Green Economics di “Dusun Tinggal”

Jon Afrizal*

“Bumi sudah sangat tua,” demikian ungkapan banyak orang. Sehingga, selayak orang yang uzur, setiap orang yang hidup di bumi harus berhati-hati memperlalukannya. Karena, bumi sangat rapuh dan perasa sekali.

Bercermin kepada fakta itu, para pemerhati lingkungan mulai secara ketat memperingatkan banyak pihak; pemerintah, pengusaha dan perorangan untuk memperhatikan dari setiap yang mereka ambil dan bangun di bumi ini.

Hampir 20 tahun lalu, dimulailah usaha untuk “membuat bumi sebagai tempat tinggal yang lebih baik”. Dimana, pembangunan dan perekonomian tetap boleh terlaksana, tetapi, dengan “tetapi”, harus memperhatikan hal-hal yang bersifat asri dari bumi ini. Sebab, jika tidak ada pembangunan dan perekonomian, itu sama artinya dengan tidak adanya peradaban manusia di bumi.

Green Economics, begitulah istilah yang diberikan. Secara umum, green economics adalah sebuah metoda ekonomi yang mendukung interaksi yang harmonis antara manusia dan alam.

Intinya, sebuah ide yang berhubungan dengan kepentingan ekonomi, yang harus sangat terikat dengan ekosistem dan sumber daya alam, dimana dapat dimanfaatkan tanpa merusak ekosistem.

Sebuah definisi yang sulit untuk dipahami Pak Ngah yang tinggal di “Dusun Tinggal”. Padahal, Pak Ngah dan isterinya, Mak Do, telah sejak lama mempraktekkannya, tanpa membaca teori kekinian itu.

Sebentar dulu, dan jangan protes. Mari, kita lanjutkan persoalan kepentingan ekonomi ini, alias soal cara “mengisi perut”.

Jika boleh jujur, konsep Green Economics ini sebenarnya diadopsi dari gerakan kaum perempuan yang mandiri. Mereka tidak ingin terlalu banyak bergantung dengan sistem dan kaum patriaki, dengan cara memanfaatkan alam dengan baik dan berkelanjutan.

Tetapi, kemudian, banyak ahli dan spesialis yang menuliskannya hingga menjadi sebuah teori baku. Yakni tentang pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Secara realita, kita akan sampai kepada pertanyaan soal “apakah pembangunan ekonomi yang kita upayakan selama ini terkesan destruktif?” Hingga ke pertanyaan “bagaimana agar tetap bisa menghasilkan uang tanpa merusak alam?”

Pada suatu sore, Pak Ngah berkata, “Di hutan di seberang sungai itu banyak ditemukan damar. Tetapi, jika hutan itu rusak, jangankan damar, buah Keletup pun tidak akan ada lagi.”

Mak Do, yang telah membuat dua gelas kopi, yang bijinya ia tumbuk sendiri itu pun menyambung ucapan suaminya, “Sungai ini banyak ikannya. Tetapi, jika bagian hulunya rusak, maka ikan Seluang pun tidak bakal ada lagi di sini.”

Lalu, kita akan berpikir, apakah dusun akan tetap menjadi dusun, tanpa perlu berubah menjadi sebuah kota, dengan pertumbuhan penduduk dan perekonomiannya?

Berangkat dari keresahan itulah, maka sebuah pembangunan harus “hijau” secara ekonomi. Mungkin, sejenis permintaan maaf kita bersama, para manusia modern ini, atas keterlanjuran mengambil apapun yang ada di alam, tanpa berpikir bahwa sesuatu tidak mungkin tumbuh tanpa mata rantai kehidupan.

Dosa, ya, karena dulu, kita semua setuju untuk menebang pohon-pohon di banyak hutan, lalu menjualnya atas nama komoditas ekonomi. Selanjutnya, mengubah areal yang gundul itu menjadi perkebunan satu jenis tumbuhan, atau monokultur.

Lalu, supaya hasil kebun itu melimpah, maka digunakan pupuk kimia, yang tidak disukai alam. Sehingga rusaklah semua ekosistem tanah di sekitarnya.

Selanjutnya, karena masing-masing perkebunan memiliki hasil yang berlimpah, maka harga jual komoditas pun menjadi murah. Sebab, jika setiap orang di sebuah kelompok masyarakat memiliki emas, maka tidak akan ada lagi jual-beli emas di sana.

Tetapi, jika kita semua hanya berkutat kepada sisi negatif tanpa melihat hal yang positif, maka adalah benar kata seorang teman, “Kacamata-mu yang kotor sehingga perlu dibersihkan, agar semua terlihat enak untuk dipandang”.

Maka, jika kita punya sebidang tanah kosong di pekarangan rumah, adalah lebih baik untuk ditanami buah-buahan beragam jenis. Sebab, rumah akan teduh karena kanopi pohon yang merindangi lingkungannya.

Lalu, jika telah musim, maka buah dapat dikonsumsi sendiri, atau untuk dikirim ke tetangga. Dan, jika hasilnya melimpah, tentu dapat dijual untuk menghasilkan uang buat biaya anak-anak sekolah.

Itu adalah pelaksanaan sederhana dari teori Green Economics tadi. Tetapi, tidak semudah itu untuk melaksanakannya, jika kita adalah pemerintah.

“Butuh skema yang jelas,” demikian seseorang yang berkantor di Telanaipura berkata kepada-ku. Sebab, katanya, persoalan pembangunan tidak bisa dilihat pada hari ini saja, melainkan harus ada hubungannya dengan masa lalu dan masa depan.

Persoalan ini akan semakin rumit. Sehingga tulisan-ku ini akan semakin banyak seri-nya. Seiring kemampuan kedua bola mata anda untuk beradaptasi dengan smartphone.

Sebab, kertas reces adalah ketinggalan jaman. Karena, toh, kertas berasal dari kayu, dan kayu-nya yang ditebang itu, mungkin saja, berasal dari hutan di seberang dusun-nya pasangan Pak Ngah dan Mak Do tadi.

Pertanyaannya, apakah anda semua rela untuk merusak kehidupan mereka, yang sangat harmonis dengan alam? Jika jawaban anda adalah “Ya”, artinya “How Dare You!”

Jika anda menggelengkan kepala, maka inilah saat yang tepat bagi kita semua untuk melihat persoalan lingkungan sebagai sebuah tiang utama penyangga pembangunan ekonomi.

Sebagai tiang utama, tentu harus dijaga agar tidak rusak. Jika tidak, maka ketidakseimbangan akan terjadi.

Apakah sebuah keseimbangan, jika sebuah kota yang dulunya sangat rindang, sekarang setiap pohon yang ada malah ditebangi, dan digantikan dengan tumbuhan di dalam pot tepat di atas pembatas tengah jalan raya?

Apakah sebuah keseimbangan, jika hujan yang turun hanya sebentar, tetapi dapat menyebabkan banjir? Apakah sebuah keseimbangan, jika kota yang belum menjadi megapolitan ini telah membuat kita semua gerah dan berkeringat, sehingga selalu butuh air conditioner?

Apakah sebuah keseimbangan, jika provinsi ini tidak bisa menjual pariwisata sebagai sebuah komoditas ekonomi? Dan masih banyak pertanyaan lainnya, seiring kita semua mulai berpikir tentang apakah konsep Green Economics bisa untuk disegerakan di sini.

Seiring keterpurukan harga jual Tandan Buah Segar (TBS) di pasaran internasional. Seiring, batu bara yang terus digali dan ditambangi, dan suatu ketika tidak akan ada lagi. Seiring, ehm, musim Karhutla yang sedang mengetuk pintu kita semua, dan ingin masuk melalap segalanya. (*)

* Jurnalis TheJakartaPost

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts