Connect with us

Jambi

Keren, Manfaatkan Limbah Upih Pinang Jadi Wallpaper Dinding

Published

on

Proses pengolahan upih pinang untuk dijadikan wallpaper, foto: Harmuna

KILAS JAMBI – Kolaborasi Harmuna Sulistia dan Qomariah berhasil membuat produk inovasi dari upih atau pelepah pinang menjadi produk bernilai seni dan bernilai ekonomis, mereka mengolah upih pinang menjadi wallpaper dinding. Upih pinang memang merupakan limbah pohon pinang yang kaya manfaat.

Karya ini juga lah yang mengantarkan duo gadis asal Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi itu berhasil meraih juara II dalam lomba Inovasi Produk Daerah Tahun 2021 kategori Perguruan Tinggi yang digelar Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Jambi.

Seumuran dan berdomisili di desa yang bertetangga, Harmuna tinggal di Desa Jambi Kecil dan Qomariah tinggal di Mudung Darat, membuat keduanya yang saat ini sama-sama menginjak usia 20 tahun bisa berkolaborasi dengan apik. Apalagi, mereka menempuh pendidikan di kampus yang juga sama, Harmuna mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi, sedangkan Qomariah mahasiswi Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

Harmuna dan Qomariah berhasil meraih juara II dalam lomba produk inovasi daerah tahun 2021 yang digelar Balitbangda Provinsi Jambi, foto: ist

“Kita berdua memang satu frekuensi,” kata Qomariah mengawali pembicaraan dengan kilasjambi.com.

Baik Harmuna maupun Qomariah justru awalnya tidak saling kenal meskipun tinggal di desa yang bersebelahan, dan mengenyam pendidikan di sekolah yang sama saat SMA.

“Harmuna kakak tingkat saya di SMA, namun kami tidak saling mengenal,” kata Qomariah.

“Kamu baru mengenal saat sama-sama kuliah di Unja, sama-sama suka nongkrong di LPTIK Unja, mencari wifi gratis,” kata Harmuna menimpali.

“Jadi karena sering ketemu, sering ngobrol, akhirnya berdiskusi untuk mengikuti berbagai perlombaan dan menjadi partner,” tambah Harmuna menegaskan.

Kompak Lakukan Riset

Sebelum memilih upih pinang untuk diolah menjadi produk inovasi bernilai jual, keduanya kompak melakukan riset dan penelitian terutama terkait dengan tekstur pelepah pinangnya. “Jadilah kami menginovasikan upih pinang itu menjadi wallpaper dinding,” kata Harmuna.

Keduanya menginginkan agar limbah pohon pinang yang telah diolah menjadi wallpaper tersebut bisa meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat di desa mereka khususnya petani pinang. Harmuna dan Qomariah melihat upih pinang tergeletak begitu saja di kebun warga, bahkan cenderung menjadi sampah. Melihat adanya peluang, keduanya akhirnya mengumpulkan bahan baku yang melimpah tersebut untuk dijadikan produk inovasi.

Produk inovasi wallpaper berbahan upih pinang buatan Harmuna dan Qomariah, foto: ist

“Jadi yang awalnya upih pinang tidak bernilai jual, bisa menjadi produk bernilai ekonomis,” kata Qomariah.

Menurut mereka, petani pinang di desa mereka saat ini lebih banyak fokus kepada komoditi buahnya saja, padahal ada potensi besar dari upih pinang jika diolah menjadi berbagai produk.

“Jadi selain mudah diaplikasikan untuk menjadi wallpaper, pelepah pinangnya juga mudah didapatkan,” kata Harmuna.

Proses Pengolahan

Lantas bagaimana dengan proses pengolahannya?, setelah mengumpulkan upih pinang yang mereka dapatkan secara cuma-cuma dari kebun pinang milik warga, upih pinang dikelupas dan diambil lapisan bagian dalamnya saja. Bagian lapisan yang diambil adalah bagian yang bertekstur licin, lapisan ini telah memiliki bentuk dan warna yang estetik, memiliki guratan-guratan warna kecoklatan yang membentuk motif abstrak.

“Proses pengupasan tidak terlalu sulit, memang bagi pemula akan sedikit kesulitan, lapisan upih pinang yang diambil adalah bagian yang lebih lembut dan lebih elastis,” kata Harmuna.

Setelah dikupas, bagian upih pinang yang diambil kemudian dijemur agar upih yang akan dibuat wallpaper menjadi lebih awet, proses penjemuran dibutuhkan waktu antar tiga sampai lima menit

“Karena jika dijemur terlalu lama justru akan menjadi kering dan pecah-pecah,” kata Qomariah.

Upih pinang dijemur sebelum diolah menjadi wallpaper, foto: Harmuna

Usai dijemur, upih pinang bisa langsung dipotong atau dibentuk sesuai dengan keinginan, namun untuk wallpaper mereka memilih membuat pola seperti bentuk dan berukuran batu bata. Pola batu bata dipilih supaya lebih mudah disusun menjadi bentuk kotak persegi.

“Secara estetika juga enak dilihat,” kata Harmuna.

Lalu proses selanjutnya, upih pinang yang telah dipotong seperti bentuk batu bata dilem dengan perekat khusus dan menggunakan alas kertas khusus untuk menyatukan susunan pola batu bata tersebut.

“Setelah direkatkan ke alas kertas, upih kemudian kami pres atau ditekan dengan menggunakan kayu, agar susunannya menjadi lebih rata dan rapi,” kata Harmuna.

“Kami memang memilih menggunakan bahan dan perkakas seadanya, untuk menghemat modal,” kata Harmuna dan Qomariah kompak, sambal tertawa kecil.

Untuk mempercantik tampilan, Harmuna dan Qomariah menyemprot upih pinang yang telah dibentuk menjadi wallpaper dengan clear pengkilat dari cat semprot, selain mempercantik tampilan, proses ini juga mereka yakini bisa membuat wallpaper lebih tahan lama dan anti rayap.

Mereka sengaja memilih ukuran dan bentuk wallpaper yang simpel dan tidak rumit, tujuannya agar mudah dalam proses pembuatan dan mudah dipasarkan, “Sengaja dibentuk perpetak, seperti yang dijual di toko-toko online,” kata Harmuna.

Keduanya juga akan meriset pasar, apa ada yang mau membeli, jika pemasaran sudah pasti baru akan diproduksi. Keduanya juga telah melabeli komunitas mereka dengan nama Arewall – Aesthetic Home Decor.

Wallpaper Bukan Produk Pertama

Harmuna mengatakan jika wallpaper berbahan upih pinang ini justru bukan produk pertama mereka, sebelumnya mereka sudah pernah membuat produk inovasi lainnya dari upih pinang berupa produk fashion berbentuk tas.

Produk inovasi tersebut lagi-lagi mengantarkan mereka pada sebuah penghargaan bergengsi, bahkan untuk produk tas ini mereka bisa mengantongi juara I dalam perlombaan Bisnis Plant Competition yang digelar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada tahun 2020.

“Seharusnya kami ke Jogja kemarin, namun karena pandemi terpaksa dibatalkan,” kata Qomariah.

Meski juara I kompetisi, mereka belum berencana menjadikan produk inovasi tas itu dibuat atau diproduksi dalam volume yang besar, mereka menganggap produk tas berbahan upih pinang tersebut belum terlalu layak untuk dipasarkan.

“Untuk tas masih butuh pengembangan produk yang lebih bisa diterima masyarakat,” kata Qomariah.

“Produk tas ini juga butuh riset lebih dalam lagi, apalagi produk tas harus lebih tahan air, upih pinang jika terkena air lebih mudah rusak. Upihnya juga harus lebih lebar, lebih rumit,” kata Harmuna menambahkan.

Keduanya saat ini lebih memilih wallpaper untuk dikembangkan karena mudah diaplikasikan, terutama dalam bentuk stiker dinding. Untuk sementara mereka ingin fokus ke produk inovasi yang simpel namun tetap menghasilkan.

Produk wallpaper dari upih pinang dalam bentuk stiker dinding, foto: ist

“Kita juga belum memproduksi wallpaper yang full dinding, tapi baru sebatas stiker saja,” kata Harmuna.

Ide Ikuti Perlombaan Berawal dari Diskusi Ringan

Ide untuk mengikuti berbagai perlombaan produk inovasi berawal dari diskusi ringan yang dilakukan keduanya, dari diskusi itu lah akhirnya diputuskan membuat wallpaper dan tas dari pelepah pinang.

Dalam perlombaan Inovasi Produk Daerah Tahun 2021, mereka menggarap proposal sebagai syarat untuk mengikuti lomba di saat hari-hari terakhir pendaftaran.

“Saat pengiriman proposal kami mendapat skor tertinggi, namun saat presentase di hadapan juri, kami diputuskan memperoleh juara II,” kata Harmuna.

Piagam penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jambi, foto: ist

Saat itu, cerita keduanya, juri menyampaikan sudah banyak produk inovasi dari upih pinang, seperti produk piring yang justru permintaannya tinggi dari luar negeri, namun ternyata petani pinang di daerah Tanjungjabung Barat dan Tanjungjabung Timur sebagai sentra kebun pinang di Jambi belum mampu menyuplai bahan baku, karena upih pinang yang digunakan untuk membuat piring harus dari pelepah yang baru jatuh dari pohon pinang dan harus segera diolah.

Akan tetapi, Harmuna dan Qomariah berhasil meyakinkan juri jika mereka tidak akan terkendala dengan bahan baku, sebab untuk produk wallpaper yang mereka buat tidak akan tidak terpengaruh dengan usia upih pinang.

“Justru upih pinang yang makin tua, makin estetik warnanya,” kata Qomariah.

Dari riset yang mereka lakukan, sudah banyak produk inovasi berbahan upih pinang yang telah dibuat orang lain, seperti alas meja dari upih pinang. Namun untuk wallpaper, mereka yakin ini produk pertama yang memanfaatkan pelepah pinang.

“Wallpaper rasanya belum ada, Insya Allah ini baru yang pertama kalinya di dunia, sebab kamu sudah googling,” kata Harmuna.

Akan Cari Dukungan Sebanyak-banyaknya

Ke depan, mereka berharap wallpaper bisa diproduksi dalam jumlah banyak, namun saat ini mereka masih fokus membuat stiker untuk hiasan dinding, karena mereka menyadari belum pastinya penghasilan yang didapat untuk membayar jasa warga yang membantu.

“Bagi pemula, bikin lima produk saja sudah capek,” kata Harmuna.

Dalam membuat produk inovasi dari upih pinang, keduanya mengaku saling melengkapi, termasuk bagaimana upaya mereka untuk meyakinkan masyarakat terutama ibu-ibu di desa mereka supaya mau mengolah upih pinang menjadi produk bernilai jual.

Meski masyarakat yang terlibat belum terlalu banyak dan baru sebatas warga di RT tempat mereka tinggal, namun beberapa warga sudah mulai menekuni kegiatan mengolah upih pinang tersebut.

Warga yang terlibat dalam pengolahan upih pinang untuk dijadikan wallpaper, foto: Harmuna

“Palingan baru sebatas teman-temannya ibu,” kata Harmuna.

“Nantinya kami juga bukan mempekerjakan warga, tapi mitra, masyarakat menyediakan upih pinang namun yang sudah dikupas, jadi kami membeli ke masyarakat,” kata Qomariah.

Mereka juga akan meminta dukungan sebanyak-banyaknya dari berbagai pihak, di antaranya dari pemerintahan desa. Sedangkan dari kampus dalam lomba Produk Inovasi Daerah Tahun 2021 mereka mengaku akan mendapatkan reward dari pihak kampus. (*)

Continue Reading
Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *