Deteksi Dini Tuna Grahita dan Mengatasi Hormon Stres yang Bisa Diwarisi Anak Secara Genetik

Foto: ilustrasi

KILAS JAMBI – Orang tua didorong untuk mendeteksi gejala tuna grahita pada anak sejak dini, dan menyadari jika hormon stres dapat menurun ke anak secara genetik.

Dengan menyadari itu, orang tua tidak perlu panik, jika anak mengalami ketergantungan berlebihan terhadap gawai.

“Kita dorong agar orang tua memiliki kesadaran, pentingnya kesehatan anak baik secara fisik maupun psikologis,” kata Direktur RS Rapha Theresia Jambi, dr Marcia Marimba.

Ia mengatakan sekarang orang tua kesulitan menghadapi anak-anaknya yang kecanduan gawai.

Untuk meningkatkan kesadaran orang tua terhadap beragam persoalan anak, maka RS Rapha Theresia Jambi menggelar seminar sehat.

Marcia berharap dengan para orang tua, dapat menghasilkan generasi anak-anak Jambi yang mencapai kesehatan yang sejati.

“Sehat sejati di sini bukan hanya secara fisik ya, namun juga kesehatan psikologis yang sering kali kurang diperhatikan,” kata Marcia.

Antara kesehatan fisik dan psikologis, kata dia harus seimbang agar anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa yang berkarakter.

Saat ini, anak-anak tumbuh di era digital dan hiperkompetisi. Dengan demikian, untuk mengakses publik secara luas, RS Rapha Theresia akan membuat materi seminar sehat tersebut dapat ditonton secara gratis di kanal Youtube Rapha Healthcare.

“Melalui Rapha Health Talk, kami berharap dapat berbagi wawasan dan solusi praktis yang dapat diterapkan oleh orang tua dalam keseharian, dengan menghadirkan kombinasi narasumber ahli dari bidang kedokteran dan psikologi terbaik,” tegasnya.

Deteksi Dini Tuna Grahita

Sementara itu, dr Dian Wahyuni, spesialis anak RS Rapha Theresia Jambi menuturkan cara mengenali gejala autisme atau tuna grahita, serta cara menanganinya di awal fase tumbuh kembang anak.

“Setiap anak autis memiliki kondisi dan gejala yang sangat berbeda-beda, oleh karena itu penting bagi orang tua untuk bersabar dalam memperhatikan dan mempelajari cara untuk berinteraksi dengan anaknya,” kata Dian.

Hal senada disampaikan Psikolog dan Dosen Universitas Indonesia, Edward Andriyanto. Dia mengatakan tuna grahita, kini bukan hal yang tabu untuk dibicarakan, sebaliknya penting sekali untuk menyadari kondisi ini pada anak sedini mungkin.

“Sebab intervensi melalui berbagai terapi yang disesuaikan dengan kondisi spektrum yang diderita masing-masing anak, umumnya dapat lebih efektif dan berdampak,” kata Edward.

Lebih jauh dia menambahkan, dukungan dari dokter spesialis anak, dokter spesialis gizi, psikolog serta komunitas orang tua dengan anak yang mengalami tuna grahita, juga sangat penting untuk saling berbagi informasi.

Tidak hanya itu, pada sesi seminar dr Caesar Nurfiansyah, Spesialis Obgyn RS Rapha Theresia Jambi, memaparkan topik seputar menjaga kehamilan secara holistik serta cara mencegah trauma psikologis pada janin bersama Psikolog Spesialis Penanganan Trauma, Rahajeng Ikawahyu.

“Penting untuk dimaksimalkan asupan nutrisi serta menjaga kondisi psikologis ibu dan anak dalam periode emas 1.000 hari pertama dalam kehidupannya, yaitu mulai dari ketika anak masih di dalam kandungan hingga usianya sekitar 2 tahun,” ujar Caesar.

Hormon Stres Menurun Secara Genetik

Selanjutnya, Linda Artanti, Spesialis Gizi Klinik dari RS Rapha Theresia Jambi, menjelaskan mengenai pentingnya menyesuaikan asupan sesuai kelompok usia.

“Sebagai contoh, dalam kondisi yang normal, memberi asupan lemak dan santan justru dianjurkan untuk mencukupi kebutuhan kalorinya di masa pertumbuhan Anak. Sebab di bawah usia 10 tahun itu sangat jarang anak mengalami kondisi kolesterol tinggi,” ungkap Linda.

Kemudian, Rahajeng Ikawahyu, Psikolog Spesialis Penanganan Trauma, menambahkan selain aspek gizi, penting juga untuk menerapkan Mindfull Parenting, membangun kepercayaan, dan menyesuaikan pola asuhan dengan mengikuti perkembangan anak di setiap kelompok usia.

Ika menjelaskan bahwa setiap anak yang dilahirkan selalu terikat dua aspek yang membentuknya, yaitu Nature atau faktor genetik, serta Nurture atau faktor lingkungan.

“Penelitian menunjukkan bahwa selain kondisi fisik, hormon stres juga akan diturunkan secara genetik kepada anak,” kata Ika.

Jadi kalau orang tuanya, kata dia, punya gangguan kecemasan, depresi, atau stres. Anak yang dilahirkan akan mewarisinya.

Di sinilah faktor lingkungan yang baik akan berperan penting untuk membentuk dan memperbaiki kondisi anak.

Ika juga menyampaikan gawai juga termasuk faktor lingkungan, sebab gadget akan membuka pintu bagi anak untuk menjelajahi seluruh dunia.

“Namun gawai tidak perlu dimusuhi, justru sebaliknya kita perlu pelajari dan siapkan batasan dunia gawai yang aman bagi anak kita,” kata dia.

Hal ini dibutuhkan orang tua, untuk menilai kesiapan anaknya, serta memberikan pendampingan yang tepat saat anak mulai mengenal gawai. (wendi)

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts