Biaya Listrik Irit, Ekonomi PKL Bangkit

Era normal baru tahun ini bikin malam bebas kendaraan atau car free night yang rutin digelar setiap akhir pekan di kawasan Tugu Keris Kota Jambi, bergeliat kembali. Ekonomi kecil para pedagang kaki lima yang berjualan di kawasan itu juga mulai bangkit.

Di sepanjang ruas Jalan Zainir Havis, tak jauh dari Tugu Keris Kota Jambi, terlihat gerobak-gerobak pedagang kaki lima berjejer dengan aneka jualannya mulai dari; makanan, pakaian, hingga mainan anak-anak ada di sana.

Beberapa pengunjung terlihat lalu lalang di sepanjang jalan itu. Terkadang mereka mampir untuk membeli. Riuh ramai orang-orang saling bercengkrama dengan rombongannya.

Lampu-lampu bolham yang digantung di gerobak pedagang, sorotnya berpencar menerangi malam. Sinar lampu pedagang kaki lima itu bersumber itu dari Stasiun Pengisian Listrik Umum Mobile (SPLU-M) yang dipasang oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Para pedagang di sana sejak setengah tahun ini telah resmi memanfaatkan aliran setrum milik negera itu. Mereka kini tak lagi menggunakan penerangan yang bersumber dari mesin genset dan aki.

Bagaimana listrik menumbuhkan ekonomi pedagang kecil di kawasan itu, simak laporan jurnalis Kilasjambi.com, Hidayat.

***

Berjalan di antara riuh orang dan gemerlap lampu di kawasan itu, beberapa pengunjung terlihat melipir ke salah satu gerobak milik Rahman (30) yang menjual aneka minuman es siap saji.

Di atas gerobak dagangannya itu sebuah perangkat blender jarang mandek berderu memblender es. Akhir pekan malam itu, minuman cepat saji pop ice dan aneka jus yang ia jual di dekat bundaran Tugu Keris, Kota Jambi, ramai oleh pembeli.

Beberapa orang yang bervakansi di kawasan malam bebas kendaraan itu tampak menunggu pesanan minuman pop ice di lapak Rahman. Malam itu dia harus dibantu adik perempuannya untuk melayani pembeli yang sedang ramai itu.

Seorang pedagang di kawasan Tugu Keris, Kota Jambi, sedang memblender minuman siap saji. (kilasjambi.com/Hidayat)

Rahman, satu di antara para pedagang kaki lima di kawasan itu turut memanfaatkan setrum dari SPLU-M untuk menggerakan pisau blender dan penerangannya saat berjualan.

“Saya berjualan di sini sudah selama empat tahun,” ujar Rahman ketika ditemui Kilasjambi.com, Sabtu 18 Desember 2021.

Selama tiga tahun setengah sebelum memanfaatkan listrik dari SPLU-M itu, Rahman harus merogoh kocek yang lebih besar untuk modal jualan. Setiap jualan ia harus mengeluarkan biaya bahan bakar untuk mengidupkan mesin genset penghasil setrum listrik.

Genset kata dia, menjadi andalan pedagang kaki lima saat berjualan malam hari. Saat apes terkadang biaya modal untuk penerangan bisa lebih besar lagi untuk biaya perawatan.

“Untuk menghidupkan genset itu membeli bahan bakar 2 liter, dalam satu malam untuk operasional itu mencapai Rp25 ribu. Dulu kalau genset rusak pusing pengeluaran jadi besar,” kata Rahman.

Kini hampir setengah tahun, dagangan Rahman telah berpaling dari deru mesin dan asap kenalpot genset. Dia beralih memanfaatkan listrik dari SPLU-M.

Rahman mengaku dengan memanfaatkan listrik tersebut pengeluaran untuk modal jualannya lebih irit. Selain itu ia tidak perlu lagi bersusah payah memboyong mesin genset ke lokasi jualannya.

Dalam satu malam, ia sekarang hanya cukup merogoh modal Rp15 ribu untuk operasional menghidupkan lampu penerangan dan blender.

Meski ia hanya berjualan aneka minuman es siap saji yang dilumat menggunakan pisau belender, kini berangsur-angsur, omset penjualan Rahman merangkak naik. Dengan senyum menyungging Rahman berkata. “Semalam itu kita bisa dapat uang Rp300 ribu.”

Sejalan dengan itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Jambi mencatat, laju pertumbuhan ekonomi Jambi pada triwulan III tahun 2021 tumbuh 5,91 persen (years on years) dengan share 6,45 persen. Pertumbuhan ini didorong dengan kebijakan pelonggaran aktivitas masyarakat.

Pelonggaran aktivitas masyarakat berdampak meningkatnya konsumsi listrik juga mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah ini.

Listrik Membantu Pedagang Kaki Lima

Ketua Paguyuban PKL di kawasan Tugu Keris Kota Jambi Oman Rohman NH, menunjukan SPLU-M yang dimanfaatkan PKL di kawasan Tugu Keris, Kota Jambi. (kilasjambi.com/Hidayat)

Kehadiran SPLU-M di kawasan malam bebas kendaraan menjadi terobosan baik untuk mendongkrak ekonomi kecil. Pedagang kaki lima yang jualan pada malam hari sangat tergantung pada sumber energi listrik yang murah dan ramah.

“Kami sebagai pedagang kecil ini sangat terbantu sekali karena bisa mengurangi pengeluaran kami untuk biaya listrik,” ujar Rahman.

Dalam mengakses SPLU-M itu kata Rahman, sangat mudah. Saluran ini terpasang tak begitu jauh dari gerobak-gerobak pedagang. Para pedagang hanya cukup urun dana untuk membeli token. Satu unit stasiun listrik tersebut bisa diakses oleh 15 pedagang.

Mereka akan patungan untuk biaya membeli token listrik. Seorang pedagang akan dikenakan biaya Rp5 ribu untuk satu lampu. Tapi jika pedagang ada alat tambahan seperti kompor induksi dan blender akan dikenakan biaya tambahan Rp10 ribu.

“Kami 15 pedagang ini biasanya ngeluarin biaya Rp100 ribu membeli token untuk dua minggu pemakaian. Ini tidak membebani pedagang karena kita sistemnya patungan, jadi ada budaya gotong royong juga,” kata Rahman.

Sementara itu, Ketua Paguyuban PKL di kawasan Tugu Keris Kota Jambi Oman Rohman NH mengatakan, geliat ekonomi pedagang sekarang mulai tumbuh kembali. Dia mengapresiasi layanan SPLU-M di Kota Jambi yang diluncurkan pada waktu tepat, yang mana saat pemberlakuan era normal baru.

Setelah mengakses layanan listrik negara, para pedagang di kawasan itu semakin menghemat tarif bahan bakar minyak untuk operasional lampu penerangan. Hal ini kata dia, turut mendongkrak omset pedagang.

Sebelumnya untuk penggunaan genset bisa menghabiskan biaya Rp15 ribu per hari. Nilai ini kata dia, jika dikonversikan ke dalam kWh listrik, biaya Rp15 ribu diperkirakan bisa digunakan selama 4 hari.

Dia mengatakan, saa ini di kawasan tersebut terdapat sebanyak 160 lapak PKL yang memanfaatkan aliran listrik negara itu. Tercatat saat ini terpasang 10 titik SPLU-M di sepanjang ruas jalan malam bebas kendaraan di kawasan Tugu Keris Kota Jambi.

“Saya rasa dari 10 SPLU-M ini semua pedagang di sini sudah bisa mengaksesnya, cukup dengan isi token saja,” ujarnya.

Kehadiran SPLU-M itu menurut dia, selain membantu menghemat operasional, juga berdampak pada berkurangnya suara bising dan asap knalpot dari mesin genset.

Dulu ketika pedagang masih menggunakan genset, suasana di kawasan malam bebas kendaraan itu campur aduk, mulai dari suara bising dan kepulan asap knalpot genset tak dapat dihindari.

“Sekarang setiap malam saat akhir pekan di kawasan ini sudah bebas polusi kendaraan bermotor, juga bebas dari polusi dan bising suara genset. Istilahnya sekarang lebih ramah lingkungan,” kara Rahman.

Sekretaris Daerah Kota Jambi A. Ridwan mengatakan, hadirnya layanan SPLU-M merupakan bentuk sinergitas antara Pemerintah Kota Jambi dengan PLN untuk memenuhi energi listrik yang murah dan ramah sehingga menjadi katalisator perekonomian daerah.

“Sinergi ini penting karena salah satu kepedulian pihak perusahaan terhadap masyarakat. Layanan SPLU-M itu tentu sangat memudahkan dan efisien,” katanya.

Kehadiran SPLU-M kedepan juga bisa menjadi cikal bakal untuk pengisian setrum kendaraan listrik. Dengan banyak yang memanfaatkan energi listrik semakin bedampak untuk penguarangan polusi udara.

Kota Hijau dengan Listrik

Pengunjung car free night berjalan di antara pedagang kaki lima di kawasan Tugu Keris, Kota Jambi. PKL di kawasan itu memanfaatkan setrum yang berasal dari SPLU-M yang dipasang PLN. (kilasjambi.com/Hidayat)

Medio 2021 lalu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah meresmikan SPLU-M PADA 10 titik di sepanjang ruas jalan kawasan car free night, tepatnya di Tugu Keris Kota Jambi.

Layanan SPLU-M itu menjadi bentuk dukungan perushaan setrum negara dalam merealisasikan program Smar Green City di Tanah Pilih Pusako Betuah–julukan Kota Jambi, ibu kota Provinsi Jambi.

Peresmian itu dihadiri langsung oleh General Manager PLN Unit Induk Wilayah Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (UIW S2JB), Bambang Dwiyanto.

Smart Green City with Electricity (kota hijau pintar dengan listrik), begitu tema yang diusung. Dalam kesempatan itu Bambang menjelaskan implementasi dari program ini diyakini akan berdampak pada penghematan operasional yang dikeluarkan pedagang.

“Ini tujuannya bukan untuk boros energi listrik, tapi untuk hemat energi. Seperti ini tadi kita akan menghemat biaya BBM ketika kita beralih ke SPLU-M dan untuk biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih hemat,” kata Bambang saat meresmikan SPLU-M di kawasan Tugu Keris Kota Jambi, Senin 7 Juni 2021.

Saat ini di kawasan car free night tersebut telah terpasang 10 unit SPLU-M di sepanjang ruang jalan kawasan Tugu Keris. Satu unit SPLU-M terpasang dengan daya 5.500 volt ampere (VA).

Hadirnya listrik PLN dalam bentuk mobile itu kata Bambang, dapat menggantikan penggunaan gas 3 kilogram dan penggunaan genset yang menghabiskan biaya 15 ribu per hari. Jika dikonversikan ke dalam kWh listrik, biaya 15 ribu diperkirakan bisa digunakan selama 4 hari.

Kedepan PLN akan menambah layanan SPLU-M di beberapa titik di Kota Jambi yang terdapat pusat UMKM seperti di daerah Ancol Jambi, Jalan Sumantri Brojonegoro, Area Danau Sipin.

Dalam peresmian itu, PLN juga memperkenalkan Electricity Lifestyle yang mengusung tema “Masak Cantik dengan Kompor induksi” kepada para pedagang kaki lima di kawasan itu.

Gelaran itu membuat antusiasme yang tinggi ditunjukkan oleh para pengunjung. Mereka juga turut mencoba secara langsung penggunaan kompor induksi.

“PLN akan terus memberikan pelayanan terbaik dan menjadi solusi energi bagi masyarakat agar dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas,” demikian Bambang.

Reporter: Hidayat

Editor: Gresi Plasmanto

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts