Connect with us

Budaya

Abdul Muluk Reborn: Tampilkan Tradisi Betangas atau Mandi Uap di Temu Karya Taman  Budaya

Published

on

Foto bersama delegasi Taman Budaya Jambi. (Foto/ist)

Banjarmasin, Kilasjambi.com– Seorang pemain bernama Kadam menyapa penonton dan melontarkan pantun: Iko Beluluk Bukan Sembarang Beluluk/Buah Beluluk di Batang Rengas/Iko Abdul Muluk bukan Sembarang Abdul Muluk /Abdul Muluk Mau Cerito Tentang Betangas.

Pantun pembuka disambut tepuk tangan oleh massa yang memadati area lapangan Taman Budaya Kalimantan Timur. Pertunjukan rakyat Komunitas Abdul Muluk Reborn, menampilkan tradisi Betangas atau mandi uap dalam temu karya taman budaya (TKTB) XXI di Samarinda, Kalimantan Timur, Senin malam (19/9/2022).

“Betangas merupakan tradisi masyarakat Melayu di Jambi. Biasanya dilakukan 3-1 hari menjelang pernikahan,” kata Ketua Komunitas Abdul Muluk Reborn, Zaidan, Kamis (22/9/2022).

Pengantin laki-laki maupun perempuan jamak melakukan betangas, kata Zaidan. Namun tradisi ini dominan dilakukan pengantin perempuan.

Komedian Jambi ini menuturkan dengan betangas membuat tubuh pengantin terlihat segar bugar, bercahaya, wangi dan tampil percaya diri.

Ironisnya, tradisi baik yang diwariskan leluhur sudah jarang dilakukan terutama di masyarakat urban. Bahkan di kampung, hanya segelintir pengantin yang melakukan tradisi betangas.

“Pergeseran gaya hidup faktor utama tradisi betangas mulai ditinggalkan. Kebanyakan orang memilih spa atau tidak melakukan karena dianggap tidak praktis,” kata Zaidan.

Seniman teater tradisional Abdul Muluk ini mengatakan untuk membuat ramuan betangas cukup rumit, sebab pengantin harus menyiapkan bahan ramuan seperti serai wangi, jeruk purut, daun salam daun selasih, bunga tujuh rupa, akar ilalang dan rempah-rempah.

Lelaki yang menggeluti dunia seni peran sejak SMP ini berharap dengan mengangkat tradisi betangas di even nasional, maka kami dapat menyampaikan pesan kepada masyarakat secara luas, bahwa tradisi betangas harus tetap dilestarikan.

“Paling tidak, pemerintah mencatat tradisi betangas dalam warisan budaya tak benda (WBTB),” kata Zaidan.

Kepala Taman Budaya Jambi, Eri Argawan saat menerima cindera mata dari Kepala Taman Budaya Kalimantan Timur.

Betangas Nyaris Punah

Sementara itu, Kepala Taman Budaya Jambi, Eri Argawan menuturkan tradisi betangas sudah berstatus sebagai kekayaan budaya yang nyaris punah.

Mengapa demikian, kata Eri hampir setiap pasangan pengantin baik di kampung maupun perkotaan sudah meninggalkan tradisi betangas. Ada tiga alasan, yang pertama dianggap tidak praktis dan kedua kesulitan mencari bahan ramuan atau bahkan tidak memiliki pengetahuan terkait ramuan betangas, terakhir karena teknologi berkembang lebih memilih spa.

Kepala Taman Budaya Jambi, Eri Argawan saat menerima cindera mata dari Kepala Taman Budaya Kalimantan Timur. (Foto/ist)

Pengetahuan tradisional yang berwujud dalam ramuan betangas memang patut dilestarikan, karena memiliki banyak manfaat bagi penggunanya seperti kesehatan, kebersihan, percaya diri dan menghilangkan racun dari dalam tubuh.

“Kita menganjurkan masyarakat untuk kembali melakukan betangas. Kegiatan ini bagus untuk kesehatan karena dapat mengeluarkan racun dari dalam tubuh,” kata Eri.

Betangas adalah spa tradisional dengan menggunakan tikar rumbia yang dibuat melengkung berbentuk tabung dengan mandi uap dari rempah-rempah pilihan.

Untuk proses betangas, semua bahan itu direbus dalam wadah. Biasanya menggunakan periuk (wadah berbentuk bulat, pada zaman dahulu periuk digunakan untuk menanak nasi) sampai mendidih.

“Ini adalah warisan leluhur, yang secara baik dilakukan secara turun temurun sejak ratusan tahun silam,” kata Eri menegaskan.

Seniman tari di Jambi ini menuturkan periuk yang memuat semua bahan harus ditutup rapat. Agar uap air tidak banyak yang keluar. Uap itulah yang nantinya berfungsi untuk mengeluarkan keringat.

Proses pelaksanaannya, orang yang akan betangas duduk di atas kursi kecil. Di hadapannya diletakkan periuk atau panci rebusan rempah-rempah tadi.

Kemudian masuk di dalam tikar rumbia yang sudah digulung. Bagian atasnya ditutup dengan beberapa lapis kain. Kain ini berperan penting agar hasil betangas menjadi lebih maksimal.

Ketika penutup rempah dibuka, uap dari dalam periuk pun keluar. Aroma wangi pun menyeruak hingga keluar melalui sela-sela tikar rumbia.

Selanjutnya rempah diaduk dengan sendok yang dibuat dari kayu secara perlahan sampai uap dalam periuk habis. Uap tersebut dipercaya baik untuk tubuh.

Itulah kenapa harus menggunakan kain berlapis-lapis untuk menutupi tikar yang digulung. Tujuannya agar uapnya lebih banyak menempel di badan dan keringat pun menjadi lebih wangi.

Pertunjukkan Rakyat

Selain membuat tubuh menjadi wangi. Tradisi ini juga berfungsi membuang racun di dalam tubuh. Untuk itulah, pikiran baik dari leluhur harus disebarluaskan dengan pertunjukkan rakyat.

Taman  Budaya Jambi, kata Eri memilih penampilan Abdul Muluk Reborn untuk menyampaikan pesan kepada publik mengenai tradisi betangas. Alasanya, sudah dari dulu, pertunjukkan rakyat Abdul Muluk sebagai mendium untuk menyampaikan pesan-pesan raja kepada rakyat secara luas.

Dengan adanya kegiatan temu karya taman  budaya (TKTB) di Samarinda, Kalimantan Timur, kata Eri sebagai tolak ukur pemerintah dalam upaya pelestarian, pemanfataan, pelindungan dan pengembangan karya budaya secara nasional.

“Dengan penampilan Abdul Muluk Reborn yang membawa cerita tentang tradisi betangas, kita berharap membuat kebudayaan Jambi lebih dikenal, diperhatikan bahkan dilindungi secara nasional,” kata Eri.

Lelaki berusia lebih setengah abad ini berharap penampilan dari karya budaya secara kualitas dan kuantitas terus dijaga bahkan dapat meningkat. Dengan melakukan peningkatan sumber daya manusia, memperbanyak riset dan pengolahan.

Untuk tuan rumah yang melaksanakan TKTB, Eri mendorong agar lebih mempersiapkan kegiatan secara matang, dengan memberi perhatian kepada hal ditel.

Ia mencontohkan panggung out door yang disiapkan begitu mewah, namun luput menyiapkan alat seperti tenaga lighting atau tata cahaya yang tidak memahami pertunjukkan rakyat.

“Bahkan perangkat pertunjukkan soundsystem tidak mendukung pertunjukkan outdoor atau ruang terbuka,” tutup Eri.

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *