Petani Tak Panik Setelah Pakai Mulsa Organik

Foto bersama petani di Desa Pembengis yang tergabung dalam program Udara Bersih Indonesia (UBI). (Kilasjambi.com/gresi plasmanto)

KILAS JAMBI – Deretan tanaman cabai setan milik M Towi di Desa Pembengis, Kecamatan Bram Itam, Kabupaten Tanjungjabung Barat itu, sudah menguning, beberapa di antaranya merah dan siap petik. Di petak tanam 50×15 meter itu ada yang unik. Pada bagian larikan permukaan tanah yang ditanaman cabai ditutup dengan lapisan pelindung jerami rumput dan sisa-sisa tanaman di kebun itu.

Dengan gerak cekatan pada siang yang mendung itu, Towi melenggang di antara tanaman cabai setan jenis roket setinggi perut orang dewasa. Menenteng wadah baskom kecil dan karung, Towi menyusuri di antara deretan cabai. Cabai yang sudah merah satu persatu ia petik dan masuk ke wadah.

“Tanaman cabai ini menggunakan proses mulsa tanpa olah tanah (MTOT) atau mulsa organik,” kata M Towi di kebunnya pada Kamis (6/6/2024).

M Towi adalah kader Udara Bersih Indonesia yang merupakan program Yayasan Field Indonesia untuk pertanian ramah lingkungan dan bekelanjutan. Di Desa Pembengis yang berjarak sekitar satu kilometer dari kawasan pesisir, M Towi mengenalkan kepada semua kawannya para petani di desanya tentang praktik mulsa organik.

Sudah hampir tiga tahun M Towi konsisten menerapkan sistem mulsa organik. Menurutnya, setelah menggunakan teknik mulsa organik produktivitas hasil kebun holtikultura melesat dibanding sebelumnya menggunakan teknik konvensional.

Selain meningkatkan produktivitas hasil panen, menggunakan teknik mulsa organik kata dia, bisa menurunkan biaya perawatan tanaman dan mengurangi pupuk kimia serta pestisida. Yang paling penting saat memasuki musim tanam, petani tidak perlu lagi mengolah tanah.

Tanaman cabai milik M Towi di Desa Pembengis, Kecamatan Bram Itam, Kabupaten Tanjungjabung Barat, Jambi, memakai sistem mulsa organik. (kilasjambi.com/gresi plasmanto)

Selain itu, teknik ini dinilai ramah lingkungan karena tidak perlu membakar saat membuka kebun. Petani cukup mengumpulkan sisa-sisa tanaman atau gulma yang kemudian dijadikan sebagai lapisan pelindung.

“Yang jelas bisa mengurangi biaya perawatan tanaman, karena kami tidak perlu pupuk kimia lagi. Dan juga bahan-bahan untuk mulsa organik sudah tersedia di kebun,” kata M Towi.

Tanah gembur adalah lanskap di wilayah pesisir timur Kuala Tungkal, Tanjab Barat. Ditambah ancaman banjir rob, air tawar untuk menyiram tanaman kerap sulit didapat. “Itu parit di sini airnya asin mas, jadi kami menampung air pakai kolam terpal,” kata Towi seraya menambahkan dengan menggunakan mulsa organik tanah menjadi lembab.

Selain cabai, di lahan seluas hampir satu hektare itu M Towi juga mengembangkan tanaman holtikultura lain seperti terung, kacang panjang, waluh, dan lainnya.

Towi menjelaskan, menggunakan mulsa organik usia tanam cabainya dan panen bisa lebih panjang. Jika sebelumnya menggunakan teknik konvensional, dalam satu kali daur tanam hanya bisa panen 10 kali.

“Sesudah pakai mula organik ini usia tanam cabai bisa sampai setahun dan bisa 15 kali panen. Hasil panen juga maksimal, dan penggunaan pupuk kimia juga bisa ditekan sehingga kualitas tanam dan lingkungan dapat terjaga,” ujar Towi.

Jadi Solusi di Tengah Harga Pupuk Mahal

Bagi para petani hortikultura, mulsa merupakan salah satu material penting. Feki Okrizal, Fasilitator Yayasan Field Indonesia untuk Provinsi Jambi menjelaskan, mulsa adalah material yang dapat digunakan untuk menutup bedengan tanam. Mulsa organik sebagai alternatif pengganti pupuk kimia yang saat harganya mahal dan langka serta memberatkan petani.

Feki mengatakan, metode mulsa tanpa olah tanah (MTOT) atau mulsa organik bisa menjadi praktik baik bagi para petani. Mulsa organik kata dia, mendatangkan banyak manfaat, seperti; menghemat biaya produksi karena bahannya mudah didapatkan. Mudah terurai, dan bisa meningkatkan kandungan organik dalam tanah.

“Sangat ekonomis, tidak banyak biaya karena bahannya sudah ada di dekat kita, mulsa organik bisa membantu kelebaban tanah jadi terjaga,” kata Feki.

M Towi sedang memanen cabai di lahannya. (kilasjambi.com/gresi plasmanto)

Mulsa organik kata dia, hanya cukup memakai bahan sisa-sisa tanaman atau rumput. Mulsa organik dapat sebagi alternatif bahan pupuk alami bisa menjadi nutrisi bagi tanaman.

“Bahan mulsa organik akan terjadi pelapukan dan memberikan nutrisi sehingga petani tidak bergantung pada pupuk kimia yang memang pupuk ini sekarang menyulitkan petani,” kata Feki.

Dalam program Udara Bersih Indonesia (UBI) itu telah diterapkan oleh sejumlah kader di tiga daerah di Provinsi Jambi; Tanjungjabung Barat, Tanjungjabung Timur, dan Muaro Jambi. Ketiga daerah ini selalu menjadi langganan kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada kabut asap.

“Setiap kabupaten kita latih sebanyak 30 orang petani. Dan dilanjutkan dengan sekolah lapangan di tingkat desa. Di sini kita menghadirkan 25 orang petani di masing-masing desa,” kata dia.

Sisa-sisa tanaman di lahan pertanian sambung Feki, umumnya dibakar, saat membuka lahan juga dibakar. Hal ini bisa berdampak pada polusi udara, dan jadi penyebab terjadinya kebakaran lahan.

Untuk mengurangi polusi dan untuk meningkatkan pertanian ramah lingkungan, ada empat teknik pertanian holtikultura yang dikembangkan oleh kader UBI. Di antaranya mulsa tanpa olah tanah atau mulsa organik, bedengan kayu, kandang ayam serasah, dan pupuk cangkang telur.

“Lewat metode ini, kami menawarkan solusi supaya bisa memberikan dampak positif dari segi lingkungan dan produktivitas hasil tani,” demikian Feki.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts