Kehidupan Perempuan Rimba: Meski Tertutup namun Dituntut Terampil

Perempuan rimba berada di pepohonan sawit milik perusahaan, foto : dok KKI WARSI

Oleh: Herma Yulis*

ORANG RIMBA sangat menghargai dan melindungi perempuan. Hal itu memang sudah diatur dalam tradisi dan adat istiadat Orang Rimba. Mereka meninggikan derajat dan memberikan penghargaan terhadap perempuan karena melalui tangan-tangan perempuanlah keberlangsungan hidup anak keturunan mereka dipertaruhkan.

Dalam obrolan santai dengan Ternong, seorang Orang Rimba di Bukit Duabelas beberapa tahun lalu, saya pernah menanyakan bagaimana pandangan dan perlakuan mereka terhadap kaum perempuan di kelompok Orang Rimba. Menjawab pertanyaan itu, ia pun memberikan sebuah perumpamaan bahwa laki-laki dalam masyarakat rimba adalah buah mentimun dan perempuan adalah buah durian.

Jika suatu ketika buah mentimun tergolek (berhimpitan) dengan durian maka yang akan terluka atau kalah adalah mentimun. Meski pun posisinya berada di bawah atau pun di atas, namun selalu mentimun yang akan kalah terkena duri-duri buah durian. Dengan kata lain, jika laki-laki rimba bermasalah dengan seorang perempuan maka dia tetap dianggap salah dan harus mengalah. Ini adalah bentuk penghormatan dan penghargaan mereka dalam menjaga perempuan di dalam komunitas mereka.

Perempuan Rimba Dijaga dari Orang Luar

Dalam kehidupan Orang Rimba, perempuan sangat dihargai, sehingga mereka harus diproteksi dari berbagai kehidupan di luar komunitas mereka. Sehingga mereka tak boleh diekspos, karena Orang Rimba berpandangan bahwa kehidupan di luar komunitas mereka dianggap sebagai kehidupan yang penuh dengan penyakit dan bahaya, dan mereka harus mengambil jarak.

Pengalaman beberapa tahun lalu, ketika pertama kali datang ke wilayah Orang Rimba di kawasan Terab, saya menyaksikan bagaimana Orang Rimba memproteksi para perempuan di dalam kelompoknya. Ketika itu kami baru saja mendekat ke arah pondok-pondok mereka. Dari jauh sudah terlihat jika ada sejumlah perempuan dan anak-anak sedang berkumpul. Namun, ketika kami mendekat, mereka tiba-tiba berlarian kocar-kacir masuk ke dalam hutan.

Ketika itu saya ditemani Bang Abdi, salah seorang staff KKI WARSI yang memang bertugas mendampingi Orang Rimba di daerah Terab. Menurutnya, Orang Rimba di Terab memang dikenal masih sangat kental memegang aturan adat rimba.

Bang Abdi santai saja menyikapi kepergian sejumlah perempuan rimba yang berlarian masuk ke dalam hutan. Sementara saya dan sejumlah wartawan saat itu tercengang keheranan. Ia lalu berteriak memanggil laki-laki Orang Rimba dengan menggunakan bahasa rimba. Dan, tak perlu menunggu lama, sejumlah laki-laki dan anak-anak keluar mendatangi kami.

Begitu mengenali bahwa yang datang adalah Bang Abdi, mereka akhirnya menerima kami. Namun, hanya terdiri dari laki-laki dan anak-anak saja. Sementara Orang Rimba perempuan sudah pergi menjauh dari sekitar lokasi. Begitulah, Orang Rimba sangat menjaga dan memproteksi perempuannya dalam berinteraksi dengan pihak luar.

Kehidupan Sehari-Hari

Jika dilihat cara mereka berpakaian, terdapat perbedaan mencolok antara perempuan rimba yang masih gadis dan perempuan rimba yang telah menikah. Busana yang tak pernah lepas dari perempuan rimba adalah kain kemben. Bagi perempuan yang masih berstatus gadis, maka mereka biasanya akan mengenakan kemben dengan cara dililitkan sebatas dada. Sementara bagi perempuan rimba yang telah menikah, kain kemben hanya dililitkan sebatas pusar saja. Hal ini menjadi suatu kebiasaan yang sekaligus menjadi penanda bahwa perempuan itu sudah menikah atau masih gadis.

Meski mereka sangat tertutup karena dibatasi oleh adat yang ketat, namun perempuan rimba tetap dituntut untuk selalu rajin dan terampil. Biasanya perempuan rimba sangat terampil dalam membuat kerajinan seperti membuat ambung, menganyam tikar, cekatan dalam mencari kayu bakar, serta rajin memasak. Inilah beberapa kemampuan dasar dan keahlian yang mutlak dimiliki oleh perempuan rimba dalam rangka menaikkan derajat mereka di mata anggota kelompok.

Rangkuti dan Bubung Angkawijaya dalam Orang Rimba Menantang Zaman (2010) mengatakan, ketika perempuan rimba sudah menikah, maka ia akan disibukkan dalam urusan ‘rumah tangga’. Bertugas sebagai ibu untuk mengurusi anak-anaknya, dan juga menjadi partner bagi suaminya.

Selain itu, perempuan rimba merupakan pekerja yang kuat. Mereka juga pengumpul kayu bakar yang hebat dan mereka adalah penjaga api dapur yang sabar. Sebab, padamnya bara api di dapur bisa menjadi sebuah pemicu percekcokan dalam rumah tangga dan bahkan bisa berakhir menjadi sebuah perceraian. Dalam penilaian laki-laki Orang Rimba, jika api padam di dapur itu adalah pertanda bahwa perempuan yang diperistri adalah perempuan pemalas. Cara pandang seperti ini pula yang menjadikan perempuan rimba kebanyakan adalah pencari kayu bakar yang hebat dan penjaga api yang sabar.

Sementara dalam sistem kepemilikan harta rumah tangga, perempuan rimba sangat mendominasi. Namun, ada hubungan mutualisme simbolik dalam kekuasaan dan kepemilikan harta. Hal ini menunjukkan adanya saling ketergantungan antara perempuan dan laki-laki dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kehidupan perempuan rimba memang terlihat sederhana dan tertutup, namun di dalamnya terdapat potret kehidupan yang penuh dengan tekad, semangat, dan keberanian. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan dan keterbatasan, namun perempuan rimba mampu bertahan dan menjaga keberlangsungan hidup komunitas mereka.

 

*Herma Yulis, tinggal di Batanghari

Tulisannya berupa cerpen, artikel, dan resensi buku pernah dimuat di koran Kompas, Koran Tempo, Nova, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia (SINDO), Jurnal Nasional (Jurnas), Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Majalah Mata Baca, Majalah Medium, Jambi Independent, Minggu Pagi, Jurnal Seloko, Kilasjambi.com, Scientific Journal, dan Geotimes. Tahun 2016, bersama Puteri Soraya Mansur menerbitkan buku kumpulan cerpen Among-Among

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts