Pemikiran Filsafat Islam Klasik Al-Razi dan Relevansinya Dalam Konteks Kekinian

Oleh: Yulhendri*

KILAS JAMBI – Al-Razi memiliki nama lengkap Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Al-Razi (Dahlan). Al-Razi memiliki banyak keahlian antara lain yaitu dikenal sebagai dokter, filsuf, kimiawan, dan pemikir bebas (250-313 H/864-925 M atau 320 H/932 M). Beliau oleh kalangan Latin dipanggil dengan sebutan Rhazes. Ia dilahirkan di Rayy, Teheran. Al-Razi mempunyai hubungan darah dengan bangsa Parsi (Iran) dan lahir di zaman kejayaan Khalifah Abbasiyah.

Al-Razi belajar Ilmu Kedokteran kepada Ali Ibn Rabban Ath-Thabari. Al-Razi belajar filsafat kepada Al-Balkhi. Al-Balkhi adalah orang yang banyak melakukan perjalanan, menguasai filsafat dan ilmu-ilmu kuno. Beberapa orang mengatakan bahwa Al-Razi menghubungkan dengan dirinya sendiri buku-buku filsafat Al-Balkhi.

Di kota kelahirannya, Al-Razi terkenal sebagai dokter. Karena itu, ia memimpin sebuah rumah sakit di Rayy ketika Manshur Ibn Ishaq Ibn Ahmad Ibn Azad menjadi Gubernur Rayy dari tahun 290-296H / 902-908 M.

Al-Razi merupakan seorang dokter yang memiliki jiwa dan pikiran yang didasarkan pada filsafat. Perpaduan filsafat dan kedokteran menjadikan kualitas keilmuan Al-Razi memiliki nilai plus dibanding para pendahulunya.

Al-Razi banyak menulis buku tentang Materi, Ruang, Nutrisi, Waktu, Gerak, Optik, Iklim, dan Ilmu Kimia. Buku-buku Al-Razi menurut Ibn An-Nadim dalam keterangan Syarif, adalah 118 buku, 19 surat,  4 buku, 6 surat, dan satu makalah. Jumlah seluruhnya 148 buah. Ibn Abi Usaibi’ah menyebutkan 236 karyanya, tetapi beberapa di antaranya tidak jelas pengarangnya.

Beberapa pemikiran moral yang digagas oleh Al-Razi yang masih relevan untuk konteks kekinian yaitu tentang kebahagiaan. Bagi Al-Razi, kebahagiaan adalah saat manusia kembali dari (menghidari) kemudharatan. Bagi beliau, orang yang sudah kembali dari tempat mudharat, maka orang itu akan mendapatkan kebahagiaan. Contohnya: manusia yang sedang berteduh, lalu pergi ke tempat terik matahari yang panas, saat ia kembali ke tempat yang teduh kembali, maka ia akan merasakan kebahagiaan. Jika dikaitkan dengan konteks kekinian, agaknya mirip dengan konsep tobat. Manusia yang bertobat dan kemudian kembali dari kemaslahatan, sebelumnya ia tersesat ke jalan yang salah, maka manusia itu pastinya akan merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa.

Al-Razi juga mengemukakan konsep hawa nafsu. Bagi beliau, manusia yang tunduk oleh hawa nafsu, maka ia adalah manusia yang lemah. Lemah karena tidak dapat mengontrol dan melawan hawa nafsunya sendiri, justeru ia yang dikendalikan oleh hawa nafsu tersebut. Jika di tarik pada konteks kekinian, maka tindakan kerupsi, sebenarya bukan karena miskin. Kalau orang miskin korupsi mungkin ada logikanya, namun jika orang kaya, pejabat, dan penguasa namun masih juga korupsi, maka hal itu merupakan orang yang lemah, karena manusia tersebut tidak mampu melawan hawa nafsunya.

Dari pemikiran Al-Razi tentang moral di atas, maka terdapat suatu makna baru atau perspektif baru memandang manusia. Jadi, manusia itu tidaklah dapat dikatakan kuat hanya dari sisi jabatan, posisi, kedudukan, dan harta yang ia miliki semata-mata. Melainkan, kekuatan sejati pada manusia itu dapat diperoleh hanya dengan kemampuan dirinya dalam melawan hawa nafsunya tersebut.

Selanjutnya mengapa terjadi kegelisahan masyarakat modern, karena masyarakat modern hari ini mencari kebahagiaan di tempat yang salah. Seharusnya ia mencari kebahagiaan dengan cara kembali dan “pulang” dari tempat yang mudharat.

Ketika manusia mencari kebahagiaan di club-club malam, yang di sana ada banyak minuman keras, lupa waktu ibadah, maka bukan kebahagiaan yang akan diterimanya, melainkan yang akan didapatkan hanyalah kegelisahan-kegelisahan yang baru. Demikian penjelasan moral dari Al-Razi mudah-mudahan pemikiran beliau dapat menjadi inspirasi dan mengedukasi masyarakat untuk menjadi manusia yang kuat dan manusia yang bahagia.

*Mahasiswa Prodi AFI UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Angkatan 2020

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts
Read More

Ilmu Nasi Minyak

Nak, kalu kau ndak supayo biso makan nasi minyak setiap Minggunyo. Belajar lah ilmu nasi minyak..!! Muhammad Thayib*…