Connect with us

Budaya

Setiap Orang Adalah Motivator

Published

on

Berkerja secara bersama-sama dapat memotivasi diri dan orang lain. Tentunya dengan bertukar pikiran dan saling berbagi ilmu, dan bukan berdebat. (credit tittle : Jon Afrizal)

Jon Afrizal*

Kita selalu bicara tentang “menasehati”, meskipun kadang “menggurui”. Tetapi, itu hanyalah artian saja.

Banyak anak muda yang seketika memberikan sikap “anti”, jika seseorang yang berusia lebih tua darinya, mengambil ancang-ancang, sembari bicara, “Apa yang kamu lakukan itu ….”

Mari kita gunakan bahasa dan teknik yang berbeda. Jika itu dimodernkan, maka disebut “motivasi”. Ada begitu banyak orang, yang dikenal sebagai motivator, di banyak media yang kita kunjungi.

Meskipun kini disebut profesi, karena akhiran -or di belakang kata motive menunjukan subjek, tetapi, tetap bermaksud “menasehati” atau “menggurui”.

Namun, siapapun yang menyaksikannya, tidak merasa “dinasehati” atau “digurui”. Yang terjadi, adalah, sebenarnya, permaknaan yang dibungkus dengan kata-kata dan teknik yang lain.

Siapapun, telah bersikap sebagai motivator, guru, atau penasehat. Kita gunakan kata yang lebih bijak, yakni “advice”.

Mari kita coba untuk masuk ke dalam pikir masing-masing. Dan, selalu menemui jebakan “benar” dan “salah”, dan seterusnya.

Tetapi, jika kita meminta orang lain untuk melihat diri kita, maka akan terbuka peluang bagi kita untuk memperbaiki hal yang salah, dan semakin memperteguh hal yang sudah benar.

Berusahalah untuk melihat berbagai hal dari sisi budaya. Kita bisa bicara tentang “sesuatu” yang pada era lalu tidak dianggap sesuatu yang sexy di kampus.

Yup, antropologi, sosiologi, sastra dan bahasa. Dulu, semuanya masuk ke Fakultas Sastra.

Dengan memahami kasanah budaya, kita akan berjalan seiring dengan maksud yang ingin dicapai seseorang atau kelompok. Dan, ini tentu sangat jauh berbeda dengan artian “penjilat” pada umumnya.

Seorang jurnalis, juga adalah seorang motivator. Ia harus membuat dunia yang lebih baik untuk ditempati, entah sampai kapan.

Sehingga, me-reportase sebuah kejadian bukanlah menyuguhkan “sesuatu yang mentah” untuk ditelan publik secara massal. Tetapi, memberikan analisa, hingga “matang” dan siap untuk dilahap.

Pada kondisi tertentu, reportase terkait kegiatan ilegal,   tentunya jurnalis harus mewawancai pelaku, sedapat mungkin menanamkan kepadanya bahwa apa yang dilakukannya itu adalah keliru, berikut juga hak dan kewajibannya.

Lagi lagi, kita bicara soal bahasa dan teknik di sini. Dan, ini bukanlah “agitasi” atau “provokasi” atau “mendakwa” seperti artian umum. Sebab, jurnalis bukan bagian dari sistem itu.

Kembali ke khasanah budaya, semuanya akan terhubung. Memahami budaya sebuah suku atau bangsa, akan membuat siapapun tetap nyaman. Tanpa melihat, ehm, warna kulit masing-masing.

Selain itu, sesuatu yang dianggap “mentertawai diri sendiri”, adalah juga senjata yang ampuh bagi siapapun untuk memperbaiki keadaan di lingkungannya.

Selanjutnya, kita akan memasuki dunia psikologi. Apa yang telah didengar telinga secara berulang-ulang, akan tersimpan di dalam ingatan.

Namun, itu belum tentu sebuah perubahan yang ingin di-motivasi-kan. Harus ada “sesuatu” yang dapat menyebabkan “tersimpan” dalam ingatan.

Kembali kita bicara masalah budaya di sini. Misalnya, dalam khasanah budaya Jambi, terdapat prasa “ntah iyo, ntah idak”. Dengan artian “sesuatu yang meragukan”.

Melihat masyarakat Jambi, adalah melihat contoh. Kenapa saat ini, misalnya, karet ditinggalkan untuk bertanam sawit, tentu dengan adanya contoh. Selanjutnya, kenapa sawit dipampas untuk kembali ditanami karet, tentu juga karena contoh.

Lagi lagi, “permainan” kata dan makna yang sesuai dengan khasanah budaya. Sebagai contoh, seorang profesor di bidang pertanian, tentu tidak bisa secara gamblang untuk turun ke petani, dan menjelaskan teori terkini tentang kesuburan tanah.

Tetapi, butuh “subjek” yang dapat menterjemahkan teori itu secara mudah dimengerti oleh petani. Siapapun bisa melakukannya, dengan memahami budaya.

Sehingga, profesor itu tidak menjadi “guru” di hamparan sawah, melainkan “motivator” bagi para petani. Intinya, tercipta kondisi yang lebih baik dari saat ini. Mari, saling memotivasi, dengan cara yang membudaya. ***

* Jurnalis TheJakartaPost

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *