Hate Respon Warganet Dalam Menyikapi Hate Comment di Media Sosial

Desviana Novrianti

Oleh: Desviana Novrianti*

PERKEMBANGAN teknologi internet membentuk dunia baru dalam tatanan sosial saat ini dan secara tidak langsung hal itu telah mengubah pola kehidupan masyarakat. Perubahan itu tentu saja menuntut pemerintah untuk membuat kebijakan yang bertujuan mengatur dan melindungi masyarakat dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Teknologi informasi saat ini sudah sangat canggih dan mudah, sehingga menjadi gaya hidup bagi masyarakat di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Salah satu pemanfaatan teknologi informatika dengan munculnya berbagai macam situs jejaring sosial; di antaranya facebook, twitter, instagram, whatsapp, dan masih banyak yang lainnya.

Term hate comment atau ujaran kebencian tidak hanya digunakan untuk ungkapan dalam bentuk kata, tulisan atau verbal, tetapi mencakup seluruh kehendak berekspresi seseorang pula, seperti simbol, gambar, gestur, musik, gambar bergerak atau perbuatan lain yang biasa digunakan untuk mengekpresikan kehendak yang berarti.

Komentar jahat tentunya sebagai contoh bentuk interaksi yang “kurang pantas” di media sosial, karena lontaran-lontaran kata atau kalimat negatif dapat mempengaruhi persepsi pembaca lain dan bahkan bagi yang tidak memberi komentar. Seperti, dapat memancing munculnya komentar negatif yang lain serta bisa menyakiti pihak-pihak yang terlibat.

Kenaikan pengguna akses internet menimbulkan perubahan paradigma dalam studi mengenai kejahatan. Dampak negatif yang sering terjadi adalah penyebaran berita yang bermuatan negatif, seperti penghinaan atau pencemaran nama baik. Tidak heran pengguna media sosial yang tidak bertanggung jawab dapat saja menyalahgunakan media sosial sebagai sarana untuk meluapkan emosi mereka, menyebarkan berita palsu, manjatuhkan orang lain, bahkan menyebarkan kebencian kepada orang lain atau suatu kelompok. Sikap intoleransi merupakan epilog dari propoganda yang dirancang dengan cerdik di media, Pemilihan kosakata dan kalimat sering kali didominasi oleh frasa yang menghina membuat tindakan kejahatan ujaran kebencian semakin masif.

Meskipun semakin luas angka kenaikan pengguna media sosial, yang mana banyak memiliki manfaat dan kemudahan, bukan berarti media sosial tidak mempunyai efek buruk, tetapi banyak pengguna media sosial tidak memanfaatkannya dengan baik, salah satunya saling memberikan komentar negatif terhadap sesama pengguna. Dalam menanggapi komentar jahat, baik yang diterima dari akun pribadi maupun akun orang lain, ini tentu menjadi dilema tersendiri bagi para pengguna media sosial, terutama jika pernah mengalami masalah ini. Sebab bisa menimbulkan masalah mental tersendiri bagi para korban yang menerima komentar negatif.

Permasalahan yang sering dihadapi warganet dalam menyikapi komentar jahat atau ujaran kebencian di media sosial antara lain yaitu banyak yang menggunakan sikap defensive, menunjukkan reaksi marah, dendam yang menguasai pikiran, sehingga dalam menanggapi komentar tersebut sering kali membalasnya dengan rasa emosi yang menggebu-gebu, hal ini terjadi dikarenakan kurangnya mental kesabaran, sikap dewasa, dan wawasan yang lebih luas mengenai tata cara menanggapi dengan bijak.

Dalam hal ini, bermedia sosial bukan hanya digunakan sebagai sarana untuk komunikasi dan hiburan, tetapi juga dapat digunakan sebagai medium untuk membangun perdamaian, apabila penggunanya mampu bersikap bijak dalam mengaplikasikannya. Namun pada kenyataannya masih banyak pengguna media sosial yang tidak bijak. Hal tersebut terjadi karena belum diiringi dengan semangat perdamaian, sehingga mengakibatkan ujaran kebencian bertebaran di media sosial.

Untuk itu, dalam menanggapi hate comment atau ujaran kebencian, usahakan tetap tenang dan berkelas. Cara ini dapat membuat lawan bicara menghentikan niatnya untuk terus menyerang. Meski pun bukan menjadi awal yang mudah, namun ini merupakan salah satu cara untuk menyikapi komentar negatif media sosial dengan bijak, tenang dan tearah.

Oleh karenanya, penting bagi pengguna media sosial berupaya dalam menghadirkan semangat perdamaian dalam diri saat menggunakan media sosial. Hal tersebut sebagai upaya untuk meredam perilaku ujaran kebencian agar tidak menjadi lebih luas dan membahayakan kondisi sosial. Dan media memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun baik image, citra, maupun stigma, lantaran dengan media sosial tersebut maka masyarakat atau publik dapat mengetahui peristiwa yang sedang terjadi di tempat lain. Bertebarnya ujaran kebencian di media sosial tentu akan sangat meresahkan masyarakat, sehingga menghadirkan semangat perdamaian dalam diri tidak dapat terelakkan.

 

*Mahasiswa Prodi IAT UIN STS Jambi

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts