KILAS JAMBI – Deni Setiawan, 21 tahun, terlihat membolak-balik halaman buku pelajaran Bahasa Inggris. Aktivitas senggang ini dilakukannya sembari menunggu dosen masuk ke ruangan kelas.
Deni merupakan mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Institut Agama Islam Muhammad Azim (IAIMA) Jambi. Mahasiswa kelahiran Desember 2003 ini sudah di semester 5.
“Memilih Bahasa Inggris karena sangat tertarik untuk mempelajarinya,” kata Deni di atas kursi rodanya.
Deni merupakan penyandang disabilitas tuna daksa, kondisi ini dialaminya bukan dari lahir. Namun ia mengalami kecelakaan lalu lintas saat masih berusia 5 tahun yang memaksanya untuk menggunakan alat bantu kursi roda.
“Dalam seminggu, 3 hari kuliah,” katanya melanjutkan perbincangan.
Deni pun menuturkan pengalamannya kuliah di IAIMA, mulai dari fasilitas dan kemudahan yang diberikan kampus untuk dirinya. Hingga bisa berinteraksi dengan banyak orang.
Deni mengaku begitu antusias untuk mengikuti setiap sesi perkuliahan, karena bisa memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Apalagi lingkungan kampus terasa begitu bersahabat dengan dukungan penuh dari teman dan dosen.
Berkeinginan Membuka Bimbingan Belajar
Untuk menuju kampus, Deni selalu diantar ayahnya. “Pergi pulang diantar jemput ayah,” kata anak ke-3 dari 4 bersaudara itu.
Ayahnya pula yang membantu Deni menuju ke ruangan kelas, ataupun ada aktivitas lain di kampus, terutama untuk urusan administrasi dan akademik.

“Saya ingin menjadi guru setelah lulus kuliah nanti,” kata Deni
Dirinya juga berkeinginan untuk membuka bimbingan belajar Bahasa Inggris di rumahnya di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sungai Gelam, Muaro Jambi.
“Kebetulan di depan rumah saya ada SD Negeri, inginnya mengabdi di sana sebagai guru,” kata Deni.
Untuk mengasah kemampuan Bahasa Inggris-nya, selain di bangku perkuliahan, Deni juga rutin membaca buku percakapan yang memiliki terjemahan Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris. Ia juga memanfaatkan teknologi dengan menggunakan aplikasi khusus Bahasa Inggris di gawai.
Peroleh Kemudahan dan Beasiswa Penuh dari IAIMA
Memiliki ayah yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan, Deni mendapat beasiswa penuh dari IAIMA Jambi. Beasiswa itu didapatnya langsung dari Dr. dr. H. Maulana, MKM., Ketua Yayasan Ahsanta Kampus IAIMA yang juga merupakan Wali Kota Jambi.
“Termasuk kursi roda ini juga bantuan pribadi Pak Maulana,” kata Deni.
Deni menceritakan bila Maulana juga yang memberi dorongan agar ia untuk meneruskan pendidikan ke bangku perkuliahan meski dirinya memiliki keterbatasan fisik dan ekonomi.
“Kata-kata Pak Mualana sangat memotivasi saya, termasuk dukungan dari guru-guru di SMP dan SMA,” katanya.
Deni yang menamatkan jenjang pendidikannya di SDN 126 Muaro Jambi, SMPN 4 Kota Jambi dan SMAN 10 Muaro Jambi juga memperoleh kemudahan dari kampus. Ia diberikan fasilitas untuk tetap menempati ruangan di lantai dasar kampus IAIMA Jambi.
“Alhamdulillah semua biaya ditanggung kampus, saya juga diberikan kemudahan oleh kampus,” katanya.
Deni pun diberikan amanah sebagai Kosma oleh kampus, dia yang mengkoordinir teman-teman sekelasnya untuk aktif mengikuti perkuliahan
IAIMA sebagai Kampus Inklusi
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIMA Jambi, Kaspul Anwar, M.Pd., Ph.D., menegaskan bila IAIMA berkomitmen menjalankan amanat undang-undang sebagai kampus inklusi, kampus yang memberikan ruang dan peluang selebar-lebarnya kepada kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan masyarakat adat.
“Seperti Deni yang kita berikan beasiswa dan kemudahan lainnya, kita juga memfasilitasi mahasiswa dari kelompok masyarakat adat, Orang Rimba, Mijak Tampung namanya, kuliah di Fakultas Syariah dan Hukum, sekarang sudah selesai dan telah resmi menjadi Advokat,” kata Kaspul.
Akademisi lulusan S3 Universiti Brunei Darussalam ini mengatakan, selain berupa beasiswa. IAIMA juga memberikan diskon untuk pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) bagi mahasiswa kurang mampu.
“Kampus IAIMA menjadi wadah pendidikan untuk semua lapisan,” kata Kaspul.
Melihat Deni yang bisa lebih percaya diri, sangat aktif dan antusias dalam perkuliahan, tentu menjadi indikator bahwa IAIMA sukses menjalankan visi dan misinya sebagai salah satu kampus inklusi di Provinsi Jambi.
“Deni ini hampir tidak pernah bolos dari jadwal perkuliahan. Mahasiswa yang memiliki keterbatasan fisik justru menjadi motor penggerak bagi teman-temannya untuk aktif kuliah,” kata Kaspul.
Meski berlabel sebagai kampus Islam, IAIMA Jambi juga membuka ruang bagi mahasiswa non muslim dalam program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL)–program pendidikan yang mengakui pengalaman belajar non-formal (seperti pengalaman kerja, pelatihan, atau sertifikasi) untuk dikonversi menjadi Satuan Kredit Semester (SKS)
“Melalui program RPL ini banyak mahasiswa non muslim yang kuliah di Fakultas Syariah dan Hukum IAIMA Jambi,” kata Kaspul.