Cerita Perempuan Rock n Roll Pembela HAM dari Tanah Minang

Siti Ramadhani Azmi, foto: facebook

Seorang perempuan muda merekam dengan berani, tindakan brutal aparat Satpol PP saat melakukan penertiban pedagang di pasar Kota Padang, November 2022 lalu.

Di balik kamera, perempuan itu menahan amarah kepada aparat yang bengis menjarah barang dagangan pedagang secara paksa bahkan melakukan pemukulan secara membabi buta.

“Kau siapa! Bukan wartawan tapi merekam-rekam. Matikan!,” hardik petugas perempuan yang menyadari kehadiran Siti Ramadhani Azmi, 23 tahun, di antara mereka.

“Mana aturan hukumnya! yang melarang warga sipil merekam tindakan sewenang-wenang!,” bentak Sarah yang bersahutan dengan suara pekik tangis para pedagang.

Perempuan yang akrab dipanggil Sarah ini, belum sempat menyelesaikan ucapannya, beberapa petugas perempuan sudah mendekat dan mencekik lehernya.

Dua orang di antara petugas menarik paksa tangan Sarah dan petugas lelaki sudah merentangkan kedua kakinya sembari ingin mengangkutnya ke mobil.

“Tolong! Tolong!,” teriak Sarah didengar pedagang lain yang segera membantunya. Semua pedagang berkerumun, Sarah pun memberontak dari cengkraman petugas lalu berdiri di barisan pedagang.

Pedagang yang sedari tadi lemah, mulai terbit keberanian dan hendak melawan. Kalah jumlah, Satpol PP pun berlalu pergi.

Sore hari, usai kejadian itu, Sarah mengumpulkan pedagang terutama kelompok perempuan, untuk melaporkan aksi brutal aparat ke kepolisian.

Buah manis dari perlawanan Sarah dan para pedagang, Kepala Satpol PP Kota Padang dicopot.

“Saat ini masih proses hukum di kepolisian, mereka meminta damai dan menyuruh saya mencabut laporan. Saya katakan tidak bisa. Ini demi keadilan, proses hukum harus terus berjalan,” kata Sarah.

Keberanian Sarah bukan karena dia seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum di Universitas Eka Sakti, Padang.

Mewarisi Darah Juang dari Sang Ibu

Ada darah juang di dalam tubuhnya yang diwariskan dari sang ibu. Semenjak kuliah sampai sekarang, ibunya masih aktif mengadvokasi pedagang di pasar Kota Padang.

Ibunya juga merupakan aktivis pedagang di pasar, mulai dari kuliah sampai sekarang. Tak jarang, sang ibu membebaskan pedagang-pedagang yang ditangkap karena mengalami kriminalisasi dari aparat.

Sarah kecil sempat protes dengan tindakan sang ibu, yang sering bersentuhan dengan hukum dan kekerasan aparat. Maka ibunya berkata;

“Kalau kita punya ilmu. Kemudian ada ketidakadilan terjadi di hadapan kita, lalu kita diam saja, tidak melakukan apa-apa. Maka berdosalah kita, sia-sialah kita hidup,” nasihat ibunya yang senantiasa terngiang di telinga Sarah.

Beberapa orang kenalan Sarah terkadang menyuruhnya berhenti melakukan perlawanan yang bisa membahayakan dirinya. Kemudian mereka mendorong Sarah untuk menyelesaikan kuliah, yang sudah hampir enam tahun.

“Tidak. Cara saya agar merasa hidup, ya dengan menolong orang lain. Saya akan terus berjuang,” kata Sarah.

Masa kuliah Sarah yang terbilang lama ini, bukan tanpa alasan. Dia mengambil cuti kuliah selama 1,5 tahun.

Mendirikan Sekolah Alternatif

Pada masa cuti itu, dia mendirikan sekolah alternatif, mengajar di daerah terisolir dan pedalaman seperti di Kabupaten Agam, Taluok Duo, Kabupaten Pesisir dan Kabupaten Solok.

Semua daerah itu jauh dari Kota Padang, tempat dia dan ibunya tinggal. Untuk mengakses tempat-tempat itu, Sarah mengajar setidaknya membutuhkan waktu 5-6 jam perjalanan.

Sekolah alternatif yang dia bangun untuk mengedukasi anak-anak terkait ancaman kekerasan seksual. Angka kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Sumatra Barat sangat tinggi, yakni 10.247 kasus di tahun 2022.

“Saya mengajar dengan sederhana dengan cara mendongeng dan puisi, terkait apa yang boleh dan tidak boleh dipegang kepada anak-anak,” kata Sarah bersemangat.

Saat mengajar di sekolah alternatif, Sarah terkadang nomaden dan tinggal selama 1-2 bulan di rumah warga.

Untuk mendekati anak-anak agar aktivitas sekolah berjalan, Sarah awalnya melakukan pendekatan terhadap orang tua. Sehingga agar kedekatan itu bisa mengikat kuat, Sarah harus bekerja bersama ibu-ibu dengan menjala ikan dan mengangkut pasir.

Pembiayaan aktivitas sekolah alternatif ini menggunakan dana pribadi Sarah. Untuk mendapatkan uang itu, dia mengamen di pantai dengan menyanyi dan membaca puisi.

Bahkan uang yang didapat dari tour membaca puisi ke berbagai daerah di Sumatra Barat, juga terpakai untuk membiayai sekolah alternatif-nya Sarah.

Korban Kekerasan Seksual

Mengapa Sarah melakukan semua ini? Sarah pernah mengalami kekerasan seksual pada usia enam tahun.

Tidak hanya itu, pada malam yang dingin di pasar, Sarah melihat seorang perempuan tunawicara menjadi korban rudapaksa dua orang lelaki. Ia menangis melihat perempuan itu tak berdaya dan trauma.

“Saya mengalami dan melihat langsung korban kekerasan seksual. Saya berpikir, semampu saya harus melakukan tindakan, agar perempuan dan anak-anak tidak menjadi korban kekerasan seksual,” kata Sarah lirih.

Tidak hanya berjuang untuk kelompok pedagang, perempuan dan anak-anak, saban pekan Sarah juga melakukan aksi Kamisan, untuk mendesak pemerintah mengusut tuntas kasus pelanggaran Hak Asasi Manuasia (HAM) berat masa lalu.

Selain itu, dirinya bersama kawan-kawan juga mendorong pemerintah menyelesaikan segera konflik agraria dan menghukum pelaku perampasan-perampasan ruang hidup masyarakat.

Sarah pun rutin mengikuti kelas menulis, perempuan rock n roll pembela HAM ini bertekad mengikuti kelas menulis agar tulisannya sama kuat dengan tekadnya untuk menyuarakan kebenaran.

Sarah tak pernah memiliki rasa takut terhadap apa pun. “Tidak ada kekuatan, yang bisa mengalahkan kebenaran,” tutup Sarah dengan tatapan penuh harapan.

Total
5
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts