Eksistensi Aqidah Islam Dalam Budaya Lokal Daerah Jambi

Nur Sadilah

Nur Sadilah*

SEPERTI yang kita ketahui aqidah dan budaya dalam kehidupan saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat. Keduanya bukan hanya sebatas simbol dan nilai semata. Aqidah sebagai suatu tuntunan dalam kehidupan masyarakat membuka jalan untuk kesejahteraan dan keselarasan dalam berkehidupan. Munculnya budaya pun merupakan suatu pola yang tercipta dari masyarakat itu sendiri dengan tujuan peradaban.

Menurut Selo Soemardjan & Soelaeman Soemardi (pakar sosiologi), budaya diartikan sebagai semua hasil dari karya, cipta, dan juga rasa masyarakat. Sehingga segala bentuk karya dari sebuah kelompok masyarakat merupakan bentuk dari budaya.

Pada realitasnya Aqidah Islam cenderung memiliki posisi utama tersendiri pada masyarakat Melayu. Maka tak heran jika masyarakat Melayu banyak mengadopsi budaya Melayu dari nilai-nilai agama Islam sebagai bentuk penerimaan keyakinan oleh masyarakat Melayu tersebut.

Keyakinan masyarakat Melayu berpihak kepada ajaran agama Islam ke tanah Melayu paling ujung yaitu Aceh sekitar Abad ke-8 Masehi melalui jalur perdagangan antar bangsa seperti Turki, Arab, Persia, Iran, dan lain sebagainya.

Islam terus menyebar luas hingga ke seluruh negeri termasuk tanah Melayu Jambi sekitar abad ke-13 masehi. Namun masih banyak perbedaan di kalangan para ahli mengenai kemunculan Islam ke tanah Melayu ini. Islam dapat diterima baik oleh seluruh masyarakat Melayu karena adanya sistem kesetaraan tanpa membedakan kasta serta melibatkan semua individunya dalam segala aspek yang ada tanpa mengkhususkan kelompok tertentu saja.

Penyebarannya pun dilakukan dengan cara damai dan mampu menyesuaikan kondisi sosial maupun kultural yang telah melekat pada masyarakat setempat. Kuatnya Aqidah Islam pada masyarakat Melayu tidak lepas pula pengaruhnya dari kultur orang terdahulu sebelum mereka yang turun temurun yang sejak dahulu menjadi landasan utama dan dasar norma dalam kehidupan bermasyarakat.

Berbagai budaya dan adat istiadat melayu yang dapat kita nikmati hingga sekarang sangat banyak. Bahkan memiliki makna filosofis tersendiri pada tiap budayanya. Seperti rumah adat Jambi yang tentunya tidak asing terdengar yaitu Kajang Lako, pakaian adat (Baju Kurung), kesenian (Tari Sekapur Sirih, Tari Selampit Delapan, Hadrah, Teater Dul Muluk), kerajinan tangan (Batik Jambi, Ukir Kayu Betung), syair pantun, seloko, upacara tradisional (Perkawinan, Kelahiran, Upacara Kenduri Seko, Upacara Minta Ahi Ujan, Upacara Mandi Shafar, Upacara Kumau) dan juga masih banyak budaya lainnya yang mewarnai tanah Melayu Jambi.

Jika ditelusuri lebih jauh hingga pada makna filosofisnya, maka akan dapat kita temukan pengaruh besar aqidah Islam di dalam berbagai budaya Melayu tersebut. Pengaruh tersebut ada tidak sebatas hadir dan berbaur namun seperti mendarah daging pada jiwa orang melayu. Jiwa persaudaraan yang erat juga membawa mereka pada jati diri sebagai masyarakat Melayu yang seutuhnya. Selaras dengan slogan yang mereka pegang teguh yaitu; adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah.

Perlunya kesadaran lebih bagi kita terutama generasi muda untuk melestarikan segala bentuk kebudayaan yang telah ada. Serta mempertahankan kearifan lokal yang cukup besar pengaruhnya untuk menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik.

Faktanya, beberapa generasi muda masa kini tidak paham akan budayanya dan bahkan tidak tertarik walau hanya sekedar mempelajarinya. Perkembangan dunia memang terus bergerak dinamis namun kekayaan budaya yang ada akan punah bahkan diakui oleh negara lain jika tidak ada pelestarian lebih lanjut ke depannya.

Perilaku kebarat-baratan memang tidak asing lagi bagi kita namun jangan sampai mempengaruhi tiap sendi kehidupan kita.

Kebanyakan generasi baru saat ini larut dalam arus perkembangan bahkan ada yang mengesampingkan budaya, adat bahkan norma sosial yang telah dibangun demi kesejahteraan kehidupan sosial bermasyarakat. Berangkat dari berbagai kasus penyimpangan yang ada tentu menyadarkan kita perlunya membangun pemahaman kepada generasi muda saat ini untuk mencintai negerinya sendiri. Tanpa mengagungkan budaya negeri lain yang tampak lebih mempesona dengan segala bentuk pesona yang membuat terlena. Hal ini dapat berdampak mengedepankan modernitas namun ingin melepas penuh identitas.

Terbuka pada perkembangan tentu baik, tapi jika terlalu mengikuti arus yang ada tentu akan terombang-ambing dalam gemerlap kilauan fatamorgana. Di sinilah peranan Aqidah Islam dan budaya ikut andil menyelaraskan roda berkehidupan baik dengan budaya atau pun norma yang telah dibentuk sedemikian rupa. Bahkan selaras dengan agama yang juga menuntun kebaikan untuk kehidupan kita.

 

*Mahasiswa AFI UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

 

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts