Jambi, Kilasjambi.com- Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Syaifuddin Jambi Sean Popo Hardi, S.Pd., M.Hum resmi meraih gelar doktor setelah dinyatakan lulus dalam sidang promosi terbuka pada Program Doktor Kependidikan Universitas Jambi (UNJA), Kamis (15/10/2025). Pencapaian ini menempatkannya sebagai doktor ke-157 Universitas Jambi.
Dalam sidang tersebut, Sean mempertahankan disertasi berjudul “Rekonstruksi dan Adaptasi Didaktis Tradisi Lisan Tapa Malenggang menjadi Buku Cerita Anak”. Sidang promosi terbuka ini dilaksanakan di lingkungan Universitas Jambi dengan Prof. Nazurty sebagai promotor, didampingi Dr. Maizar Karim dan Dr. Ade Kusmana sebagai tim pembimbing/promotor.
Penelitian ini berangkat dari kegelisahan mengenai keberlanjutan tradisi lisan di tengah perubahan pola pewarisan budaya dan berkurangnya penutur tradisional. “Penelitian ini berangkat dari pertanyaan sederhana: apa yang terjadi jika cerita tak lagi dituturkan? Ketika jumlah penutur berkurang, apakah cerita akan ikut hilang?” ungkap Popo.
Pertanyaan tersebut menjadi titik tolak penelitian yang berupaya menemukan cara agar tradisi lisan tidak hanya tersimpan sebagai dokumentasi masa lalu, tetapi tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya melalui media pendidikan dan literasi.
Rekonstruksi dan Adaptasi: Menjaga Cerita, Merawat Makna
Penelitian ini menempatkan rekonstruksi dan adaptasi didaktis sebagai dua proses yang saling berkaitan. Rekonstruksi dilakukan dengan membaca teks tradisi lisan bersama konteks kebudayaannya, penutur, audiens, serta cara cerita tersebut dituturkan. Dengan demikian, tradisi lisan tidak dipahami semata-mata sebagai rangkaian kata dalam sebuah teks, melainkan sebagai praktik budaya yang memiliki konteks, makna, dan cara pewarisan tersendiri.
Sementara itu, adaptasi didaktis dilakukan melalui tahapan identifikasi unsur cerita, struktur naratif, bahasa, nilai-nilai budaya, serta perancangan buku bergambar yang sesuai dengan kebutuhan pembaca anak.
Popo–sapaan akrabnya–lama menekuni bidang kajian tradisi lisan, sastra, budaya, dan pendidikan, menegaskan bahwa adaptasi bukanlah tindakan menyalin cerita secara langsung, tetapi juga bukan upaya menghapus atau menghilangkan karakter aslinya.
“Adaptasi bukan menyalin, bukan pula menghapus. Adaptasi merupakan upaya mempertahankan, menyesuaikan, dan mentransformasikan cerita agar tetap bermakna dalam konteks pembaca dan kebutuhan zaman yang berbeda,” jelasnya.
Pendekatan tersebut menempatkan pelestarian budaya dan kebutuhan pendidikan dalam satu proses yang saling mendukung. Nilai dan identitas budaya tetap menjadi perhatian, sementara bentuk penyajian, bahasa, dan struktur cerita dikembangkan agar lebih sesuai bagi anak.
Dari Tradisi Lisan Menjadi Buku Cerita Anak
Salah satu luaran penelitian ini adalah buku cerita anak yang dikembangkan dari tradisi lisan Tapa Malenggang. Pengembangan buku tersebut menjadi upaya menghadirkan warisan budaya Jambi dalam bentuk bacaan yang dapat dimanfaatkan dalam lingkungan pendidikan dan keluarga.
Adaptasi ini juga membuka peluang bagi tradisi lisan untuk berkontribusi terhadap penguatan literasi, pendidikan karakter, dan pengenalan identitas budaya sejak dini. Buku cerita anak berbasis tradisi lokal dapat menjadi penghubung antara generasi yang mewarisi cerita secara lisan dan generasi yang lebih akrab dengan bahan bacaan visual serta media pembelajaran terstruktur.
Dari sisi akademik, penelitian ini mempertemukan kajian tradisi lisan, teori tradisi lisan Ruth Finnegan, teori adaptasi sastra Julie Sanders, dan pengembangan bahan ajar berbasis budaya lokal. Dari sisi praktis, hasilnya berpotensi dimanfaatkan oleh pendidik, penulis, pegiat literasi, peneliti kebudayaan, serta lembaga yang bergerak dalam pelestarian warisan budaya.
Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa pelestarian tradisi lisan tidak cukup hanya dilakukan dengan merekam dan menyimpan cerita. Diperlukan upaya untuk memahami konteks kemunculannya, mempertahankan nilai pentingnya, dan mengembangkan cara pewarisan yang sesuai dengan kebutuhan generasi berikutnya.
Pendidikan sebagai Ruang Keberlanjutan Kebudayaan
Perolehan gelar doktor ini menjadi bagian dari perjalanan akademik Sean Popo Hardi dalam mengembangkan kajian tradisi lisan, sastra, kebudayaan, dan pendidikan. Penelitiannya memperlihatkan peluang kolaborasi antara dunia akademik, pendidikan, penerbitan, dan komunitas budaya dalam menjaga keberlanjutan tradisi lokal.
Melalui penelitian tradisi lisan Tapa Malenggang, ia mengajukan gagasan bahwa warisan budaya tidak harus berhenti pada bentuk pewarisan yang sama seperti masa lalu. Tradisi dapat dikembangkan ke dalam media baru selama prosesnya dilakukan dengan memperhatikan konteks, makna, nilai, dan karakter budaya yang diwariskan.
Dengan demikian, buku cerita anak bukan sekadar produk penerbitan, melainkan salah satu kemungkinan ruang baru bagi keberlanjutan tradisi lisan dalam kehidupan pendidikan dan kebudayaan masa kini.