Siap-Siap, Musim Karhutla Segera Datang!

Jon Afrizal*

KILAS JAMBI – Provinsi Jambi sedang menghadapi pandemi global Covid-19. Meskipun, dinyatakan, kini telah memasuki “new normal”, tetapi masyarakat harus bersiap-siap untuk menghadapi bencana baru, yang selalu terulang setiap tahun, yakni musim Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang akan diikuti dengan kabut-asap.

Berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jambi per 15 Juli, total kasus Covid-19 sebanyak 125 orang. Secara rinci, yakni, 30 orang dirawat, 95 orang sembuh, dan dua orang meninggal dunia.

Sementara itu, musim Karhutla telah mulai unjuk diri. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi Jambi, terdata sebanyak 161 hektare lahan yang terbakar sejak bulan Januari hingga 18 Juli ini. Areal yang terbakar seperti tahun-tahun sebelumnya berada di Muarojambi, Batanghari, Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur.

“Untuk Kabupaten Tanjung Jabung Timur, luasan lahan yang terbakar mencapai 100 hektare,” kata Kepala BNPB Provinsi Jambi, Bachyuni, Sabtu (18/7).

Guna menghadapi kondisi Karhutla, pihaknya telah meminta bantuan BNPB Pusat untuk mendatangkan helikopter. Sebanyak tiga unit adalah water bombing dengan kapasitas masing-masing sebanyak 4.000 liter air, dan satu unit heli patroli.

“Helikopter untuk patroli telah mendarat hari ini, dan tiga unit waterbombing akan datang pada pekan depan,” katanya.

Menurutnya, sesuai dengan kebutuhan Provinsi Jambi, telah disiapkan 5 unit helikopter oleh BNPB Pusat.

Sejauh ini, katanya, telah dilalukan 18 kali hujan buatan untuk mengantisipasi sebaran api. Tetapi, hanya dua kali yang arahnya bergeser ke Provinsi Jambi, dan menyebabkan hujan pada bulan Juni lalu.

“Mengingat ini adalah kemarau basah, maka hujan buatan pun dihentikan,” katanya.

Untuk satu kali penyemaian proses hujan buatan, dibutuhkan sebanyak 800 kilogram garam untuk disemai.

Kondisi ini tidak terlepas dari Surat Keputusan (SK) Gubernur Jambi nomor 0532/Kep.Gub/BPBD-3/2020 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Karhutla di Provinsi Jambi Tahun 2020. Pada SK itu, Status Siaga Darurat Bencana Karhutla berlangsung selama 90 hari, yakni sejak tanggal 29 Juni hingga tanggal 26 September 2020.

Sejauh ini, masih tetap data lama yang digunakan, seperti 258 desa rawan bencana Karhutla sepanjang tahun 2015 hingga 2019 lalu.

Dan, tetap juga, seperti tahun-tahun sebelumnya, adalah Kabupaten Muarojambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Batang Hari, Sarolangun, Merangin, Tebo, dan Bungo.

Telah pula bersiaga sebanyak 360 prajurit TNI, 1.427 prajurit Polri, 285 personil Manggala Agni, 172 orang Brigdalkarhutla di setiap UPTD dan UPTD Tahura.

Selain juga 398 orang TRC BPBD se-Provinsi Jambi, 300 orang Masyarakat Peduli Api (MPA), 475 orang Masyarakat Destana Bentukan BNPB/BPBD (di 19 desa), serta 771 orang Regu Inti dan  1.556 Regu Bantuan personil dari perusahaan di bidang kehutanan/perkebunan.

“Total petugas yang besiaga adalah 5.744 orang,” kata Gubernur Jambi, Fachrori Umar.

. Anak anak yang bermain di sekitar sekolah mereka pada waktu kabut-asap menyerang di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kamis (17/9/2019). Banyak dari mereka tidak menggunakan masker pelindung alat pernafasan. (credit tittle : Jon Afrizal)

Sementara itu, Direktur Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Rudi Syaf mengingatkan kembali berbagai pihak terhadap kerugian yang akan diderita jika musim Karhutla tahun ini benar-benar terjadi.

“Pada tahun 2019 lalu, potensi kerugian alibat Karhutla adalah Rp12 triliun,” kata Rudi.

Pada tahun 2019 lalu, jumlah titik panas mencapai 30.947 titik dengan luasan 15.137 hektare. Sebanyak 64 persen arau 101.418 hektare berada di lahan gambut.

“Dari total lahan gambut yang terbakar itu, sebanyak 25 persen berada di areal gambut dengan kedalamanan lebih dari 4 meter,” kata Rudi.

Menurutnya, harus ada upaya nyata agar Karhutla tidak terjadi pada tahun ini. Mengingat, sekian banyak persiapan yang telah dilakukan pemerintah Provinsi Jambi itu.

Namun, selalu saja ada pihak yang terlupakan dalam setiap seremonial itu. Yakni masyarakat yang berada di sekitar areal gambut, yang selalu khawatir jika Karhutla menyambar desa mereka.

Dan kerugian akibat kebun pinang dan kopi milik warga desa yang terbakar tentu harus diperhatikan juga.

Supervisor Desa Peduli Gambut (DPG) Jambi, Hermansyah Sormin mengatakan di sepanjang 2017 hingga 2020, Badan Restorasi Gambut telah dan sedang mendampingi sebanyak tiga kabupaten. Yakni Muarojambi, Tanjung Jabung Barar dan Tanjung Jabung Timur.

Pada tahun 2019, telah didampingi delapan desa di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Muarojambi. Sedangkan untuk 2020, adalah delapan desa, yakni di Kabupaten TanjungJ Timur dan Muarojambi.

“Kami berusaha memberikan ekonomi alternatif bagi warga desa,” kata Hermansyah.

Ini agar warga desa yang kehilangan penghasilan akibat kebun mereka terbakar, tetap bisa berpenghidupan.

Ada beberapa jenis tanaman yang dapat dipanen singkat, yang telah mereka tanam, seperti jahe, misalnya.

Ada juga pertanian ikan lele, agar mereka mendapatkan konsumsi daging ikan untuk kebutuhan keluarga.

Dan, selalu saja dianggap tidak ada; yakni pengaruh kabut-asap yang bakal menyerang kesehatan warga.

Untuk mencegah pengaruh buruk kabut-asap ke tubuh, seperti biasanya, sedari dini masyarakat harus menyediakan masker, kacamata, dan juga tabung oxigen.

Dan butuh biaya untuk ke dokter guna memeriksa organ pernafasan, mata dan akibat-akibat lain dari kabut-asap. Bersiap-siaplah!

* Jurnalis TheJakartaPost

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts