Connect with us

Budaya

Kisah Gelang “Sebalik Sumpah”

Published

on

Kondisi Orang Rimba -- serta seorang anak yang menggunakan kalung "sebalik sumpah" -- yang berada di luar TNBD. Mereka hidup berpindah dari satu area kebun sawit ke kebun sawit lainnya. (credit tittle : Jon Afrizal)

Jon Afrizal*

Induk Genandang (30) berulangkali melirik gelang di lengan kanannya. Untaian buah-buahan hutan itu seolah tak sanggup menahan batuk yang menderanya sepanjang hampir satu bulan ini.

Gelang yang dipakainya itu biasa disebut “gelang  Sebalik Sumpah” oleh Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) yang berdiam di lansekap Bukit Dua Belas. Yakni di Kabupaten Tebo, Batanghari dan Sarolangun di Provinsi Jambi.

Bagi kepercayaan Orang Rimba, penyakit berasal dari pihak lain, atau yang biasa dikenal dengan sumpah. Sumpah atau kutukan biasa digunakan oleh pihak luar kelompok untuk menyerang Orang Rimba.

Dengan menggunakan gelang itu, siapapun yang memakainya akan terlindungi dari sumpah orang lain. Sebaliknya, sumpah itu akan berbalik kembali kepada yang melontarkannya.

Kenyataannya, batuk yang diderita perempuan beranak satu ini semakin parah. Ia hanya terbaring di “sudung”-nya (rumah yang biasa digunakan Orang Rimba– hanya beratap terpal plastik tanpa dinding) di sebuah areal perkebunan karet milik warga di Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun.

“Saya tidak punya biaya untuk berobat. Ke puskesmas pun tidak bisa, karena saya tidak punya KTP,” katanya kepada TheJakartaPost belum lama ini.

Penyakit batuk pilek yang biasanya mereka sebut “selemo”, mungkin saja berasal dari kata “selesma”. Itu adalah penyakit yang paling menakutkan bagi mereka.

“Penyakit ini menyebar cepat sekali. Satu rombongan dapat tertular semua,” kata Mengku Meriau (30), pimpinan dari 20 Kepala Keluarga (KK) kelompok Orang Rimba yang berdiam di perkebunan sawit itu.

Dulu, katanya, sumpah dan kutukan dari orang lain yang berbentuk penyakit dapat ditangkal dengan gelang ini. Sekarang, mereka pun bingung, kenapa gelang itu tidak mampu menahan sumpah itu.

“Ini kepercayaan turuntemurun. Meskipun kasiatnya telah kurang atau tidak ada, tetapi kami akan tetap memakainya,” katanya.

Temenggung Tarip, seorang ketua dari kelompok Orang Rimba di kawasan Air Hitam, Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) di Kabupaten Sarolangun berkisah bahwa biji-bijian yang dibuat menjadi gelang itu berasal dari pohon bernama Lerok Melong. Pohon itu tidak terlalu besar dan tinggi, dan hanya berbuah satu tahun sekali.

“Pada awalnya, para dukun menggunakan bebijian ini agar anggota kelompok terhindar dari sumpah dan kutukan pihak lain di luar kelompok. Tentunya disertai dengan jejampian,” katanya.

Lalu dibuatlah bebijian berwarna coklat tua ini menjadi gelang, agar mudah dikenakan. Beberapa yang lainnya menjadikannya sebagai kalung.

Biji-biji ini sifatnya keras dan semakin lama semakin tua warnanya, hingga menghitam. Umumnya Orang Rimba menguntainya dengan menggunakan benang atau tali pancing.

Seuntai gelang “Sebalik Sumpah” yang dibuat oleh Mijak, seorang anak rimba. Sebagai identitas bagi kelompok indigenous people ini. (credit tittle : Jon Afrizal)

Kawasan Air Hitam memang populer sebagai area tumbuhnya pohon itu. Tetapi, ternyata juga dijumpai di daerah lain, seperti Kabupaten Muarojambi, misalnya.

Ahok (40), seorang pegiat seni budaya di Desa Muarojambi, yakni di areal kompleks percandian Muara Jambi mengatakan ia pernah bertemu kelompok Orang Rimba yang sedang berada di sekitar desanya, sekitar 5 tahun yang lalu.

Lalu, mereka pun bercerita tentang gelang itu kepadanya. Setelah diamatinya, pohon asal bebijian itu juga ada di sekitar desa mereka.

“Saya pun kemudian mengadopsinya untuk peningkatan ekonomi warga di desa ini,” katanya.

Gelang “sebaik sumpah” mereka buat sebagai souvenir untuk dijual kepada pengunjung areal kompleks percandian. Seutas gelang dibandrol dengan harga Rp 25.000.

“Ini tidak melulu bersifat ekonomi saja. Tetapi juga bermaksud untuk menjelaskan bahwa Orang Rimba juga butuh pengakuan,” katanya.

Adalah Mijak (20), seorang anak rimba yang kini berkuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Jambi. Ia juga membuat gelang itu untuk dijual.

“Tetapi, terus terang, saya malu. Karena Orang Rimba masih dianggap terbelakang bagi banyak orang,” katanya.

Ia pun meminta teman yang dipercayainya untuk menjualnya. Tentunya, berdasarkan pengetahuan yang ia dapat, pembuatannya lebih rapi lagi.

Ia memilih bebijian yang baik. Sedangkan untuk perangkainya, digunakanlah tali untuk kegiatan outdoor yang berukuran kecil, dan disimpul selayak gelang yang banyak digunakan para mahasiswa pecinta alam.

Harganya pun lebih tinggi. Sekitar Rp 30.000 per gelang.  Sedangkan para temannya yang membantu menjual akan menjualnya dengan harga Rp 35.000.

Berdasarkan data Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi — sebuah NGO pendamping Orang Rimba–  terdapat 5.235 jiwa Orang Rimba saat ini. Umumnya mereka berada di TNBD, dan beberapa kelompok kecil bersebaran di luar area TNBD.

Robert Aritonang, antropolog dari KKI Warsi mengatakan melalui gelang “sebalik sumpah” yang kini banyak dikenakan anak muda di luar komunitas Orang Rimba setidaknya membuat publik berpikir tentang konservasi yang baik.

“Dengan alam hutan yang baik yang membuat Orang Rimba tetap ada,” katanya.

Meskipun, katanya, tidak bisa dipungkiri bahwa Orang Rimba harus sama seperti penduduk lainnya. Tetapi, itu tentu butuh waktu. Agar Orang Rimba — kelompok masyarakat peburu dan meramu– ini tidak culture shock menghadapi perubahan jaman. ***

* jurnalis TheJakartaPost

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *