Jambi, Kilasjambi.com– Masyarakat Dusun Suka Makmur, Desa Muhajirin, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, mengikuti Forum Budaya yang mengangkat tradisi makan berawang sebagai ruang perjumpaan masyarakat multietnis. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Kendurian Festival: Revitalisasi Tradisi Makan Berawang sebagai Ruang Toleransi Masyarakat Multietnis yang diselenggarakan Sanggar Seni Sirih Serumpun.
Forum tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali membicarakan tradisi makan berawang, mulai dari sejarah, praktik pelaksanaannya, hingga perubahan yang terjadi seiring perkembangan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Dusun Suka Makmur.
Akademisi sekaligus dosen Universitas Jambi, M. Rohiq, M.A., hadir sebagai narasumber. Ia memberikan perspektif mengenai kebudayaan masyarakat, keberlanjutan tradisi, serta pentingnya keterlibatan warga dalam menjaga dan meneruskan pengetahuan budaya yang tumbuh di lingkungan mereka.
Dalam diskusi, tradisi makan berawang dipandang bukan sekadar kegiatan makan bersama, tetapi juga sebagai praktik sosial yang mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan. Hal ini menjadi menarik karena Dusun Suka Makmur dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang etnis yang beragam, seperti Jawa, Minangkabau, Batak, Bugis, Banjar, dan Melayu.
Peserta forum yang terdiri atas masyarakat, tokoh masyarakat, pemuda, serta pelaku budaya turut berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka tentang makan berawang. Beragam cerita yang muncul menjadi bahan untuk melihat bagaimana tradisi tersebut dilaksanakan, diwariskan, dan mengalami perubahan dari generasi ke generasi.
M. Rohiq mengajak masyarakat melihat kebudayaan yang hidup di lingkungan mereka sebagai bagian dari pengetahuan yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Tradisi yang masih dipraktikkan, menurutnya, dapat menjadi sumber pengetahuan untuk memahami pola hubungan sosial, semangat kebersamaan, serta interaksi antarwarga dengan latar belakang budaya yang berbeda.
Forum ini sekaligus mempertemukan pengetahuan yang berkembang di tengah masyarakat dengan perspektif akademik. Pengalaman dan cerita warga mengenai tradisi makan berawang dihimpun melalui diskusi dan menjadi bagian dari proses dokumentasi budaya dalam rangkaian Kendurian Festival.
Ketua Sanggar Seni Sirih Serumpun, Fathul Arief, mengatakan forum budaya penting untuk membuka ruang bagi masyarakat agar kembali membicarakan tradisi yang selama ini mereka jalankan.
“Kami ingin masyarakat menjadi bagian utama dalam proses penggalian pengetahuan tentang tradisi makan berawang. Melalui forum ini, masyarakat dapat berbagi cerita dan pengalaman, sementara narasumber memberikan perspektif untuk membantu melihat tradisi tersebut dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini,” ujarnya.
Menurut Fathul, keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Pengetahuan budaya yang selama ini diwariskan melalui cerita dan praktik di tengah masyarakat perlu mulai dihimpun, didokumentasikan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Hasil pembahasan dalam forum kemudian menjadi salah satu bahan dalam rangkaian Kendurian Festival. Diskusi tersebut diharapkan dapat memperkuat dokumentasi mengenai tradisi makan berawang sekaligus merekam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Dusun Suka Makmur.
Kendurian Festival yang disokong penuh Dana Indonesiana dan LPDP itu mengangkat tradisi makan berawang sebagai ruang perjumpaan masyarakat dengan latar belakang budaya yang beragam. Selain forum budaya, rangkaian kegiatan festival juga mencakup pelatihan, Workshop Media Digital dan Publikasi Desa, pelaksanaan tradisi makan berawang, serta pasar budaya kuliner.