Connect with us

Jejak

Gerak Tubuh, Gerak Pikiran

Published

on

Kucing akan mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan bahasa tubuh. Meskipun manusia telah menggunakan kata-kata, tapi insting untuk menggunakan bahasa tubuh tetap menyertainya. (credit tittle : pinterest.com)

Jon Afrizal*

“Ah, kata siapa? Enggak bener itu …”

Persoalan psikologi kerap dilupakan banyak orang. Katakanlah, bukan issue sexy untuk dibicarakan.

Kendati banyak keperluan yang seharusnya sangat bersinggungan dengan psikologi, sebagai “sisi terdalam” seorang manusia.

Berbagai ucapan, misalnya, tentu telah terlebih dahulu diolah oleh otak, sebelum dikeluarkan oleh kedua belah bibir. Namun, sebagai “sisi terdalam”, selalu saja mencari cara untuk keluar.

Tubuh manusia, sejatinya, akan menolak berbagai “benda asing” yang ada di tubuhnya. Reaksinya bisa berbentuk apa saja.

Seseorang yang pernah mengalami kecelakaan lalu lintas, misalnya. Mungkin saja di tubuhnya telah menyimpan pecahan kaca pada saat kecelakaan itu.

Namun, suatu ketika, pecahan kaca itu, akan keluar dengan sendiri. Mungkin satu tahun, atau bahkan 10 tahun dari saat kecelakaan itu ia alami.

Sama halnya, ketika anda memakan sesuatu yang, katakanlah, memiliki kandungan kolesterol yang tinggi. Reaksi dari tubuh anda, beberapa saat kemudian, adalah berupa pusing, bagian tengkuk yang terasa berat dan sejenisnya.

Itu juga, yang terjadi dengan ucapan seseorang. Adalah muskil bagi kita semua untuk menyebut seseorang memberikan keterangan tidak benar, jika kita tidak mengetahui ini.

Sama halnya, ketika seorang anak kecil, misalnya, yang tertunduk menangis di depan ibunya. Si ibu, hanya berkata sedikit saja, “Jangan bohong …”

Bahasa tubuh, atau sesuai dengan bahasa aslinya disebut “body language” adalah reaksi alami yang dilakukan tubuh. Jika anda tertarik dengan psikologi ala Freud, mungkin anda akan menggunakan istilah “unconsciousness” atau “alam bawah sadar”.

Ada banyak cara untuk mengetahui kebenaran ucapan seseorang. Hal utama, adalah, kontak mata.

Seseorang yang tidak sedang dalam kondisi berkata jujur, akan mengelak untuk bertatap pandangan dengan anda ketika, misalnya, anda sedang melakukan wawancara, jika anda seorang jurnalis.

Atau, mungkin, ia akan mengalihkan “rasa bersalah” itu dengan cara, misalnya, menggenggam sekuatnya apa saja yang ada di dekatnya. Bisa saja, ia akan meremas pulpen, atau bahkan mengalihkannya tanpa sadar kepada kepala yang selalu digerakkannya.

Boleh jadi, kemudian, ia akan berusaha meyakinkan anda secara berlebihan dan berulang-ulang. Dengan menggunakan prasa “Demi Tuhan”, misalnya. Atau, “Percayalah”.

Agak janggal, memang. Terutama jika anda menginginkan “pernyataan yang benar” dan “layak untuk dikutip”.

Sebab urusan jurnalis tidak melulu hanya melakukan wawancara dan membuat berita saja. Suatu saat, anda mulai memasuki fase dimana “pesan” yang anda sampaikan di dalam naskah anda adalah sebuah ketidakjujuran.

Keterlanjuran itu pada akhirnya akan menyebabkan rasa bersalah bagi seorang jurnalis. Bisa saja tidak terjadi seketika, melainkan dalam waktu ke depannya.

Jurnalis era jaman dulu, biasanya akan menghindari wawancara “by phone”. Ia akan langsung menemui atau menghubungi sumber, dan meminta waktu untuk wawancara.

Namun, seiring waktu, jarak dan kesibukan, cara ini kerap terlupakan. Terlebih di era pandemi ini, dimana setiap orang punya “alasan” untuk “menolak” bertatap muka secara langsung.

Tehnik “olah psikologi” ini juga dilakukan oleh penegak hukum. Tentu saja dengan makna yang berbeda; interogasi.

Pada suatu ketika, aku pernah wewancarai seorang, bertepatan saatnya dengan seorang wartawan yamg juga akan melakukan wawancara.

Si sumber, meskipun telah mengetahui wartawan itu siapa, tak urung juga memberikan pernyataan kepadanya,

“Anda bukan wartawan, tapi — mungkin — jaksa,” kata si sumber tadi dengan nada suara meninggi.

Ada persoalan-persoalan di seputar psikologi yang kerap dilupakan. Seorang tidak ingin didesak atau berada dalam kondisi terdesak.

Mengejar jawaban dari sumber pun tidak perlu dilakukan, yang pada akhirnya membuat ia melakukan “perlawanan”. Kasus di atas adalah contohnya.

Memahami bahasa tubuh lebih penting ketimbang harus bertanya berulang kali dengan pertanyaan yang sama. Jengah, demikian kondisi yang akan dihadapi si sumber.

Terlebih, jika ada berada pada liputan konflik. Konflik secara artian luas. Mewawancarai korban kejahatan, misalnya.

Adalah tidak mungkin bagi anda untuk ujug ujug datang, lalu menyalakan recorder dan langsung meminta keterangan korban, plus mengambil poto.

Seseorang yang “merasa dirugikan” akan membuat sejenis benteng kepada orang asing. Hal ini akan anda temui, jika anda adalah jurnalis lapangan.

Kondisi yang lebih sulit ketimbang anda harus memahami buku-buku teori jurnalistik terkini.

Butuh waktu untuk melakukan pendekatan dengan para korban. Tentunya, sangat teliti dan sabar.

Namun, tahapan-tahapan itu adalah pemahaman. Sebagai alat yang menempa seseorang menjadi  jurnalis.

Seorang jurnalis — seharusnya — juga berpikir tentang efek dari pemberitaannya. Apa kegunaan baginya untuk menulis sebuah berita, misalnya. Gaji?

Kembali kepada diri masing-masing. Namun, teramat sulit, jika anda tetap berada di area yang sama dengan berita yang anda buat.

“Sudah saya katakan berulang kali. Tapi, kenapa anda terus bertanya?” Mungkin ada yang pernah mendapatkan jawaban ini dari seorang sumber.

Membuat seseorang sumber merasa “nyaman” adalah hal yang utama. Dan, keterangan akan mengalir sederas air terjun darinya.

Nyaman adalah terkait dengan ruang. Jika anda mewawancarai seorang pejabat, sedapat mungkin, adalah di ruangannya.

Memperhatikan tingkahnya; sejak ketika anda masuk ke ruangan, lalu ia tegak dari kursi dan menyalami anda, tentunya adalah “rasa nyaman” yang diungkap oleh tubuhnya.

Tetapi, ia mungkin akan berkata, “Kita ngobrol di luar saja.” Ups, ternyata ia tidak begitu nyaman untuk diwawancarai di ruangannya.

Memperhatikan gerak tubuh dan tingkah seseorang sangat penting. Setelah, pada akhir, ia akan bertanya, “Tadi anda mau tanya apa?”

Selanjutnya, sebagai jurnalis, anda tentu memahami berbagai kaedah. Selain “off the record”, kembali, anda harus punya filter sendiri.

Terlebih, bertanya kembali tentang “Untuk apa saya menulis.”

*Jurnalis TheJakartaPost

 

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *