[Kilas Foto] Perjuangan Perempuan Penjaga Hutan Terakhir di Lahan Gambut

Sonia Anggraeni saat memeriksa kedalaman air di Hutan Desa Pematang Rahim, hutan lindung Sungai Buluh, foto: wendi

KILAS JAMBI – Perempuan ketika musim kering terpukul dua kali dibanding lelaki. Ketika musim tanpa hujan, sumur kering. Maka perempuan akan berjalan kaki 2-3 kilometer untuk mengambil air. Selain itu, lelaki pada musim kebakaran lebih banyak di dalam hutan, turut memadamkan api. Perempuan di rumah sendirian, mengurus anak, mencari air dan harus bekerja mengurusi kebun.

Kesadaran para perempuan untuk menjaga hutan lindung gambut Sungai Buluh tumbuh, lantaran trauma kebakaran empat tahun lalu. Kekeringan membuat perempuan menderita. Kabut asap telah merenggut bayi baru lahir. Bahkan kematian dini itu, sebelum ia memiliki nama.

Perjuangan sekarang untuk mewariskan hutan ke anak-cucu. Untuk menemukan sumber ekonomi baru dengan agrofestry. Peluh perempuan untuk menjaga kelestarian hutan lindung gambut Sungai Buluh.

Luas hutan lindung gambut Sungai Buluh sekitar 17.476 hektar di Kecamatan Mendahara Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung (Tanjab) Timur, Jambi. Terletak di kesatuan hidrologi gambut (KHG) Sungai Batanghari-Mendahara. Termasuk kubah gambut dengan antara 2-6 meter.

Dengan begitu penting menjaga hutan gambut tak terbakar. Tidak hanya menyelamatkan bumi dari pemanasan global, tetapi melindungi keberagaman hayati yang hidup dalam hutan gambut.

Dalam kawasan ini, hidup pohon-pohon endemik bernilai konservasi tinggi. Punak (tetrameristra glabra), meranti (shorea), kempas (koompassia malaccensis), rengas (gluta rengas) dan jelutung rawa (dyera polyphylla), ramin (gonystylus bancanus), medang (sizygium lacypalum), berumbung (adina minutiflora), dan mersawa (anisoptera costata).

Dengan potensi pohon endemik ini, para perempuan turut terlibat dalam pengembangan pohon asuh sebanyak 381 batang. Setiap pohon menghasilkan uang Rp200.000 per tahun.

Hutan lindung gambut Sungai Buluh juga rumah bagi beragam fauna dilindungi seperti macan dahan (neofelis diardi sumatrensis) beruang madu (helarctos malayanus) tapir (tapirus indicus) berang-berang (lutra sumatrana) macan akar (prionailurus bengalensis) trenggiling (manis javanica) dan burung elang (elanus caeruleus) dan cekakak hutan melayu (actenoides concretus).

Selain itu, hutan lindung gambut Sungai Buluh menunjang ekonomi warga dengan skema perhutan sosial, Hutan Desa Pematang Rahim dengan luas 1.185 hektar, Hutan Desa Sinar Wajo dengan luas 5.500 hektar, dan Hutan Desa Sungai Beras dengan luas 2.200 hektar.

Sementara perusahaan yang mengeliling hutan lindung gambut Sungai Buluh, PT Wira Karya Sakti seluas 23.993 hektar, kemudian PT Mendahara Agro Jaya Industri  anak PTPN VI 3.231,95 hektar, lalu PT Kaswari Unggul seluas 10.500 hektar dan PT Indonusa Agro Mulya 10.670  hektar.

Kanalisasi dari perusahaan menjadi ancaman krisis air dan kebakaran di hutan lindung gambut Sungai Buluh. Sebagian besar perusahaan memang tidak mematuhi aturan restorasi gambut dengan menjaga tinggi muka air 40 sentimeter dan memasang sekat kanal, agar tata kelola air di lahan gambut, dapat disesuaikan dengan kondisi musim kemarau atau hujan.

Selain ancaman krisis air, aktivitas perambah di hutan lindung gambut Sungai Buluh masih ada. Baik yang berasal dari warga lokal maupun dari luar.

Cindy Amanda saat memeriksa tinggi muka air di Hutan Desa Pematang Rahim, bagian dari Hutan Lindung Sungai Buluh, foto: wendi
Mariyati petani kopi di lahan gambut, foto: wendi
Dinda Novitasari, bidan desa yang merawat anak-anak Ispa di Desa Sungai Beras ketika kebakaran tahun 2019 lalu, foto: wendi
Perempuan di kawasan hutan gambut Sungai Buluh juga tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA), foto: wendi
Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts