Connect with us

Wisata

Menjajal Bukit Tamulun, Pendakian yang Pacu Adrenalin

Published

on

Bukit Tamulun, Limun, Sarolangun, Provinsi Jambi, foto: husaini

KILAS JAMBI – Ingin memacu adrenalin? kalian bisa mencoba mendaki Bukit Tamulun, bukit karst yang berada di Desa Berkun, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun. Bukit Tamulun menawarkan pengalaman yang bikin jantung berdetak kencang. Namun, bila sudah sampai di puncak bukit, kalian akan menemukan surga tersembunyi, alam menyuguhkan pandangan yang menakjubkan.

Bukit Tamulun yang merupakan bagian dari kawasan Bukit Bulan ini mungkin belum setenar Bukit Khayangan di Kerinci, tapi bentang alamnya masih begitu asri dan orisinil. Dikelilingi bebukitan yang masih ditumbuhi rerimbunan pepohonan, orkestra alam yang dimainkan aneka burung dan primata, hingga hamparan hijau sawah yang menyejukkan mata. Belum lagi, bila anda mendaki saat pagi hari, kabut yang menyelimuti Bukit Tamulun, membawa kita serasa berada di negeri di atas awan.

Setibanya di kaki bukit, kita sudah disuguhkan suara alunan damai dari gemercik air yang mengalir di sela bebatuan kali. Suara air seolah menyambut dan mengucapkan ‘selamat datang’ di Bukit Tamulun.

Aliran air di kaki Bukit Tamulun, foto: kilasjambi.com

Menuju Bukit Tamulun dari Desa Berkun, aksesnya cukup mudah dilalui, jalan setapak yang hanya bisa dilintasi pejalan kaki, sangat membantu pengunjung mencapai kaki bukit. Terlebih, pemandangan kawanan kerbau di areal sawah warga, ampuh menghilangkan lelah saat melewati jalan setapak.

Untuk mendaki Bukit Tamulun, memang hanya dibutuhkan waktu 20-30 menit dari kaki hingga ke puncak bukit. Hanya saja, jalan yang terjal dan melewati tebing batuan gamping, menjadi tantangan tersendiri, pengunjung harus lebih berhati-hati meniti jalanan yang sempit dan licin. Apalagi sesekali kita harus melewati sela-sela pohon yang tumbang.

Beruntung, warga lokal menyediakan tali dan tangga untuk memudahkan pengunjung mendaki bagian bukit yang memiliki sudut kemiringan nyaris 90 derajat, di sudut kemiringan ini memang dibutuhkan tenaga ekstra.

Butuh tenaga ekstra untuk mendaki Bukit Tamulun, namun warga setempat telah menyediakan tali untuk mempermudah pengunjung mendaki, foto: hidayat/kilasjambi.com

Bila mencapai puncak, tenaga yang terkuras ketika mendaki, segera terpulihkan ketika menghirup udara yang bebas dari polusi, alam benar-benar memanjakan. Susunan batu-batu seperti stupa di puncak Bukit Tamulun, serasa membawa kita di bebatuan surga.

Sejauh mata memandang, pohon-pohon yang menjulang di hutan adat Bukit Bulan, serta ragam burung yang hinggap dari dahan ke dahan lainnya menjadi tontonan yang membuat kita tak ingin beranjak dari puncak surga tersembunyi ini.

Pengunjung menikmati pemandangan alam di puncak Bukit Tamulun, foto: kilasjambi.com

Di atas puncak bukit, untuk melepas lelah, pemuda setempat juga menyediakan dua gazebo sederhana untuk pengunjung beristirahat, sembari mengabadikan momen-momen menarik dalam jepretan foto. Namun saat mengambil foto, pengunjung diminta untuk tetap berhati-hati karena puncak bukit yang curam.

Bukit Tamulun berstruktur bebatuan gamping atau batu kapur, bebatuan ini adalah batuan sendimen yang tersusun dari mineral kalsit dan aragonit, yang merupakan dua varian yang berbeda dari kalsium karbonat (CaCO3). Batu gamping merupakan batuan dengan keragaman penggunaan yang sangat besar. Batuan ini menjadi salah satu batuan yang banyak digunakan dibandingkan jenis batuan-batuan lainnya.

Bukit Tamulun banyak dikunjungi saat hari-hari besar, seperti hari libur lebaran dan merayakan Agustus-an, serta perayaan tahun baru, “Siapa saja yang mau berkunjung, kita harus ramah terhadap pengunjung,” kata Baharudin, Tokoh Masyarakat Desa Berkun.

Saat hari-hari biasa, kata Baharudin, pengunjung yang ingin ke Bukit Tamulun tidak akan dipungut biaya. Namun saat hari besar pengunjung akan dikenakan tarif karcis sekitar lima sampai enam ribu rupiah perorang, tarif yang sangat terjangkau.

Gazebo disiapkan pemuda lokal untuk istirahat pengunjung, foto: kilasjambi.com

“Ke depan, wisata Bukit Tamulun ini rencananya akan dikelola oleh pemuda dalam bentuk Bumdes,” kata Baharudin.

Baharudin yang merupakan Ketua Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Desa Berkun mengatakan, selain wisata Bukit Tamulun, komoditi buah Kepayang yang diolah menjadi minyak Kepayang juga menjadi andalan warga Berkun.

“Minyak Kepayang salah satu sumber ekonomi masyarakat Berkun,” kata Baharudin.

“Kami mengelola minyak Kepayang agar bisa menjadi oleh-oleh untuk pengunjung,” tambahnya.

Minyak Kepayang punya potensi besar karena pelbagai kegunaan dari biji dan zat yang dikandungnya. Selain untuk bumbu masak juga bisa untuk minyak hingga kecantikan. Minyak ini sangat istimewa, karena mengandung non-kolestrol juga kaya akan omega 3 dan DHA.

“Setahun sekali biasanya kami akan panen raya buah Kepayang,” kata Baharudin.

Hamparan hutan yang mengelilingi Bukit Tamulun, foto: kilasjambi.com

Muhammad Aditiya Prakoso, Aktivis Walhi Jambi mengatakan, bahwa Bukit Tamulun di Desa Berkun menjadi satu kesatuan kawasan karst Bukit Bulan.

“Jika masyarakat dapat mengelola wisata dengan baik dan lestari, Bukit Temulun bisa menjadi wisata alam yang mempromosikan wilayah karst, sekaligus edukasi dan penyadaran lingkungan untuk masyarakat,” kata Aditiya.

Hanya saja, Adit menyayangkan banyaknya sampah plastik yang berterbaran di puncak Bukit Tamulun, Ia berharap pengunjung lebih memiliki kesadaran untuk tidak membuang sampah secara sembarangan di kawasan ekowisata Bukit Tamulun dan di kawasan karst Bukit Bulan lainnya.

Untuk mencapai Bukit Tamulun di Desa Berkun, Sarolangun, dari Kota Jambi bisa ditempuh sekitar 6-7 jam perjalanan, namun setibanya di Simpang Batang Asai, akses jalan menuju kawasan Bukit Bulan memang cukup sulit dilalui karena sebagian besar jalan yang masih berkontur tanah dan berbukitan, terlebih saat jalanan diguyur hujan. Penggunaan kendaraan roda dua akan lebih memudahkan pengunjung menuju Bukit Tamulun, jika pun harus menggunaan kendaraan roda empat, disarankan untuk membawa kendaraan dengan penggerak empat roda (4 WD). (yat)

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *