Connect with us

Budaya

Tradisi Batagak Batu

Published

on

Makanan yang disusun bertingkat merupakan keunikan dalam Tradisi Batagak Batu di Padang Pariaman, foto: eka

KILAS JAMBI – Mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Melayu Serumpun, termasuk mahasiwa terpilih dari UIN Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi, menghadiri acara Batagak Batu, di Nagari Ulakan yang merupakan salah satu Nagari di Kecamatan Ulakan Tapakis, Kororong Bungo Pasang, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Tradisi ini digelar Selasa malam, pada 24 Oktober lalu.

Tradisi Batagak Batu adalah sebuah tradisi Minang atas dua kali tujuh hari meninggalnya salah seorang keluarga. Kebetulan yang meninggal adalah salah seorang tokoh masyarakat setempat. Hadir dalam acara tersebut ninik mamak, alim ulama, urang samando dan anak kemenakan dalam suku Sikumbang.

“Tradisi ini sudah sangat jarang dilakukan semua masyarakat Padang Pariaman, dan hanya beberapa Nagari yang dekat dengan makam Syekh Burhanuddin yang masih tetap menjalankannya, salah satunya adalah Nagari Ulakan,” kata Siti Anyar, Tokoh Masyarakat Nagari Ulakan.

Anyar mengatakan, tradisi Batagak Batu dilaksanakan untuk memberikan doa kepada orang yang sudah meninggal, agar senantiasa diberikan kelapangan dalam kubur dan doa terbaik untuk almarhum/almarhumah.

“Pada acara Batagak Batu tersebut menantu perempuan memiliki peran yang sangat penting, karena dalam tradisi ini seorang menantu perempuan akan menyiapkan Manokopi Batingkek serta Nasi Bajamba yang disusun dalam rak yang telah disiapkan dengan rapi,” kata Siti Anyar.

Manokopi ini diisi dengan beraneka makanan seperti kue dan bolu yang disusun paling atas, kemudian buah-buahan, makanan ringan dan lainnya. Proses penyusunan di rak Manokopi ini akan dilakukan menantu perempuan pada sore hari atau sebelum maghrib dengan dibantu anggota keluarga si menantu perempuan.

Sebelum acara puncak atau acara Badikia dimulai. Para ungku, labai, tukang Badikia, dan tamu laki-laki akan makan secara bersama terlebih dahulu. Sedangkan makanan yang di rak Manokopi akan dimakan ketika acara Badikia berlangsung. Ketika memasuki pukul sepuluh malam acara puncak atau Badikia siap dimulai dan akan berakhir pada subuh hari.

Menurut keterangan Tuanku Kuniang ataupun salah satu tokoh ulama yang ada di nagari tersebut, Badikia merupakan syair yang dilantunkan dalam bahasa Arab. Syair tersebut memiliki aturan tersendiri yang terdapat dalam kitab Syaraal Anam. Badikia merupakan ungkapan atau nyanyian yang menceritakan sejarah mula kelahiran Nabi Muhammad SAW sampai beliau wafat.

Tradisi Batagak Batu memperingati anggota keluarga yang telah meninggal ini sangatlah menarik perhatian mahasiswa peserta Kukerta Melayu Serumpun, khususnya pada mahasiswa yang bukan tergolong dalam adat ini. Karena dalam tradisi tersebut banyak mengandung nilai-nilai keagamaan, sosial, budaya, normatif dan makna-makna tersendiri yang luas dan belum sepenuhnya diketahui. (*)

Penulis: Eka Cahyani Putri*

*Mahasiswa PPL Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN STS Jambi

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *