Connect with us

Jambi

Jalan Kaki Medan-Jakarta, Petani Deli Serdang: Kalau Lahan Digusur Kita Mau Makan Apa

Published

on

Sejumlah petani saat beristirahat di teras Sekretariat KPA Jambi, Kamis (23/7/2020) malam. Sebanyak 170 petani dari Deli Serdang, Sumut, jalan kaki Medan-Jakarta karena lahan mereka digusur. (Kilasjambi.com/gresi plasmanto)

Ratusan orang berkumpul memenuhi ruangan tamu sekretariat Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Jambi. Sebagian dari mereka ada yang berbaring di teras, ada pula yang duduk bercengkrama.

Sementara ada juga beberapa pengemudi ojek online terlihat memanggul dus air mineral. Meski berbeda profesi, mereka bersolidaritas dengan menemui petani, memberi semangat.

Ratusan orang yang berkumpul itu adalah petani dari Deli Serdang, Sumatra Utara, yang menggelar aksi jalan kaki ke ibu kota Jakarta. Kamis (23/7/2020) mereka singgah di sekretariat KPA Jambi di Lorong Siswa, Pall Lima, Kota Jambi, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

“Tadi langsung dites suhu badan sama petugas kesehatan, syukur kami semua sehat,” kata Awan Purba, Koordinator Serikat Petani Simalingkar Bersatu ketika ditemui di Sekretariat KPA Jambi.

Dengan logat bataknya itu Awan Purba mengatakan, total sebanyak 170 petani yang ikut aksi jalan kaki ini. Mereka adalah petani yang tergabung dalam Serikat Tani Mencirin Bersatu (STMB) dari Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, dan Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dari Desa Simalingkar A, Kecamatan Pancur Batu, Deli Serdang, Sumut.

Aksi jalan kaki menempuh jarak 1.812 kilometer itu dilakukan agar mereka bisa bertemu dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Jika ketemui nanti permintanaanya hanya satu: agar segera menyelesaikan konflik agraria antara petani dan PTPN II Tanjung Morawa yang sudah berlangsung lama.

Tak hanya pria dewasa dan ibu-ibu, puluhan orang lansia juga ikut dalam aksi jalan kaki itu. Mereka jalan kaki karena areal lahan dan tempat tinggal yang telah dikelolanya sejak tahun 1951 digusur paksa oleh korporasi plat merah PTPN II. Padahal petani telah mengantongi SK Landreform sejak tahun 1984. Bahkan sebagian besar petani yang ikut tergusur sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM).

“Saat pandemi dan miris saat kami (petani) tidak boleh keluar rumah, justru lumbung pangan kami digusur,” kata Widi Wahyudi selaku Koordinator Petani dari Desa Sei Mencirim.

Widi menceritakan kondisi petani di dua desa itu sangat miris. Petani yang dalam artian sebagai “penjaga tatanan negara Indonesia” justru tergusur.

“Kami menanam padi, jagung, jeruk, durian. Ladang pertanian kami digusur. Kalau lahan digusur kita mau makan apa? Kami bertani hasilnya bukan untuk kami sendiri, tapi juga untuk saudara-saudara kita,” kata Widi.

Adapun luas area yang berkonflik antara petani yang tergabung dalam SPSB dengan PTPN II adalah seluas ± 854 hektare. Sementara luas area yang berkonflik petani yang STMB dengan PTPN II, seluas ± 850 hektare dan tuntutan petani STMB  adalah  seluas ± 323,5 hektare.

“Pemerintah harus punya empati pengembalian hak atas tanah kami, dan juga jangan lagi ada konflik agraria yang terjadi, jangan ada kriminalisasi petani kecil,” kata Widi.

Para petani itu juga meminta pemerintah melepaskan tiga orang petani kawan mereka yang saat ditahan. Ketiga petani yang masih ditahan itu adalah Ardi subakti, Japet Purba, Benny Sitepu.

Widi Wahyudi meminta negara hadir dalam penyelesaian konflik tersebut. Aksi jalan kaki mereka lakukan hanya untuk menemui Presiden Jokowi agar pimpinan negara memberikan kepastian hukum atas hak mereka yang dirampas.

“Kakek-nenek kami sudah dari dulu berkebun dan berladang di tempat itu, yang sudah keluar sertifikat itu juga dihancurkan perusahaan, tempat tinggal kami digusur,” kata Widi.

Rawe-rawe Rantas Malang-malang Putung

Ratusan petani dari Deli Serdang, Sumut, saat menggelar orasi di perempatan BI Jambi, Jumat (24/7/2020). Setelah aksi orasi mereka melanjutkan jalan kaki ke Jakarta. (Kilasjambi.com /gresi plasmanto)

Sudah menjadi sabdo pandito bagi kami. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. Tekat bulat, kami tidak peduli apapun di depan kami, kami akan terus berjalan mencari keadilan, kata Widi.

Menurut Widi, perjalanan mereka telah dilalui selama sebulan. Perjalanan dimulai tanggal 25 Juni 2020. Sampai ke Istana Negara di Jakarta mereka menargetkan akan sampai pada tanggal 17 Agustus 2020. Mereka ingin kemerdekaan bagi seluruh petani dikumandangkan pada HUT RI nanti.

“Kami sendiri tidak mengerti harus mengayunkan langkah kami, aksi ini gila dansebenarnya tidak diterima logika. Ini bukan perakara logika, tapi ini perkara hati. Negara yang buat seperti ini,” ujar Widi.

Selama sebulan di perjalanan berbagai suka dan duka menyelimuti mereka.  Terlebih mereka melakukan aksi jalan itu dalam situasi pandemi. Karena situasi ini, mereka pernah diusir ketika mendirikan tenda di daerah yang mereka lintasi. Padahal setiap melintasi perbatasan mereka selalu dites dan dinyatakan semua sehat.

“Kalau menceritakannya bisa menetes air mata, anak istri kami tinggal, kami tidak tahu makan apa di kampung,” kata Widi. Dia bilang “Kami harus berjalan, rintangan dan tantangan, dan kami pernah tidak diterima oleh masyatakat, malam masih enak-enak tidur, kami diusir.”

Susah di perjalanan menurut Widi, bisa terlebur karena semangat dan kegigihan dari peserta aksi jalan kaki untuk mencari keadilan. Berbagai rintangan seperti hujan dan panas yang mereka hadapi di perjalanan dapat mereka lalui bersama.

Sebelum bertolak dari Kota Jambi, ratusan petani tersebut menggelar orasi di perempatan BI Telanaipura Jambi, Jumat pagi (24/7/2020). Aksi orasi itu mereka lakukan untuk meminta dukungan kepada masyarakat Jambi atas perjuangan mereka.

Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar,” demikian petikan lirik lagu “Darah Juang” yang diputar lewat pelantang suara–menjadi pendobrak semangat dan mengiringi perjalanan mereka. Semoga keadilan menyertaimu  para petani.

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *