Tentang Sastra dan Kejiwaan

Jon Afrizal*

“Wahai jiwa
kau khawatir berlebihan.
Padahal tanganmu
penuh dengan harta
karun segala macam.” [Rumi]

Manusia, siapapun, mencinta keindahan. Satu diantaranya, adalah keindahan terhadap kata-kata.

Tetapi, jika kita menyebut bahwa kata-kata yang indah adalah sastra, mungkin tidak terlalu tepat. Sebab, sastra mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi, jauh dipermaknaan kata-kata yang terucap atau tertulis.

Pengalaman demi pengalaman kehidupan yang dijalani seseorang, akan memberikan makna yang berbeda, setiap ia menikmati sebuah karya sastra; baik itu puisi, drama, cerita pendek ataupun novel.

Inti dari sastra adalah mengasah perasaan manusia. Menjadi tajam untuk melihat apa yang terjadi pada dirinya dan orang lain.

Ada banyak, jika kita bicara sastra modern. Mulai dari Shakespeare hingga Rendra. Dari Kahlil Gibran hingga Wiji Thukul. Dari Hemingway hingga Pramoedya.

Sedangkan sastra klasik kita sendiri, adalah pantun dan gurindam selayak Amir Hamzah. Adalah “ratok” di Minangkabau. Adalah “nembang” di Jawa. Dan, tentu saja “mantra”.

Di dalam tubuh manusia, jika mengacu kepada Sigmund Freud, terdapat alam sadar dan tidak sadar. Alam sadar adalah apa yang kita rasakan kini. Sedangkan alam tak sadar adalah hal-hal berupa masa lalu dan keinginan, yang kemudian terwujud melalui mimpi. Begitu artian sederhananya.

Sehingga, adalah wajar, jika pemaknaan kita terhadap sebuah karya sastra terus berubah seiring waktu.

Seumpamanya, katakanlah, ketika kita sedang membaca karya-karya Kahlil Gibran di seperempat abad yang lalu. Bisa saja kita berkesimpulan bahwa lirik-liriknya adalah tentang cinta seorang lelaki kepada seorang perempuan yang dikasihinya.

Toh, sepanjang hidupnya, Gibran berkorespondensi dengan seorang wanita. Melalui surat berbalas surat itu, mereka bertukar pandangan tentang kehidupan.

Tetapi, kini, bisa saja berbeda. Terdapat kemurungan yang serius di dalam karya-karya Gibran. Kegelisahan seorang anak manusia terhadap jaman yang terus bergerak maju, dan meninggalkan begitu banyak luka.

Keresahan tentang sebuah dunia yang ideal baginya, yang tampak compang kian camping dari hari ke hari.

Seperti membaca kumpulan puisi-puisi Wiji Thukul di “Aku Ingin Jadi Peluru”. Tentu saja, penghilangan kata-kata yang terlanjur dikategorikan indah, harus kita tinggalkan jauh di belakang.

Yang kita lihat di sini, adalah pesan, dari orang yang bergerak di khasanah perburuhan. Tentu saja, kita tidak akan memahami makna puisinya, jika kita tidak menempatkan diri sebagai “buruh”, ketika membacanya.

Ada hubungan yang tidak berbentuk, di sini. Antara psikologi pelantun sastra dengan pembacanya.

Sebab, sastra adalah perenungan. Bukan, bukan dalam kondisi sedang termenung. Melainkan, jika menggunakan English, disebut contemplation, atau kontemplasi.

Kontemplasi, secara kejiwaan, terkait dengan horizon, atau wawasan berpikir, dan juga pengalaman.

Seorang yang tidak pernah mengalami, misalnya, kebingungan ketika dihadapkan dengan dua pilihan sulit, tidak bisa memahami dengan baik larik puisi Robert Frost, seperti penggalan ini,

“Two roads diverged in a yellow wood
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
Two where it bent in the undergrowth;”

Di dalam sastra, dikenal istilah “read between the lines”, yakni membaca sesuatu yang tak tertulis. Jika kita gunakan istilah jurnalistik, maka bisa disebut “di balik berita”.

Pesan dari sebuah karya, begitu istilah komunikasi menyebutkan, adalah menghubungkan antar pengalaman. Dan, pengalaman pembuat karya tentu berbeda dengan pembaca, baik waktu maupun tempat.

Sila disimak sepotong lirik lagu populer Indonesia ini,

“Sepanjang jalan kenangan
Kita selalu bergandeng tangan
Sepanjang jalan kenangan
Kau peluk diriku mesra ….”

Pertama sekali, anda tentu harus mengetahui kapan dan dimana sebuah karya dibuat. Khusus untuk lagu ini, ehm, itu adalah pada masa pendudukan Belanda di Indonesia.

Dapat anda bayangkan, apakah norma yang digunakan pada masa pendudukan Belanda adalah sama dengan masa aplikasi Zoom saat ini, misalnya.

Lirik lagu, adalah juga puisi, jika ia dianggap berdiri sendiri. Dan lirik-lirik indah yang digubah Katon Bagaskara di lagu-lagu Kla Project, atau puisi-puisi yang didendangkan Ebiet G Ade, adalah layak untuk dibedah dengan pisau Teori Sastra.

Seperti puisi-puisi cinta gubahan Jalaludin Rumi yang universal itu. Tentu saja anda harus menempatkan diri sebagai seorang “pecinta” yang haus akan “anggur” yang membuatnya “menari paku berputar” hingga pada akhirnya menyebut “huu”.

Mari, kita ke khasanah lokal, dan mendapati lirik ini,

“Iyolah nasib ketimun bungkuk
Dak masuk dalam timbangan ….”

Satu sisi, bercerita tentang seorang, yang di-metafora-kan dengan “ketimun”, dimana ia mengeluh karena tidak diperhitungkan di dalam sosial kemasyarakatan. Sisi lain, menyebutkan seorang yang rendah diri, karena, bahkan ia sendiri tidak menganggap dirinya sebagai sesuatu yang penting.

Tetapi, di dalam setiap karya, selalu ada budaya. Pada kasus lirik ini, adalah budaya Jambi. Budaya sebuah masyarakat dengan rentang jauh sebelum masa “kupon karet” hingga ketersisihan lokalisme.

Namun, di sana, anda akan melihat sebuah pesan. Yakni “merendahkan diri”. Atau sejenis tepo seliro, dan, tidak ingin dianggap terlalu “special”, melainkan “common”. Itu adalah sikap ketimuran.

Sastra adalah “permainan kata-kata”. Penikmat karya hanya berusaha menyelami arti terdalam dari setiap karya. Tentunya dengan metoda-metoda yang jelas, yang selalu diperbaharui dari waktu ke waktu.

Semua hasil dari “pemaknaan” yang dibuat oleh penikmat, hanyalah kemungkinan demi kemungkinan saja. Sebab, yang memahami sebuah karya yang dibuat, adalah, pembuatnya sendiri.

Tetapi, dengan memahami sastra yang baik, baik itu sastra klasik maupun modern, akan mengasah perasaan kita. Membuat kita peka terhadap apapun, seiring jaman yang bergerak maju, dan berpantang untuk menoleh ke belakang. *

* Jurnalis TheJakartaPost

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts