Connect with us

Budaya

Mahakarya Sang Hyang Project dan Mendalo Dance Project Pukau Penonton di TBJ

Published

on

Penampilan musik orchestra yang dibawakan oleh Komunitas Sang Hyang Project di Taman Budaya Jambi, foto: riki/kilasjambi.com

Jambi, kilasjambi.com – Komunitas Sang Hyang Project dan Mendalo Dance Project menggelar pertunjukan seni budaya dengan format tari dan musik di Taman Budaya Jambi (TBJ), di kawasan Sungai Kambang, Kota Jambi.

Pertunjukan yang ditampilkan komunitas bersama mahasiswa Prodi Seni, Drama, Tari dan Musik (Sendratasik) FKIP Universitas Jambi, pada Selasa malam (30/11/21), mampu memukau penonton yang hadir di gedung arena TBJ.

Ada empat penampilan dan karya yang disuguhkan mahasiswa Sendratasik Unja. Pertama; TALE JOI, karya ini terinspirasi dari ketertarikan komposer pada unsur musikal yang ada di tradisi Tale Naik Haji yang ada di Kota Sungai Penuh, Kerinci, Jambi. Dari unsur musikal tersebut diolah menjadi komposisi musik, yang mana pada setiap bagian merepresentasikan prosesi di tradisi Tale Naik Haji. Komposer mencoba mewujudkan narasi pembukaan, isi dan narasi rasa ikhlas melepas kepergian calon jamaah haji, yang mana pada setiap narasi ditransformasikan ke dalam komposisi musik dengan format orchestra. Komposer: Fakhrul Ari Nugraha, lahir di Sungai Penuh 7 Juni 1996.

Kedua; NAMAGO, MUSIK UNTUK SOPRANO DAN ENSAMBLE, karya ini merupakan komposisi musik yang berangkat dari kegiatan Ngaji Adat yang dilakukan oleh masyarakat di salah satu daerah di Kabupaten Kerinci. Namago merupakan bahasa daerah Kerinci yang berarti suatu lembaga. Namago diambil dari bab pertama dalam buku dasar-dasar hukum adat Tigo Luhah Tanah Sekudung Siulak yang menjelaskan tentang kelembagaan tokoh adat berserta tingkatannya. Berdasarkan kelembagaan, terdiri dari empat tingkatan yaitu, Lembaga Dapur, Lembaga Kurung, Lembaga Nagari dan Lembaga Alam. Dari setiap tingkatannya, naskah Namago menguraikan ataupun menginformasikan tentang kelembagaan dari tokoh adat dalam peranannya di masyarakat. Namago, Musik untuk Soprano dan Ensamble merupakan komposisi musik yang menyajikan teks Namago dari dasar dasar hukum adat Tigo Luhah Tanah Sekudung Siulak yang dinyanyikan oleh penyanyi Soprano dan diiringi oleh sebuah Ensamble musik. Komposer: Anggi Okprida, lahir di Koto Renah 19 Oktober 1996.

Ketiga: TIGEI SKO, karya ini bersumber dari prosesi Kenduri Sko yang ada di Kota Sungai Penuh, Dalam penciptaan ini, penggarap mencoba mengolah unsur musikal yang ada di tiga prosesi pada acara adat Kenduhai Sko yaitu prosesi Ngejon Arah, Karamentang (mendirikan bendera adat), dan Malimo Sko (pembersihan benda pusaka). Dilihat secara musikal, di dalam prosesi-prosesi tersebut terdapat unsur-unsur musik yaitu melodi, ritme, interval dan instrumentasi yang akan pengkarya jadikan sebagai dasar penciptaan musik. Komposer: Bima Frizqy Yariza, lahir di Sungai Penuh 20 Oktober 1996.

Pemusik: Irda Riani, Ahmad Junaidi, Fakhrul Ari Nugraha, Eko Saputra, M Rafy, Diki Alamsyah, Risky Raynol, Ardi Muharram, Anggi Okprida, Dirhamul Ardi, Rido, Danil Nugroho, Syahdir, Vera, Fino Andreka, Dirhamul Ardi, Zam Zami Akbar, Bima Frizqy Yariza. Konduktor: Gen Dekti.

Nyanyian Tapa yang dibawakan Mendalo Dance Project, foto: riki/kilasjambi.com

Keempat; NYANYIAN TAPA, karya ini terinspirasi dari sastra lisan Tapa Malenggang, yang bercerita tentang sosok dewa dalam menjaga Sungai Batanghari. Eksploitasi yang terus terjadi mengancam ekosistem yang berada di Sungai Batanghari dan sekitarnya. Karya ini akan merepresentasikan sosok Tapa hari ini yang hidup di tengah eksploitasi Sungai Batanghari. Koreografer: Kurniasi Ilham dab Penata Artistik: Masvil Tomi. (*)

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *