Perempuan Disebut Jadi Target Strategi Industri Rokok

Foto dok IYCTC

KILAS JAMBI – Selama puluhan tahun, industri rokok telah melakukan eksperimen mendalam untuk menjadikan perempuan sebagai pasar potensial melalui desain produk yang spesifik. Di balik kemasan yang terlihat elegan atau varian rasa yang dianggap “ringan”, terdapat strategi manipulatif yang sengaja dirancang untuk menurunkan persepsi risiko kesehatan bagi perempuan.

Di hari perempuan internasional kali ini, pada Minggu 8 Maret 2026, Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) yang juga tergabung dalam Koalisi Save Our Surroundings, menegaskan bahwa kemajuan perempuan tidak akan optimal selama industri rokok terus mengeksploitasi identitas perempuan dan memperburuk beban ekonomi domestik.

Ni Made Shellasih, Program Manager IYCTC menjelaskan bahwa industri rokok telah lama melakukan riset mendalam untuk menciptakan produk yang terlihat ‘ramah’ bagi perempuan. Merujuk pada dokumen internal industri rokok yang dipublikasikan dalam studi Carpenter et al. (2005), industri secara sengaja memodifikasi parameter rokok, seperti aroma, kadar nikotin, hingga sensasi hisapan yang lebih halus agar lebih mudah diterima oleh perempuan.

“Industri ini sangat terencana dalam mendesain produknya. Mereka mengatur sedemikian rupa agar rokok terasa tidak tajam di tenggorokan atau menambahkan aroma tertentu untuk menciptakan ilusi bahwa produk ini lebih aman. Padahal, modifikasi tersebut murni taktik pemasaran untuk memperluas pasar ke kelompok perempuan yang sebelumnya bukan perokok,” jelas Shella

Shella menambahkan bahwa manipulasi ini berlanjut hingga ke ranah domestik dan menggerogoti kesejahteraan keluarga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten menempatkan rokok sebagai pengeluaran terbesar kedua setelah beras di rumah tangga pra-sejahtera. Ini angka yang menyakitkan karena artinya ada hak nutrisi keluarga yang dikorbankan.

“Dengan fakta bahwa satu dari dua laki-laki di Indonesia adalah perokok, jutaan perempuan terjebak sebagai perokok pasif yang berisiko tinggi secara kesehatan, sekaligus menjadi manajer krisis ekonomi di rumah mereka sendiri karena anggaran belanja tersedot oleh produk berbahaya ini,” tambah Shella.

Menyambung hal tersebut, Tifany Khalisa, Tim Ahli Analisis Kebijakan IYCTC, menegaskan bahwa regulasi saat ini seharusnya mampu melawan agresivitas industri yang sudah sejak lama memetakan perempuan sebagai target mereka.

“Secara kebijakan, kita memang punya PP 28/2024 Tentang Kesehatan, tapi kalau aturan turunannya masih memberi celah pada penggunaan rasa (flavor) atau iklan yang mengaitkan rokok dengan gaya hidup modern perempuan, maka regulasi ini belum efektif melindungi perempuan dari taktik industri yang sudah sangat matang tersebut,” ucap Tiffany.

Tiffany juga menekankan pentingnya instrumen fiskal untuk melindungi kesejahteraan perempuan di level mikro. “Kita harus ingat kalau menurut UU Cukai Tahun 2007, fungsi utama cukai itu untuk pengendalian konsumsi produk yang punya dampak negatif luas. Rokok adalah contoh nyata kalau konsumsinya merugikan orang di sekitar dan membebani negara. Jadi, kenaikan Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang signifikan itu mendesak agar harga rokok jadi mahal dan tidak lagi ‘receh’. Kalau harganya tinggi, anak-anak dan masyarakat prasejahtera tidak akan semudah itu mengakses rokok, dan uangnya bisa selamat untuk kebutuhan yang lebih penting, yaitu pendidikan dan nutrisi keluarga,” tegasnya.

Sebagai penutup, Edginne Nadia, dari Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) memberikan peringatan keras mengenai dampak biologis jika perempuan terus menjadi target industri.

“Secara medis, paparan zat kimia dalam rokok yang didesain ‘halus’ justru memungkinkan racun masuk lebih dalam ke sistem pernapasan dan peredaran darah. Bagi perempuan, ini dampaknya sangat spesifik, bisa mulai dari gangguan siklus menstruasi, penurunan kesuburan, peningkatan risiko kanker serviks dan payudara yang jauh lebih tinggi. Belum lagi risiko pada kesehatan reproduksi seperti komplikasi kehamilan dan berat badan lahir rendah,” tutupnya

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts