Benor FM, Suara dari Rimba

Sarolangun, Kilasjambi.com – Ruangan studio radio itu begitu sederhana. Hanya ada meja lesehan yang di atasnya berjejal perangkat siaran. Sementara di bagian dinding belakang terpajang spanduk bertuliskan Benor 88.8 FM, Radio Komunitas Orang Rimba.

Radio komunitas yang berada di pinggir Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), tepatnya di ujung Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Radio ini mengudara dan telah menjadi media alternatif untuk sarana interaksi dan penyebaran informasi bagi kelompok Orang Rimba.

Di ruangan studio itu, Nahan (18), penyiarnya mulai memasangkan perangkat penyuara kuping (headset). Dia langsung menghadap ke monitor siaran.

Pemuda Orang Rimba ini pun sudah siap memandu kabaron siang–program siaran berita yang menyiarkan informasi berbagai kehidupan dan aktivitas Orang Rimba.

“Selamat datang di Benor FM, radio kearifan lokal Orang Rimba,” begitu kata Nahan menyapa para pendengar ketika membuka siaran langsung program kabaron siang.

Meski mereka berada di pedalaman Jambi, kehidupan Orang Rimba kini sebagian besar telah berinteraksi dengan orang luar (orang desa). Sehingga dibutuhkan sarana komunikasi untuk menyuarakan aktivitas mereka di hutan.

Jangkauan Mencapai 30 Kilometer

Benor FM, radio komunitas Orang Rimba di Sarolangun, Jambi. (kilasjambi.com/gresi plasmanto)

Siaran langsung bersama Benor 88.8 FM siang itu dipandu langsung oleh penyiar Orang Rimba bernama Nahan (18). Dia sesekali menyapa pemirsa menggunakan bahasa rimba.

Menggunakan pemancar setinggi 40 meter, jangkauan siaran Radio Benor mencapai 30 kilometer. Siaran radio ini menjangkau komunitas Orang Rimba yang tinggal di kawasan hutan pedalaman Jambi.

Tak hanya menjangkau komunitas Orang Rimba, saluran radio ini juga menjangkau masyarakat pedesaan yang tinggal di Kecamatan Air Hitam.

Menurut Opung Hairil, teknisi Benor FM, siaran radio ini juga bisa dinikmati oleh Orang Rimba di Kabupaten Merangin, yang merupakan tetangga Kabupaten Sarolangun.

Karena menjadi sebuah radio komunitas, radio ini juga sering digunakan pemerintah untuk sosialisasi yang dikhusukan untuk menyasar kelompok Orang Rimba. Bahkan Mantan Menteri Sosial Khoiffah Indah Parawansa, pernah siaran di Radio Benor FM.

Radio Benor FM yang didirikan tahun 2011 itu menurut Sukmareni, Aktivis KKI Warsi, untuk membangun kesetaraan Orang Rimba dengan kelompok masyarakat di pedesaan. Radio ini juga sekaligus menjadi media alternatif yang melakukan transfer informasi, pendidikan, kesehatan, dan peningkatan ekonomi.

“Radio ini menjadi alat untuk mobilisasi dan menjadi informasi bagi Orang Rimba dan masyarakat desa di sekitar kelompok mereka,” kata Sukmareni.

Hampir satu dekade berjalan, radio ini menjadi satu-satunya radio yang beroperasi di pinggiran hutan TNBD, kawasan yang didiami lebih dari 1.700 jiwa Orang Rimba dengan 24 desa di sekitarnya.

Menyuarakan Kearifan Lokal

Orang Rimba di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas, Air Hitam Sarolangun, Jambi, saat mencari makanan di hutan. (kilasjambi.com/gresi plasmanto)

Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) adalah komunitas asli Jambi yang tersebar di kelompok-kelompok kecil di hutan-hutan sekunder, maupun di perkebunan karet milik masyarakat desa. Mereka hidup semi nomaden dan akan berpindah-pindah untuk mencari sumber penghidupan.

Nun jauh dari hiruk pikuk, ketika itu Orang Rimba sudah mendapat informasi tentang pandemi Covid-19 yang telah menjadi perbincangan masyarakat di dunia. Orang Rimba selalu khawatir jika mendengar kata wabah, atau mereka sebut dengan istilah gelaba godong (wabah besar). Ketika mendapat informasi tentang wabah penyakit, Orang Rimba memilih menghindar.

Saat pandemi kala itu, Radio Benor memiliki peran penting untuk menyosialisasikan bahaya pandemi. Begitu pula, radio ini turut menyuarakan kearifan lokal bahwa mereka telah memiliki cara mengkarantina jauh sebelum ada Undang-Undang Karantina Kesehatan.

Orang Rimba telah memiliki kearifan lokal untuk mengkarantina diri jika terjadi suatu wabah. Metode karantina itu mereka sebut dengan istilah bersesandingon atau memisahkan diri dari orang yang sakit.

Itu merupakan kearifan lokal atau cara alami yang ditempuh kelompok Orang Rimba untuk mengkarantina diri dari penularan penyakit. Orang yang sakit posisinya ketika dipisahkan itu disebut bercenenggo.

Aturan kearifan lokal ini lahir dari kehidupan Orang Rimba dan sudah dijalankan sejak zaman nenek moyang mereka, jauh sebelum ada UU Karantina Kesehatan dan juga imbauan jaga jarak yang digulirkan pemerintah.

Pun ketika mendapat informasi yang belum tentu kebenarannya mereka akan menghindari itu. Selain itu, kelompok mereka juga ketat, tidak sembarangan menerima tamu orang luar. Ketika ada tamu dari luar mereka akan meminta surat sehat atau surat negatif Covid-19.

Karena menjunjung tinggi kearifan lokal itu, masyarakat adat seperti Orang Rimba cenderung tidak tersentuh pandemi Covid-19. Besesandingon terbukti ampuh. Sampai hari ini di Provinsi Jambi belum ditemukan satu pun penularan Covid-19 pada Orang Rimba.

“Dengan nilai dan tananan sosial yang mereka miliki, kelompok Orang Rimba berusaha terlibat aktif dalam pencegahan penyakit ini,” kata Sukmareni.

(Gresi Plasmanto)

Total
2
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts