Menjaga Lumbung Leluhur: Kisah Desa Pasar Terusan Melawan Arus Ekspansi Sawit dan Ketidakpastian Iklim

Desa Pasar Terusan, Kabupaten Batang Hari, Jambi, menjadi simbol kemandirian pangan di tengah gempuran ekspansi lahan perkebunan sawit. Foto: ist

Di bawah langit Provinsi Jambi, hamparan hijau daun padi perlahan-lahan mulai memudar, tergantikan oleh barisan pohon kelapa sawit yang kaku dan seragam. Alih fungsi lahan pangan kian hari kian merajalela.

Kawasan sentra pertanian subur di Kabupaten Batang Hari, Muaro Jambi, hingga Kabupaten Tanjung Jabung Timur kini terus dikepung dan terancam oleh ekspansi perkebunan sawit.

Dari rilis Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi, luas lahan ladang/huma di Jambi yang digunakan untuk bercocok tanam tanaman pangan kurang lebih hanya tinggal 203.785 hektare. Berbanding terbalik dengan luas perkebunan sawit yang sudah menembus 1 juta hektare.

Dampaknya tidak main-main. Produksi padi daerah merosot tajam. Lebih dari itu, eksploitasi lahan secara besar-besaran oleh perusahaan sawit—terutama di kawasan lahan gambut—telah melepas emisi karbon dalam jumlah raksasa ke atmosfer, mempercepat laju perubahan iklim yang kini mencekik bumi.

Akan tetapi, jika Anda berkunjung ke Desa Pasar Terusan di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi. Anda akan menemukan cerita yang berbeda. Di saat desa-desa lain terbuai dengan kilau keuntungan instan dari tandan buah segar sawit, masyarakat Pasar Terusan memilih untuk berdiri kokoh, menjaga tanah warisan leluhur mereka.

Tameng Adat Penghalau Ekspansi Sawit

Bagi warga Desa Pasar Terusan, menanam padi bukan sekadar urusan mengisi perut, melainkan sebuah kehormatan dan identitas yang diwariskan turun-temurun. Melalui kekuatan kearifan lokal, aturan adat, dan regulasi desa yang mengakar kuat, mereka berhasil membentengi luasan Lahan Baku Sawah (LBS) Desa Pasar Terusan yang mencapai 365 hektare dari jamahan industri elaesis. Desa ini menjadi simbol kemandirian pangan di tengah gempuran ekspansi lahan perkebunan sawit.

“Sedangkan potensi lahan yang belum dicetak untuk sawah seluas 100 hektaran. Kalau lahan ini tergarap semua, areal persawahan Desa Pasar Terusan bisa mencapai 450 hektare,” kata Kepala Desa Pasar Terusan, Hidayatullah.

Berdasarkan keterangan Hidayatullah, produktivitas padi di wilayah tersebut saat ini rata-rata mencapai 3 hingga 4 ton per hektare. Pengelolaan lahan dilakukan oleh 14 kelompok tani, di mana masing-masing kelompok beranggotakan antara 60 hingga lebih dari 100 orang.

Hal yang paling unik dari masyarakat Pasar Terusan adalah filosofi mereka terhadap hasil panen. Sekitar 70 hingga 80 persen hasil produksi disimpan untuk kebutuhan konsumsi keluarga, dan hanya sekitar 20 hingga 30 persen saja yang dijual jika ada kebutuhan mendesak.

Masyarakat memegang prinsip bahwa jika cadangan padi tersedia, maka segala urusan kebutuhan primer lainnya akan ikut aman.

“Bagi warga, membeli beras itu dianggap sebagai aib. Kalau sampai membeli beras, berarti ada sesuatu yang salah dengan kemandirian mereka,” ungkap Hidayatullah.

Sistem penyimpanan gabah kering di gudang pribadi ini terbukti menjadi penyelamat saat krisis. Selama masa pandemi COVID-19, tercatat 80 persen warga tidak perlu membeli beras karena stok pangan di rumah masing-masing masih mencukupi hingga masa panen berikutnya.

“Warga Desa Pasar Terusan nyaris tidak merasakan guncangan pangan. Mereka punya lumbung sendiri, cabai tinggal memetik di pekarangan, dan hanya perlu membeli garam atau bumbu dapur seadanya di pasar,” kata Hidayatullah.

Hamparan sawah di Desa Pasar Terusan yang menghijau, foto: ist

Tradisi ini juga menjadi alasan kuat mengapa lahan sawah di desa tersebut tetap terjaga dan bahkan luasannya bertambah, bukannya beralih fungsi menjadi lahan sawit.

Keteguhan mereka bukan tanpa ujian. Sudah dua kali perusahaan sawit mencoba merangsek masuk dan mengincar tanah subur mereka. Namun, aturan desa berdiri layaknya dinding tebal yang tak goyah, melarang keras alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan sawit atau tanaman keras lainnya.

Hukumannya pun sangat tegas. Siapa saja warga yang berani melanggar komitmen bersama ini akan langsung didepak dari kelompok tani, dan tanaman keras yang telanjur ditanam di area persawahan wajib dibongkar secara paksa.

Filosofi Tiga Pilar Perekonomian

Kemandirian ekonomi Desa Pasar Terusan bertumpu pada kearifan kuno yang mereka sebut sebagai filosofi Tiga Pilar. Mereka tidak pernah menggantungkan hidup hanya pada satu komoditas. Prinsip hidup itu berbunyi:

“Ado Padi Segalo Menjadi, Ado Ternak Serba Enak, Ado Parah Serba Murah.”

Filosofi ini menjadi penyelamat ekonomi rumah tangga warga desa, Padi: Menjamin urusan dapur tetap mengepul. Dengan stok padi yang melimpah di lumbung masing-masing rumah, warga tetap bisa makan dengan tenang meski tidak memiliki pekerjaan atau pemasukan selama setengah tahun.

Lalu Ternak: Menjadi tabungan berjalan. Saat membutuhkan dana besar dalam waktu mendesak—seperti biaya pendidikan anak atau biaya berobat—warga tinggal menjual hewan ternak mereka.

Selanjutnya, Parah (Karet): Berfungsi sebagai mesin pencetak uang harian. Aktivitas menyadap getah karet setiap pagi memberikan arus kas harian yang stabil untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.

“Tiga prinsip yang kami pegang teguh itu untuk mempertahankan tingkat kesejahteraan dan perekonomian warga,” ujar Hidayatullah.

Ia mengatakan, mereka mempunyai prinsip bila warga desa malu kalau tidak ada umo (lahan sawah), yang artinya malu kalau tidak turun ke sawah. Sehingga dari total 3.354 jumlah penduduk Desa Pasar Terusan yang terbagi ke dalam 936 kepala keluarga, hampir 90 persen mempunyai sawah.

Bersahabat dengan Iklim yang Berubah

Meski tangguh, para petani Pasar Terusan tidak menutup mata terhadap realitas alam. Mereka mulai merasakan dampak perubahan iklim yang nyata, cuaca kian tak menentu, musim hujan tiba-tiba berubah menjadi kemarau ekstrem, dan banjir datang tanpa permisi.

Pernah suatu kali mereka terpukul akibat gagal panen total karena kemarau panjang. Namun, alih-alih menyerah dan berpaling ke sawit, mereka menjadikannya sebagai pelajaran berharga dengan memperbanyak lumbung padi di setiap rumah dan mengubah strategi bertani.

Didampingi oleh Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), para petani melakukan adaptasi besar-besaran. Mereka mulai beralih dari bibit padi lokal yang hanya bisa dipanen satu tahun sekali, ke bibit unggul berumur pendek seperti varietas Inpari yang sudah bisa dipanen dalam waktu empat bulan saja. Langkah ini diambil untuk balapan dengan cuaca yang sulit diprediksi.

Tak hanya itu, modernisasi juga mulai merambah cara berpikir mereka. Kini, para petani lokal telah memanfaatkan teknologi dengan memantau perkiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelum mulai menyemai.

“Saat kita menyemai bibit padi, selain belajar dari pengalaman tetua desa, kita juga melihat berita dari BMKG,” kisah Muhammad Yusuf, salah seorang petani setempat.

Yusuf menceritakan bagaimana sistem tanam diatur ketat oleh desa. Bulan April menjadi waktu penyemaian bibit, dan bulan Juli adalah saatnya turun ke sawah untuk menanam.

Uniknya, saat musim menanam tiba, aturan desa mewajibkan semua warga untuk mengandangkan atau menangkap hewan ternak peliharaan mereka agar tidak merusak tanaman padi yang sedang tumbuh.

Bagi warga Desa Pasar Terusan, menanam padi bukan sekadar urusan mengisi perut, melainkan sebuah kehormatan dan identitas yang diwariskan turun-temurun, foto: pasarterusan.id

Dukungan infrastruktur juga terus mengalir, termasuk pembangunan jembatan melalui program Presiden Prabowo yang menghubungkan akses antar-desa sekaligus memudahkan mobilitas petani ke area persawahan.

“Jembatan tersebut nantinya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat, terutama dalam mengangkut hasil produksi pertanian,” kata Yusuf.

Sinergi Pemerintah dan Ancaman Nyata di Luar Sana

Melihat ketangguhan petani di Batang Hari, pemerintah kabupaten tidak tinggal diam. Melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, pemerintah daerah bergerak memfasilitasi adaptasi iklim ini dengan membentuk Sekolah Lapangan Iklim (SLI) bekerja sama dengan BMKG Jambi.

“SLI menjadi salah satu pegangan petani saat melakukan penanaman berdasarkan prakiraan BMKG, untuk antisipasi gagal panen akibat perubahan iklim,” kata Roma Uliana, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Batang Hari.

Meski, SLI dihentikan sementara pada tahun 2025 lalu, namun kader-kader Sekolah Lapangan Iklim yang merupakan anggota kelompok tani dan penyuluh, terus menerapkan bekal ilmu yang diperoleh di SLI hingga kini.

“Pemerintah juga membangun infrastruktur ‘brigade air’ berupa sumur-sumur bor di kawasan lahan pertanian untuk mengantisipasi bencana kekeringan,” kata Roma.

Langkah mitigasi dan adaptasi seperti yang dilakukan di Desa Pasar Terusan ini sejatinya adalah oasis di tengah gurun. Manajer Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf, memperingatkan bahwa di tingkat Provinsi Jambi secara umum, lahan pangan terus mengalami penyusutan yang mengkhawatirkan.

Menurut Rudi, banyak petani di daerah lain memilih menyerah terhadap cuaca yang tak menentu dan memutuskan meninggalkan sawah demi menanam sawit.

“Kita lihat itu banyak lahan sawah itu menjadi lahan sawit, kalau dilihat itu yang nyata saat ini,” ungkap Rudi prihatin.

Di tengah masifnya gempuran hijau sawit yang mengubah lanskap Jambi, Desa Pasar Terusan, menurut Rudi, adalah sebuah bukti hidup. Bahwa dengan kedaulatan adat, filosofi hidup yang kuat, dan keterbukaan untuk beradaptasi.

“Sepetak sawah mampu memberikan ketenangan dan kemakmuran sejati yang tak bisa dibeli oleh segenggam sawit,” pungkas Rudi.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts