jambi.

Secara keseluruhan target produksi dari semua struktur yang ada di Field Jambi diharapkan bisa mencapai produksi 5.000 BOPD (barel oil per day).

Data produksi minyak bumi dari Field Jambi di masing-masing struktur adalah TPN-221 (NF/9) : 444.00 BOPD, PPS-06 (NF/9) : 276.17 BOPD, PPS-05ST (NF/9) : 254.93 BOPD, SKB-01 (NF/11) : 237.57 BOPD, dan TPN-219 (NF/11) : 145.63 BOPD.

Struktur Produksi (barel per hari)
TPN-221 (NF/9) 444.00 BOPD
PPS-06 (NF/9) 276.17 BOPD
PPS-05ST (NF/9) 254.93 BOPD
SKB-01 (NF/11) 237.57 BOPD
TPN-219 (NF/11) 145.63 BOPD
Data: Pertamina EP Asset-1 Field Jambi

Untuk menggenjot produksi, Eko membeberkan, upaya yang dilakukan dari kegiatan sumuran seperti dari sumur-sumur pekerjaan well intervention, kemudian dari pekerjaan-pekerjaan work over, kemudian dari regional atau zona juga dilakukan kegiatan pengeboran-pengeboran yang hasilnya signifikan.

Dari segi kualitas, menurut Eko, mutu minyak bumi di Jambi dibandingkan dengan field lainnya memiliki kendala yang tak berarti. Kendala seperti kepasiran, kemudian minyak berat, HPPO (minyak mentah yang memiliki titik tuang tinggi), serta parafinik sangat kecil.

“Jadi kegiatan untuk operasi di lapangan di sini kendalanya sangat bisa kita tekan lebih jauh,” kata Eko.

Meski begitu, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi PEP Jambi dalam kegiatan pengeboran. Tantangan itu berupa upaya pendekatan sosial terhadap masyarakat di sekitar kawasan eksplorasi.

“Upaya sosial ini yang menjadi tantangan kami yang sangat signifikan, Untuk itu di sini kita melakukan pendekatan-pendekatan ke masyarakat melalui kegiatan-kegiatan CSR,” katanya.

Sementara untuk wilayah eksplorasi baru, Eko mengatakan, sedang diupayakan di Puspa Asri 07, Kabupaten Muaro Jambi. Lalu di SKB 1 juga ada beberapa penelitian yang dilakukan lebih mendalam lagi.

“Mengingat SKB 1 saat ini masih tetap berproduksi cukup baik dengan hasil produksi sekitar 200 barel. Walau tekanannya rendah tapi water cut-nya sampai saat ini masih nol persen, tidak ada kadar air yang muncul,” kata Eko.

Dalam kegiatan pengeboran, ia sangat mengharapkan adanya dukungan dari pemerintah daerah, stakeholder dan masyarakat sekitar wilayah eksplorasi yang merupakan Proyek Strategis Negara (PSN).

“PSN ini yang kami jaga, kami rawat, kami operasikan. Agar bersama-sama dengan warga dan stakeholder bisa saling bersinergi dan berkesinambungan,” kata Eko.

Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah

Keterlibatan pemerintah daerah dalam pengelolaan minyak dan gas bumi tentu menjadi pemicu perputaran roda ekonomi di wilayah penghasil, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 37 Tahun 2016 tentang Ketentuan Penawaran Participating Interest (PI) 10% pada Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi.

Untuk diketahui, PI 10% merupakan besaran maksimal 10% pada KKKS yang wajib ditawarkan oleh kontraktor pada BUMD atau BUMN.

Gubernur Jambi, Al Haris, mengakui keterlibatan daerah dalam pengelolaan wilayah kerja Migas melalui PI 10% memberikan banyak manfaat. Pertama tentu saja memberikan keuntungan atau profit bagi BUMD yang akan menambah pendapatan asli daerah. Kedua adalah transfer pengetahuan.

“Ini akan memperkaya pengalaman BUMD sebagai kontraktor pengelolaan blok Migas,” kata Al Haris.

Mengantongi PI 10%, kata Haris, tentu menjadi target utama, karena pemerintah provinsi tidak memerlukan modal yang sangat besar. Lalu hasil dan manfaat yang didapat juga sepenuhnya menjadi milik daerah.

“Tentu saja yang terpenting hasilnya dapat digunakan untuk meningkatkan perekonomian daerah dan masyarakat,” kata Haris.

Untuk menggenjot produksi minyak dan gas bumi di Jambi, Al Haris menegaskan bila pemerintah provinsi berupaya memberikan kemudahan bagi KKKS untuk melakukan aktivitas eksplorasi di bumi “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah”.

“Kita bantu mempermudah dan mempercepat proses penerbitan perizinan di daerah, permasalahan yang timbul terkait pelaksanaan kontrak kerja sama yang dilakukan melalui instansi terkait juga kita bantu penyelesaiannya,” tegas Gubernur Al Haris.

SKK Migas – KKKS berharap melalui PI 10%, pemerintah daerah dapat memperlancar dan memperkuat kegiatan usaha Hulu Migas setidak-tidaknya dalam urusan perizinan dan urusan sosial kemasyarakatan. PI 10% tersebut akan diberikan kepada BUMD yang ditunjuk dan didirikan oleh pemerintah daerah, BUMD yang boleh terlibat dalam kepengurusan PI 10% yaitu BUMD dengan kepemilikan 100% Pemda atau minimal 99% Pemda + 1% terafiliasi dengan Pemda.

“Selain itu kepemilikan saham BUMD atas PI 10% tersebut tidak bisa dialihkan, diperjualbelikan ataupun dijaminkan ke pihak lain (swasta),” kata Kepala Departemen Humas SKK Migas Perwakilan Sumbagsel, Andi Arie Pangeran.

“Melalui PI 10% ini sudah ada BUMD yang kita libatkan sebagai kontraktor pengelolaan Migas, khususnya hal tersebut berasal dari perpanjangan kontrak kerja sama dan juga dari persetujuan pengembangan lapangan. Hal ini sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku,” kata Andi menambahkan.

Andi mengatakan, kolaborasi SKK Migas – KKKS dan pemerintah daerah termasuk masyarakat sejauh ini sangat mendukung kegiatan sektor Hulu Migas.

“Selain memastikan produksi Migas yang ada dapat berjalan lancar, kami juga perlu mendapatkan dukungan untuk dapat melakukan kegiatan eksplorasi,” kata Andi.

Saat melakukan kegiatan eksplorasi, lanjutnya, tentu KKKS tunduk pada peraturan yang ada termasuk dalam pemenuhan perizinan. Dalam pemenuhan perizinan di daerah, tentu peran pemerintah daerah juga besar, sehingga dampak positif kolaborasi sangat nyata. Semakin mudah dan cepat perizinan diperoleh, akan semakin cepat pula manfaat dari kegiatan Migas dapat dirasakan. Keberhasilan yang diperoleh dalam kegiatan eksplorasi dan produksi Migas, merupakan keberhasilan semua pihak.

“Dengan suksesnya dan lancarnya kegiatan Hulu Migas, juga akan memberikan dampak berganda bagi daerah. Mulai dari kontribusi retribusi, pengembangan daerah, penyerapan tenaga kerja lokal hingga dana bagi hasil Migas,” kata Andi Arie.

Serap Tenaga Kerja Lokal

Urusan selalu menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar kawasan eskplorasi memang dijadikan skala prioritas bagi PEP Jambi. Sebelum melakukan kegiatan pengeboran, PEP Jambi selalu melakukan sosialisasi kepada warga sekitar.

“Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pengeboran juga tidak luput dari perhatian kami, dengan menjadikan mereka tenaga kerja borongan untuk kegiatan pengamanan dan pekerjaan paritan,” kata Eko Yugi Priyanto.

Dalam rekrutmen tenaga kerja, penerapan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di kegiatan pengeboran dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Setiap personel yang bekerja di lokasi pengeboran telah mendapatkan pembekalan terkait penerapan K3 di lingkungan kerja dan setiap pagi saat pergantian shift dilakukan safety briefing terlebih dahulu. Promosi aspek K3 juga dilakukan di lingkungan pengeboran dengan cara pemasangan poster K3 di beberapa titik di dalam lokasi pengeboran.

“Penilaian penerapan K3 juga dilakukan saat kunjungan manajemen di kegiatan operasional pengeboran,” kata Eko.

Dampak positif kegiatan eksplorasi Pertamina diakui Pawi, Kepala Desa Kasang Lopak Alai, Kumpeh Ulu. Lokasi Struktur Puspa Asri 07 beroperasi. Terutama, dari penyerapan tenaga kerja lokal.

Pawi menyebutkan, puluhan warganya dari sektor tenaga kerja lokal non-skill diperbantukan sebagai petugas keamanan dalam kegiatan eksplorasi. Baik petugas keamanan untuk luar area eksplorasi, maupun bagian dalam area eksplorasi.

“SDM yang memang diperbantukan, menyesuaikan dengan fungsi dan kemampuan SDM di desa kami,” kata Pawi.

Dongkrak Ekonomi Pedagang Kecil

Dampak baik lainnya, kata Pawi, banyak warga pemilik warung makanan dan minuman terdongkrak secara ekonomi. Pertamina mempersilahkan warga untuk membuka kantin di luar area pengeboran minyak bumi.

“Warga diberi kesempatan berjualan sarapan pagi hingga makan siang, pelanggannya adalah rekan-rekan dari Pertamina,” kata Pawi.

Sementara, keberadaan tenaga skill Pertamina yang umumnya bukan warga lokal juga menjadi berkah bagi warga desa yang rumahnya disewa untuk keperluan base camp.

Sejumlah bantuan sosial dari Pertamina juga sudah dirasakan manfaatnya bagi warga Desa Kasang Lopak Alai, bentuk bantuan yang telah diterima di antaranya pembangunan rumah ibadah, serta sarana dan prasarana kantor desa.

“Bantuan lainnya adalah pemasangan gapura dan kegiatan keolahragaan,” kata Pawi.

Afrianto, Officer Comrel & CID Regional Sumatera Zona 1, mengatakan pihaknya memang selalu berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan SDM lokal yang ada sesuai dengan kebutuhan Pertamina.

“Setiap kegiatan eksplorasi untuk tenaga borongan pengamanan dan paritan, serta supporting lainnya melibatkan masyarakat lokal di bawah koordinasi kepala desa setempat,” kata Afrianto menegaskan.

Pemberdayaan Masyarakat

Di samping itu perusahaan juga memberikan santunan ke anak yatim dan kaum dhuafa di sekitar wilayah operasional, kegiatan CSR juga digalakkan di antaranya adalah program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian, dan di bidang pendidikan melalui program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Salah satu pemberdayaan masyarakat oleh PEP Jambi yang paling menunjukkan progres adalah terbentuknya Kelompok Hidroponik Barokah. Greenhouse ini menjadi primadona warga Kota Jambi dalam mencari pangan sehat, tempat ini juga menjadi tujuan ekowisata di akhir pekan.

Untuk diketahui, inisiasi pembentukan kelompok hidroponik di Kenali Asam Atas, Kota Baru, Kota Jambi tersebut dimulai akhir tahun 2019 lalu. Program pengembangan tanaman sayur-mayur organik baru berjalan di tahun 2020. Pemilihan bidang tanaman hidroponik didasari hasil dari kegiatan pemetaan sosial yang dilakukan Pertamina Hulu Rokan Jambi Field, yang menunjukkan bahwa di 25 RT di Kelurahan Kenali Asam Atas rata-rata masyarakat telah mengembangkan pertanian, perkebunan dan perikanan secara kelompok maupun swadaya.

Hasilkan Sayuran tanpa Pestisida

Neti, 49 tahun, salah satu warga yang terlibat dalam pengelolaan Kelompok Hidroponik Barokah. Neti pagi itu sedang berada di dalam greenhouse, yakni rumah bagi tanaman hidroponik. Bersama tiga rekannya, Neti membersihkan tanaman dari dedaunan kering dan meletakkan benih sayuran yang siap tumbuh.

“Kami juga menata tanaman, serta memastikan sayuran di sini bebas dari hama,” kata Neti.

Rumah hidroponik yang berada di Gerai Energi komplek PEP Jambi dihuni 13 jenis sayuran; mulai dari Kangkung, Sawi, Funjen, Bayam Brazil, Kale, dan lainnya. Tanaman ini dibudidayakan dengan cara hidroponik, tanpa menggunakan media tanah. Air selalu mengalir ke akar tanaman sehingga sayuran-sayuran yang tumbuh selalu segar.

Warga membeli dan memanen sendiri sayuran sehat hidroponik, sekaligus ekowisata di akhir pekan di gerai Kelompok Hidroponik Barokah, foto: riki/kilasjambi.com

Hidroponik itulah yang dirawat Neti dan rekannya. Saat ini Kelompok Hidroponik Barokah memiliki 8 anggota yang merupakan warga Kenali Asam Atas, semuanya perempuan.

Greenhouse yang dikelola Hidroponik Barokah memiliki luas sekitar 20×11 meter dengan 5.000 lubang tanam, sehingga digadang-gadang sebagai greenhouse yang terluas di Kota Jambi.

Kehigienisan Terjaga

Kegiatan bercocok tanam hidroponik Barokah, dimulai dengan penyemaian bibit sayuran di rockwool, yakni media tanam yang dapat menyerap air sekaligus udara lebih banyak dari tanah. Bibit yang telah tersemai diletakkan di tempat yang terhindar dari sinar matahari.

“Setelah 3 hari dan mulai tumbuh, baru dikeluarkan. Dipindahkan ke sini (greenhouse), dan masih terletak di rockwool. Hanya bibit sayur bayam yang harus diendap selama 5 hari,” kata Linda, 52 tahun, Ketua Kelompok Hidroponik Barokah.

Ketika sudah cukup besar, tanaman akan diletakkan di dalam lubang hidroponik. Penghuni greenhouse itu langsung menerima aliran air yang bernutrisi.

Tanaman yang hidup di sana, ada kalanya terancam hama seperti kutu dan ulat. Untuk mencegah tanaman diserang hama, anggota hidroponik Barokah tidak menggunakan pestisida, tetapi mereka menggunakan semprotan cairan alami yang diracik sendiri.

“Kita bikin cairan nabati, yakni dari daun pepaya. Ini untuk mencegah adanya hama, seperti kutu dan ulat,” kata Linda.

“Ini dilakukan sebulan sekali, tergantung kondisi daun. Jika sudah terlihat ada gejala pada daun, langsung disemprot,” tambah Nadira, anggota Kelompok Hidroponik Barokah lainnya.

Ketika berusia berkisar satu bulan, sebagian sayuran yang sehat dan tanpa pestisida siap dipanen. Sayuran itu akan dikemas dengan plastik yang tertutup rapat, sehingga kehigienisannya terjaga.

Aneka sayuran sehat itu dijual dengan harga terjangkau, seperti Kangkung Rp3.000 per 100 gram, Pakcoy Rp3.500 per 100 gram, Sawi Manis Rp4.000 per 100 gram, Bayam Merah Rp3.000 per 100 gram, serta Kale Rp10.000 per 100 gram.

Efek Berganda bagi Masyarakat

Linda mengatakan kegiatan bercocok tanam ini mendukung ketersediaan pangan yang sehat. Dampak ketahanan pangan ini tentu dirasakan para pembelinya yang ingin terhindar dari stunting atau gizi buruk.

“Jadi, mencegah kita dari stunting. Sayuran ini kadang kami olah sebagai nuget dan keripik bayam, agar anak-anak mau,” ujar Linda.

Tidak hanya itu, bisnis hidroponik ini juga membantu perekonomian anggotanya. Hal yang sangat dirasakan Nita yang suaminya bekerja serabutan.

“Bisa bantu suami saya menambah keuangan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, kadang bawa sayuran dari sini,” kata Nita.

Linda mengatakan, pembeli sayuran produksi hidroponik Barokah, berasal dari berbagai daerah. Pemasaran didukung dengan sistem online. Hasil yang didapatkan dibagi ke setiap anggota.

Komitmen PEP Jambi

Walau PEP Jambi tidak mengambil keuntungan dari hasil penjualan ini, PEP Jambi terus terlibat dalam pengembangan Kelompok Hidroponik Barokah. BUMN penghasil minyak dan gas bumi itu terus menyediakan bibit selama 5 tahun.

Selain itu, PEP Jambi juga menyiapkan fasilitas panel surya. Ketika aliran listrik di sana padam, panel surya dapat digunakan agar air terus mengalir menjaga tanaman tetap segar.

“Ada tenaga surya yang baru dibeli. Kalau listrik padam, otomatis tenaga surya aktif untuk menyalakan pompa air,” kata Linda.

Afrianto, Officer Comrel & CID Regional Sumatera Zona 1, mengatakan Gerai Energi merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat yang bergerak di bidang peningkatan ekonomi dengan mengusung konsep eduwisata urban farming.

Hingga saat ini Gerai Energi telah memiliki 2 program utama yang telah berjalan, yaitu hidroponik dan kuliner kue kering. Di mana setiap kegiatan dikelola oleh kelompok masing-masing.

Di awal inisiasi, kelompok diberikan bekal pengetahuan melalui pelatihan peningkatan kapasitas terutama dalam tahap produksi dan juga penguatan lembaga. Kelompok juga diberikan bantuan dalam bentuk barang sebagai modal awal untuk pengembangan kegiatannya.

Dalam proses kegiatan, perusahaan terus melakukan pendampingan rutin bagi kelompok. Bentuk pendampingan meliputi kegiatan monitoring berkala serta evaluasi setiap caturwulan.

“Hal ini dilakukan untuk mengetahui progres dan juga mengetahui kendala serta permasalahan yang dihadapi oleh kelompok, sehingga bisa segera diselesaikan dengan segera,” kata Afrianto.

Selain produksi, lanjutya, kelompok juga diajarkan mengenai tahap pemasaran, baik secara offline maupun online. Bentuk pemasaran online yang telah dilakukan sejauh ini adalah melalui media sosial. Di era perkembangan teknologi yang pesat saat ini, kemampuan dalam penggunaan media sosial menjadi keahlian penting yang harus dimiliki guna untuk memperluas jaringan pasar dan meningkatkan penjualan produk. Hal ini terbukti efektif, penjualan kelompok perlahan terlihat progres peningkatannya.

Bukan hanya secara online, juga dilakukan penjualan secara offline, baik melalui perorangan maupun bekerja sama dengan market place di Jambi. Hal lain yang dilakukan ialah kelompok tengah mengembangkan kegiatan wisata edukasi hidroponik bagi masyarakat, dengan membuka paket belajar hidroponik.

Ramah Lingkungan

“Selain penguatan dalam bidang ekonomi, kegiatan juga mengusung tema ramah lingkungan, yaitu dengan menggunakan solar cell sebagai sumber listrik bagi kelompok hidroponik,” kata Afrianto.

Selain itu, saat ini kelompok hidroponik tengah mengembangkan alat pembuatan kompos cair sebagai salah satu upaya pengurangan limbah sampah hasil produksi. Kompos cair ini akan digunakan sebagai nutrisi bagi hidroponik, sehingga bisa mengurangi pengeluaran pembelian nutrisi.

“Ke depannya, Gerai Energi akan terus dikembangkan dengan program-program baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga mampu memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, terutama wilayah Kelurahan Kenali Asam Atas,” kata Afrianto. (riki)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts