Hikmah Malam Nisfu Sya’ban Dalam Perspektif Imam Baihaqi

Ariyandi Batu Bara

Oleh: Ariyandi Batu Bara, S. Ud., M. Ud*

Masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah Provinsi Jambi tatkala memasuki bulan Sya’ban, maka pada malam Nisfu Sya’ban, mereka mengisinya dengan kegiatan kegamaan pada malam hari di masjid/mushala/langgar selepas menunaikan sholat Maghrib secara berjamaah.

Nisfu Sya’ban adalah dua kata yang memiliki arti yaitu Nisfu yang berarti pertengahan. Sedangkan Sya’ban yang berarti bulan Sya’ban, yaitu bulan ke-8 tahun Hijriah. Dengan demikian, maka makna eksplisit dari Nisfu Sya’ban adalah malam pertengahan pada bulan Sya’ban.

Kegiatan keagamaan dimaksud yaitu pembacaan surat Yasiin sebanyak tiga kali berturut-turut. Setelahnya dilaksanakan pembacaan doa bersama, tausiah singkat, bahkan di beberapa tempat, ada yang diakhiri dengan kegiatan jamuan makan malam bersama setelah menunaikan shalat fardhu Isya secara berjamaah.

Tulisan ini disusun dengan metode analisis terhadap Kitab Fadail Al-Awqaat karya Imam Baihaqi yang pada salah satu bab-nya menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut. Penulis tidak merujuk kepada naskah primernya, melainkan menganalisa naskah sekunder yang berasal dari hasil riset Dwi Apriana Lestari.

Dalam kitab Fadhail Awqaat terdapat delapan buah hadits bertatus shahih yang menjadi landasan Imam Baihaqi untuk menerangkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Keutamaan tersebut adalah: (1) Allah SWT mengampuni dosa-dosa seluruh hamba-Nya kecuali yang musyrik, orang yang bertengkar, orang yang meninggalkan persatuan ummat, dan pezina; (2) Mengisinya dengan ibadah, lalu berpuasa pada siang harinya; (3) Allah SWT akan memberikan rezeki bagi orang yang meminta rezeki (pada malam ini hingga terbit fajar).

Keutamaan yang terdapat pada malam Nisfu Sya’ban tentunya perlu dipahami dengan komprehensif agar umat Islam tidak memahaminya dengan keliru lantas bertindak atas dasar kekeliruan tersebut. Tentu kondisi itu akan merusak hikmah dan keutamaan yang terdapat pada malam Nisfu Sya’ban itu sendiri.

Pengampunan yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia pada malam tersebut perlu dipahami bahwa bukan berarti pada 11 bulan yang lainnya ampunan Allah SWT tidak diberikan. Tidak, dan bukan pemahaman seperti itu tentunya yang diharapkan. Melainkan ada keutamaan khusus yang istimewa tatkala umat bermunajat kepada Allah SWT pada malam tersebut, sembari tetap memohon ampun kepada Allah SWT pada bulan dan masa yang lainnya. Sebab bagaimana pun juga, manusia adalah tempat khilaf dan lupa dan karena itulah permohonan ampun harus konsisten dilakukan di sepanjang masa, sampai kapan pun hingga nyawa berpisah dari raga.

Nisfu Sya’ban juga memberikan penekanan kepada jenis dosa tertentu yang tidak diampuni oleh Allah SWT pada malam tersebut, yaitu: pezina, orang yang berselisih/meninggalkan persatuan umat, dan dosa musyrik. Hikmah penyebutan secara eksplisit terhadap dosa ini menunjukkan bahwasanya ketiganya adalah sebuah dosa yang dapat berakibat fatal baik dalam konteks hubungan hamba dengan Tuhan-nya sekaligus hubungan di antara sesama manusia. Kesalehan individual sekaligus kesalehan sosial yang tidak dijaga akan sekaligus mendegradasi status ontologis kemanusiaannya di hadapan Tuhan dan manusia.

Terbukanya pintu-pintu rezeki kepada orang-orang yang meminta rezeki pada malam Nisfu Sya’ban tersebut juga menyiratkan bahwa pengamalan spiritualitas agama harus ditopang oleh kemapanan ekonomi. Itulah sebabnya Islam mendorong umatnya untuk mendapatkan kekayaan dengan cara halal, agar terwujud kebahagiaan/kebaikan (hasanah) di dunia dan akhirat.

Satu hal yang juga penting untuk dicatat bahwa malam Nisfu Sya’ban hendaknya tidak terfokus pada konteks munajat atau berdoa saja kepada Tuhan YME. Melainkan konteksnya adalah bahwa doa itu sendiri haruslah diiringi dengan ikhtiar yang nyata.

Berdoa saja tanpa diringi dengan ikhtiar adalah kezaliman atas nikmat Allah SWT yang telah memberikan manusia fasilitas akal dan hawa nafsu. Sedangkan ikhtiar tanpa berdo’a adalah sebuah ketidakpantasan karena itu adalah kesombongan yang tidak patut “diselendangkan” di pundak manusia.  Semoga hikmah malam Nisfu Sya’ban ini membawa kita semakin dekat kepada ridha Allah SWT.

 

*Akademisi Bidang Pemikiran Agama dan Filsafat Islam di UIN STS Jambi

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts