Ringkasan Berita
- Inovasi Screen Guard Pre-Filter (SEGER) yang dikembangkan Aprianto bersama tim Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang membuktikan bahwa teknologi ramah lingkungan tak harus mahal.
- Dengan biaya sekitar Rp20 juta, alat berbahan aluminium dan stainless steel ini mampu menyaring kotoran pada saluran udara Thermal Oxidizer (TOX).
- Berkat invovasi alat “SEGER” ini PHE Jambi Merang berhasil menurunkan emisi sebesar 2.211,61 ton CO₂-ekuivalen sepanjang 2024–2026 dan menghasilkan penghematan biaya sekitar Rp809 juta yang diperoleh dari pengurangan emisi tersebut.
- Inovasi “SEGER” menjadi contoh nyata solusi teknis dan praktis untuk meningkatkan efisiensi operasional hulu migas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Menara Thermal Oxidizer (TOX) setinggi 15 meter itu berdiri kokoh di area Central Gas Plant Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang di Sungai Kenawang, Desa Kaliberau, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Di bagian bawah menara, belasan alat berbentuk menyerupai gelang dengan diameter 60 centimeter tampak terpasang mengelilingi kaki menara pada ketinggian dua meter dari permukaan tanah.
“Itu alat namanya SEGER,” kata Aprianto selaku Teknisi Mekanik Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang ketika dihubungi dari Jambi pada Senin, 26 Oktober 2026.
Alat SEGER yang dimaksud Aprianto adalah Screen Guard Pre-Filter. Sudah hampir tiga tahun alat hasil inovasi Aprianto dan rekan-rekannya itu dipasang di unit saluran udara Thermal Oxidizer. Sesuai dengan namanya, alat itu berfungsi sebagai penyaring awal kotoran acid gas atau gas asam (CO2 dan H2 S) yang diproses melalui unit Thermal Oxidizer sebelum dilepaskan ke udara. Alat tersebut dipasang pada semua lubang air intake atau saluran udara di kaki menara TOX.
Alat penyaring yang diciptakan Aprianto dan kawan-kawannya itu berangkat dari masalah utama yang kerap dihadapi industri hulu minyak dan gas bumi. Aprianto menjelaskan, gas alam yang berasal dari perut bumi terlebih dahulu melewati serangkaian proses pengolahan dan pemurnian di fasilitas Central Gas Plant. Proses tersebut bertujuan menghasilkan gas yang memenuhi kebutuhan konsumen.
Namun dalam proses pengolahan itu, terdapat gas sisa atau gas asam (acid gas) yang perlu ditangani sebelum dilepaskan ke udara. Salah satu perangkat utama yang digunakan untuk membakar gas tersebut adalah Thermal Oxidizer atau TOX.
Tapi masalahnya kata Aprianto, unit TOX kerap tidak efektif ketika saluran masuk udara (air intake) kotor akibat digunakan terus menerus. Kondisi ini justru menambah beban pembakaran gas sekaligus meningkatkan beban emisi akibat sistem filter utama kotor dan tidak optimal.
“Nah saat kita membersihkan filter utama itu unit TOX harus dimatikan, dan pembuangannya dialihkan lewat pembakaran suar atau flaring. Itu tentu tidak efisien dan emisi yang dihasilkan bisa meningkat,” ujar Aprianto.
Singkat cerita untuk memecahkan masalah ini tim internal PHE Jambi Merang yang diketuai Aprianto berhasil menciptakan inovasi alat SEGER. Inovasi itu mulai dirancang Februari 2023 dan kemudian dioperasionalkan pada tahun 2024. Menurut Aprianto, cara kerja alat ini cukup sederhana.
Alat ini dirancang untuk bekerja menyaring kotoran acid gas yang masuk ke filter utama. Sehingga dengan dipasangnya alat ini, filter utama tetap resik. Begitu pula udara di sekitar yang masuk ke ruang pembakaran dan kontaminasi yang terkadung di dalamnya akan terperangkan di alat penyaring tersebut.

“Jadi yang kotor hanya alat SEGER itu. Tapi alat SEGER ini mudah untuk dibersihkan, tinggal plug and play (lepas-pasang). Pembersihannya juga mudah dan tidak perlu mematikan unit TOX dan tidak ada pakai flaring,” kata Aprianto.
Tak hanya penerapannya yang gampang. Membuat alat SEGER itu kata Aprianto juga mudah. Alat ini dibuat dengan bahan alumunium dan stainless steel. Seluruh proses pembuatan alat, termasuk bahan-bahan hanya memakan biaya sekitar Rp20 juta saja.
“Alat atau bahan materialnya mudah didapat di pasaran. Sistem kerja alatnya simpel, namun punya dampak yang signifikan untuk lingkungan,” ujar Aprianto.
Atas inovasi alat tersebut, Aprianto dan kawan-kawannya itu diganjar penghargaan Gold and Best Eco Innovator dalam Forum CIIF Regional I Tahun 2024. Tak hanya itu, inovasi alat SEGER ini tercatat sebagai yang pertama diterapkan di sektor hulu minyak dan gas bumi di Indonesia. Keunikan inovasi ini telah diakui secara remsi melalui hak paten yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) pada 2025.
“Kami berharap inovasi alat ini bisa diterapkan di tempat lain, terutama di lingkungan Pertamina. Sehingga bisa menjaga keberlanjutan lingkungan,” kata Aprianto.
Memangkas Emisi
Industri hulu migas di belahan dunia masih menjadi sektor penyumbang emisi yang paling besar, tak terkecuali di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), emisi karbon yang berasal dari sektor migas mencapai 44 juta ton CO2 equivalent pada 2030. Sedangkan hingga 2060, total emisi dari sektor migas diperkirakan mencapai 1.149 juta ton CO2 equivalent.
Sebagai gambaran operasional saat ini, emisi gas rumah kaca di sektor hulu didominasi oleh aktivitas pembakaran stationer (stationary combustion) serta pembakaran gas suar (flaring).
Kini di era modern dan perkembangan teknologi, operasional industri energi dituntut untuk semakin ramah lingkungan. Dalam menjawab tuntuntan itu, Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang telah menghadirkan SEGER–inovasi alat sederhana, namun berdampak besar terhadap operasional perusahaan.

Environment Specialist pada PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang Anastasia Dinda Prinaningrum mengatakan, gas alam dari perut bumi mengandung gas asam yang wajib dipisahkan supaya memenuhi spesifikasi jual beli gas. Gas asam itu mesti dibakar melalui sistem Thermal Oxidizer (TOX) agar emisinya memenuhi batas baku mutu.
Namun selama ini setiap proses pembersihan filter utama mengharuskan sistem TOX dimatikan sementara, dan gas asam dialihkan melalui proses flaring. Selain itu, sebelumnya filter udara harus dibersihkan 3 kali setiap tahun dan setiap proses pembersihan sistem TOX harus dimatikan dan dihidupkan, yang berpotensi mengganggu operasi.
“Kondisi ini menambah beban emisi dan membebani kerja peralatan karena unit harus dimatikan dan dihidupkan ulang,” kata Dinda.
Walakin setelah lahir inovasi alat SEGER dan dipasang di unit TOX itu membuat proses pembersihan filter kini dilakukan sembil produksi berjalan normal. Sehingga, frekuensi shutdown TOX untuk keperluan pembersihan filter utama turun dari 3 kali pertahun menjadi nihil. Proses pembakaran gas melalui flaring yang menambah beban emisi pun tidak diperlukan.
Alat SEGER itu menurut Dinda, bukanlah teknologi pengendali emisi baru. Kehadiran alat ini melainkan modifikasi cerdas pada sistem air intake yang berdampak langsung pada penurunan emisi. Alat ini bisa dilepas-pasang sehingga filter dapat dibersihkan tanpa mematikan TOX. Selain itu, alat ini memakai saringan stainless steel 40 mesh sebanyak 16 unit, dengan efisiensi filtrasi sekitar 80 persen dan penurunan tekanan awal maksimal 45 Pascal.
“Desainnya sederhana, tetapi bisa mencegah pembakaran gas asam di flare yang sebelumnya tak terhindarkan saat pembersihan filter,” kata Dinda.
Meski sederhana, namun dampak alat ini cukup mentereng. Hasilnya berdasarkan kajian tim internal, sepanjang 2024-2026 semenjak alat SEGER itu dipasang berhasil menurunkan emisi sebesar 2.211,61 ton CO₂-eq dengan nilai penghematan biaya dari pengurangan emisi itu sekitar Rp809 juta.
“Manfaat lainnya adalah risiko gangguan operasi semakin berkurang, dan keandalan serta umur peralatan, termasuk sistem flare lebih terjaga, karena volume gas yang dibakar di flare menurun signifikan,” ucap Dinda.

Dinda menjelaskan, alat SEGER dikembangkan dan mulai diterapkan secara operasional pada 2024. Proses lahirnya inovasi ini sangat panjang. Ia harus melalui survei dan pengumpulan data operasional, studi dan desain rekayasa, pengajuan Management of Change (MoC), pengadaan dan fabrikasi, pemasangan, hingga pengujian agar sesuai persyaratan operasional.
“Inovasi alat SEGER ini sepenuhnya merupakan inisiatif dan hasil karya internal PHE Jambi Merang. SEGER lahir dari kajian dan evaluasi internal kami atas sistem operasi yang berjalan, sebagai wujud komitmen pada pengelolaan lingkungan dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), dan berbasis standar environmental social and governance (ESG), ” ucap Dinda.
Solusi Teknis dalam Menopang Produksi Gas
Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang, anak perusahaan Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina. PHE Jambi Merang juga masih bagian dari Zona 1 Regional 1-Sumatera Pertamina Hulu Rokan (PHR).
PHE Jambi Merang memiliki luas wilayah kerja seluas 972,9 kilometer persegi dengan lokasi utama di Sungai Kenawang, Desa Kaliberau, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, atau 76 kilometer dari Kota Jambi dan 195 kilometer dari Kota Palembang.
Saat ini PHE Jambi Merang masih menjadi backbone atau penopang produksi migas di wilayah Zona 1 Pertamina Hulu Rokan. Berdasarkan data statistik minyak dan gas bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2025, rata-rata produksi gas bumi PHE Jambi Merang mencapai 126,8 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Sementara produksi minyak bumi mencapai 5.055 barel per hari (BPOPD).

Catatan produksi migas itu tak lepas dari berbagai upaya dan sumbangsih awak Pertamina dalam menciptakan inovasi. Dalam menghadapi perkembangan teknologi dan era easy oil yang sudah mulai hilang dari dalam perut bumi, transformasi dan penciptaan inovasi menjadi pilihan utama Pertamina, ditambah tantangan lapangan kian kompleks.
Di tengah perkembangan zaman, praktik inovasi menjadi elemen penting yang tak terpisahkan dari industri minyak dan gas bumi (migas). Keduanya berperan dalam meningkatkan efisiensi, mengoptimalkan produksi, sekaligus memperkuat kontribusi industri migas terhadap keberlanjutan lingkungan.
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (Puskep UI), Ali Ahmudi menjelaskan, secara umum rantai pasok industri migas terbagi menjadi tiga bagian, yakni hulu, tengah, dan hilir. Ketiganya saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan dalam memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat.
Di antara ketiga sektor tersebut, menurut Ali, industri hulu memiliki posisi strategis karena menjadi titik awal pencarian dan produksi sumber daya minyak dan gas bumi. Menurut Ali, pemanfaatan inovasi menjadi semakin vital bagi keberlangsungan industri hulu migas. Meski keterlibatan manusia tetap dibutuhkan, berbagai proses operasional perlu didukung oleh inovasi yang mampu meningkatkan ketepatan dan efektivitas pekerjaan.
“Industri hulu itu jadi sumber kekayaan utama, sehingga dibutuhkan inovasi supaya industri hulu energi kita semakin maju dan berdaya saing,” ujar Ali Ahmudi.